Distrik Haight-Ashbury di San Francisco adalah sebuah realitas yang hidup. Di satu sisi, ia adalah monumen bagi era Hippie[82] yang sudah memudar, penuh dengan toko-toko baju bekas berwarna pelangi dan aroma ganja yang sesekali tertiup angin laut. Di sisi lain, ia adalah labirin bagi para pencari—mereka yang terusir dari kenyamanan dogma dan mencari perlindungan di balik tumpukan literatur.
Yos berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang tidak lagi terburu-buru. Kabut pagi mulai tersingkap, menyisakan aspal yang lembap dan pantulan sinar matahari yang malu-malu. Tujuannya bukan untuk berwisata, melainkan untuk melarikan diri dari kesunyian apartemennya yang kian hari kian terasa mencekik. Ia membutuhkan suara lain selain suara di dalam kepalanya yang terus-menerus memutar rekaman amarah dari masa lalu.
Langkahnya terhenti di depan sebuah toko buku dengan papan nama kayu yang sudah retak "The Lost Parchment". Jendela depannya tertutup tumpukan buku yang disusun serampangan, menciptakan benteng kertas yang menghalangi pandangan ke dalam. Yos mendorong pintu kayu yang berat itu, memicu denting lonceng kecil yang suaranya terdengar seperti peringatan dari masa silam.
Aroma kertas tua, debu, dan sedikit wangi kayu cendana segera menyergap indranya. Toko itu sempit, dengan lorong-lorong yang dihimpit oleh rak setinggi langit-langit yang tampak seolah bisa runtuh kapan saja. Di balik meja kasir yang penuh dengan tumpukan manuskrip, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang berantakan dan kacamata bulat yang bertengger di ujung hidungnya. Ia tampak seperti seorang eksentrik yang sudah kehilangan kontak dengan dunia modern.
"Mencari jawaban atau sekadar mencari tempat sembunyi?" suara pria itu parau namun dalam, tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebal di depannya.
Yos tertegun sejenak. "Mungkin keduanya," jawabnya jujur.
Pria itu mendongak, matanya yang tajam menatap Yos dari balik lensa kacamata. "Lorong ketiga di sebelah kiri adalah bagian teologi dan filsafat komparatif. Hati-hati, buku-buku di sana terkadang lebih berat daripada kelihatannya."
Yos mengangguk kecil dan melangkah ke arah yang ditunjuk. Lorong itu remang-remang, hanya diterangi oleh sebuah lampu bohlam kuning yang berayun pelan. Ia menyusuri barisan buku, jemarinya meraba punggung buku-buku lama yang terbuat dari kulit dan kain. Di sini, ia merasakan sebuah sacred silence[83]—sebuah keheningan yang suci, yang jauh berbeda dari kesunyian kosong di apartemennya.
Matanya kemudian tertuju pada sebuah rak kayu yang terletak di sudut paling gelap. Di sana, seolah-olah sudah diatur oleh takdir yang sinis, berdiri dua buah buku besar dengan sampul kain berwarna gelap yang sangat kontras.
Di sebelah kiri adalah The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary[84] karya Abdullah Yusuf Ali, cetakan lama dengan huruf emas yang sudah memudar. Dan tepat di sebelahnya, bersandar dengan akrab, adalah The Holy Bible: King James Version[85] dengan pinggiran kertas berwarna merah tua yang sudah mulai menghitam.
Yos merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Selama di Indonesia, ia melihat kedua kitab ini sebagai dua kutub yang saling menghancurkan. Di jalanan Jakarta, keduanya adalah panji-panji yang dikibarkan oleh massa yang saling membenci. Di tangan Hardianto, yang satu menjadi perisai korupsi; di tangan Pendeta Samuel, yang lainnya menjadi alat penghisap jemaat. Namun di sini, di rak toko buku bekas di Haight-Ashbury, keduanya bersanding dalam sebuah theological solidarity[86] yang sunyi.
Ia mengambil buku Yusuf Ali terlebih dahulu. Beratnya terasa nyata di tangannya. Ia membukanya dengan ragu, khawatir akan menemukan kosa kata "kiamat" yang monoton yang selama ini ia hujat. Namun, saat matanya mulai memindai catatan kaki (commentary) yang memenuhi hampir separuh halaman, Yos terpaku.
Ia membuka surat Al-Qari'ah, bagian yang dulu ia coret-coret dengan tinta warna merah di kitab kakeknya. Di sini, Yusuf Ali tidak menggunakan kata yang dangkal. Ia menggunakan istilah The Day of noise and clamour[87]. Yos membaca penjelasannya, bagaimana kata itu menggambarkan sebuah kondisi di mana manusia kehilangan arah, seperti laron yang berterbangan, karena guncangan batin yang luar biasa.