Perpustakaan Universitas San Francisco menjadi tempat persembunyian Yos yang paling setia saat musim gugur mulai meluruhkan daun-daun maple di sepanjang Golden Gate Park. Di ruangan yang langit-langitnya tinggi dengan jajaran buku-buku teologi kuno yang aromanya seperti campuran debu dan kebijaksanaan abadi, Yos merasa seperti seorang arkeolog yang sedang menggali sisa-sisa reruntuhan jiwanya sendiri.
Di hadapannya, tiga buku besar terbuka membentuk segitiga. The Holy Qur'an karya Yusuf Ali, sebuah Alkitab Yunani-Inggris interlinear, dan sebuah buku tebal tentang filsafat Helenistik. Yos sedang mengejar sebuah konsep yang selama ini ia dengar di mimbar gereja namun terasa hambar yaitu Logos[108].
Di Jakarta, Pendeta Samuel sering menggunakan kata "Logos" seolah-olah itu adalah nama merek sebuah produk rohani yang eksklusif. "Terimalah Logos, maka hidupmu akan diberkati," katanya dengan suara yang bergetar. Namun di sini, di bawah cahaya lampu meja yang remang, Yos menemukan bahwa Logos jauh lebih berbahaya dan lebih dalam daripada sekadar jargon khotbah hari Minggu.
Ia membuka Injil Yohanes pasal pertama. "In the beginning was the Word..."[109]. Kata "Word" di sana adalah Logos. Dalam tradisi Yunani, Logos bukan sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan prinsip akal budi yang mendasari seluruh alam semesta. Ia adalah keteraturan, logika, dan kebenaran yang objektif.
Yos kemudian melirik ke arah terjemahan Yusuf Ali yang ia tandai. Ia menemukan sebuah kemiripan pola yang membuatnya merinding. Saat teks tersebut bicara tentang ketetapan Tuhan atau perintah yang menciptakan realitas, ada getaran yang sama dengan prinsip Logos. Ia menyadari adanya sebuah universal logic[110] atau logika universal yang melintasi batas-batas dogmatis.
Namun, saat ia teringat bagaimana teks-teks ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di negerinya, rasa mual mulai merayap di perutnya. Ia merasa telah mengalami systemic betrayal[111] atau pengkhianatan sistemik dari para penerjemah dan otoritas agama di tanah airnya.
"Kalian membunuh Logos," bisik Yos, jemarinya gemetar menyentuh halaman buku. "Kalian mengganti 'Kebenaran yang Menggetarkan' dengan 'Aturan yang Menenangkan'."
Di negerinya, Logos telah disunat. Ia tidak lagi dibiarkan menjadi kekuatan yang menggugat struktur kekuasaan atau kemunafikan karakter manusia. Para penerjemah telah melakukan semantic castration[112]. Mereka mengubah teks-teks yang seharusnya menjadi api yang membakar nurani menjadi air yang memadamkan daya kritis.
Yos teringat bagaimana istilah "kiamat" yang ia bedah di catatan sebelumnya telah menumpulkan insting kemanusiaannya. Jika Logos adalah kebenaran yang menyingkap segala sesuatu, maka terjemahan di negerinya adalah selubung yang menutupi segala sesuatu. Mereka ingin rakyat tetap patuh, tetap dalam barisan, dan tetap memberikan persembahan tanpa pernah bertanya: "Mengapa Tuhan bicara tentang keadilan dengan cara yang begitu puitis namun tajam?"
Ia merasa dikhianati karena selama ini ia dididik untuk membenci berdasarkan diksi yang salah. Ia membenci mayoritas karena ia pikir kitab mereka adalah sumber kebodohan, padahal yang bodoh adalah cara kitab itu disajikan. Ia merasa tertipu karena gerejanya sendiri menggunakan istilah-istilah Yunani tanpa pernah memberikan kedalaman maknanya, hanya menggunakannya sebagai spiritual branding[113] untuk menarik jemaat.