The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #13

Chapter 13: Muhammad Asad Jembatan bagi Skeptis.

Hujan menderu di luar jendela apartemen kawasan Sunset, San Francisco, menciptakan irama yang monoton di atas atap seng. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu meja temaram, Yos duduk bersila di lantai, dikelilingi oleh tumpukan buku yang kian hari kian menggunung. Malam ini, sebuah buku tebal bersampul hitam dengan huruf perak yang elegan tergeletak di hadapannya The Message of the Qur'an karya Muhammad Asad.

​Yos mendapatkan buku ini dari seorang profesor di departemen Informatics yang memperhatikan ketertarikan anehnya pada linguistik teologis. "Jika kau menyukai logika dan struktur, bacalah pria ini," kata sang profesor. Yos, yang awalnya skeptis, kini merasa seperti sedang menggenggam sebuah cognitive key[122] yang mampu membuka gembok-gembok karat di kepalanya.

​Ia mulai membaca pengantar buku tersebut. Muhammad Asad, seorang Yahudi kelahiran Austria yang kemudian memeluk Islam dan menghabiskan sisa hidupnya mencoba menjelaskan Timur kepada Barat, segera mencuri perhatian Yos. Asad bukan sekadar penerjemah; ia adalah seorang rationalist visionary[123]. Ia tidak meminta pembacanya untuk percaya secara buta. Sebaliknya, ia menantang akal budi untuk membedah setiap metafora.

​Yos membalik halaman ke arah surat-surat yang dulu ia anggap sebagai "celah kebodohan". Kali ini, ia tidak menemukan bahasa yang kaku atau ancaman-ancaman kering. Lewat catatan kaki Asad yang sangat panjang dan mendetail, Yos menemukan sebuah dunia di mana iman dan logika tidak saling mematikan, melainkan saling menopang dalam sebuah intellectual symbiosis[124].

​"Ini bukan bahasa para birokrat Jakarta," gumam Yos, matanya membesar saat membaca penjelasan Asad tentang ayat-ayat alegoris.

​Selama ini, Yos membenci konsep neraka dan hari akhir yang digambarkan secara harfiah oleh kaum mayoritas di Indonesia. Ia menganggapnya sebagai spiritual terrorism[125] yang digunakan untuk mengontrol massa yang tidak berpendidikan. Namun, Asad menjelaskan bahwa penggambaran fisik tersebut adalah symbolic language[126] untuk menjelaskan kondisi spiritual yang melampaui pemahaman manusia. Asad berargumen bahwa Tuhan berbicara kepada manusia menggunakan perumpamaan yang bisa ditangkap oleh indra, namun esensinya jauh lebih dalam daripada sekadar api atau taman.

​Tembok kebencian di hati Yos mulai retak. Ia menyadari bahwa kemarahannya selama ini adalah sebuah misdirected anger[127] atau amarah yang salah sasaran. Ia tidak membenci teksnya; ia membenci interpretasi picik yang ia temui di jalanan Jakarta. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah menjadi seorang intellectual hostage[128] dari narasi-narasi lokal yang sempit.

​"Jika Asad yang seorang Eropa bisa melihat keindahan logika ini, mengapa di negeriku semuanya menjadi begitu kasar dan menindas?" Yos menuliskan pertanyaan itu dengan tinta hitam di buku catatannya.

Lihat selengkapnya