The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #11

Chapter 11: Tamparan Linguistik

Malam itu, musim gugur di San Francisco mulai menunjukkan taringnya. Angin dingin menyelinap melalui celah jendela apartemen Yos, membawa aroma laut yang asin dan dingin yang menggigit tulang. Di atas meja belajar yang hanya diterangi oleh lampu pijar kekuningan, Yos duduk mematung. Di hadapannya, terbuka lebar The Holy Qur’an edisi Abdullah Yusuf Ali yang ia beli di Haight-Ashbury kemarin.

​Yos tidak sedang membaca dengan santai. Ia sedang melakukan apa yang ia sebut sebagai cross-linguistic audit[95]—sebuah audit lintas bahasa. Ia meletakkan kitab kakeknya yang penuh coretan tinta merah di sisi kiri, dan terjemahan Yusuf Ali di sisi kanan. Ia ingin mencari kesalahan, ingin mencari celah untuk tetap membenci. Namun, apa yang ia temukan malam itu justru terasa seperti sebuah tamparan keras tepat di wajahnya. Sebuah tamparan yang tidak meninggalkan lebam fisik, namun meruntuhkan seluruh struktur kesombongan intelektual yang ia bangun di Jakarta.

​Matanya tertuju pada Surat Al-Qari'ah. Di kitab Indonesia miliknya, kata itu diterjemahkan secara monoton: "Hari Kiamat". Judulnya "Hari Kiamat", ayat pertamanya "Hari Kiamat", dan penjelasannya tentang hari kehancuran dunia. Selama ini, Yos menghujat diksi tersebut. Ia menganggapnya sebagai bukti bahwa bahasa agama di negerinya telah mengalami semantic flattening[96] atau pendataran makna, di mana setiap kengerian akhir zaman diringkas menjadi satu istilah birokratis yang kering agar mudah dipakai untuk menakut-nakuti rakyat.

​Namun, saat ia membaca baris Inggris karya Yusuf Ali, ia terkesiap.

​"The (Day) of Noise and Clamour..."

​Yos membacanya sekali lagi. Pelan. "The Noise and Clamour". Kegaduhan dan Teriakan.

​Ia memejamkan mata sejenak. Kata-kata itu tidak merujuk pada sebuah peristiwa administratif tentang berakhirnya dunia. Kata-kata itu merujuk pada sebuah kondisi psikologis. Sebuah guncangan yang begitu dahsyat hingga membuat manusia kehilangan kosa kata, kehilangan arah, dan hanya bisa berteriak dalam kebisingan yang memekakkan telinga.

​"Tuhan," bisik Yos, suaranya parau. "Diksi ini... jauh lebih jujur."

​Ia menyadari bahwa selama di Indonesia, ia telah menjadi korban dari translation bias[97] atau bias penerjemahan yang dilakukan secara sistemik. Para birokrat agama di negerinya telah menjinakkan teks ini. Mereka mengubah "kegaduhan yang mengguncang jiwa" menjadi "kiamat" yang terdengar seperti jadwal kereta api yang pasti datang tapi jauh. Dengan mengubahnya menjadi istilah teknis, mereka menghilangkan kekuatan transformatif dari teks tersebut.

​Yos merasakan sebuah linguistic slap[98] atau tamparan linguistik yang membuatnya tersadar. Kebenciannya selama ini terhadap "kekurangan kosa kata Tuhan" ternyata adalah salah alamat. Bukan Tuhannya yang kekurangan kata, melainkan para penerjemah di negerinya yang kekurangan imajinasi dan keberanian untuk menghadirkan kengerian yang estetis. Mereka memilih keamanan diksi daripada kejujuran makna.

​Ia mulai membolak-balik halaman lain. Ia menemukan kata Al-Ghasyiyah. Di Indonesia: "Hari Pembalasan". Di tangan Yusuf Ali "The Overwhelming Event"[99]. Peristiwa yang Meliputi Segalanya. Lagi-lagi, sebuah nuansa yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dihindari, yang mengepung kesadaran manusia dari segala arah.

Lihat selengkapnya