Malam musim gugur di perpustakaan utama universitas terasa lebih hidup dari biasanya. Di sebuah meja panjang yang tersembunyi di balik rak-rak tebal literatur Timur Tengah, Yos tidak lagi duduk sendirian. Di hadapannya, seorang pria muda berperawakan jangkung dengan berewok tipis yang rapi bernama Omar sedang sibuk menandai sebuah teks dengan pena stabilo. Omar adalah mahasiswa pascasarjana bidang hukum internasional asal Pakistan yang memiliki kegemaran yang sama dengan Yos yaitu membongkar struktur kebenaran di balik retorika agama yang usang.
Pertemuan mereka bermula dari sebuah ketidaksengajaan di depan mesin kopi, saat Omar melihat Yos sedang memegang buku Muhammad Asad. Sejak saat itu, mereka membentuk sebuah kelompok kecil yang mereka sebut secara bercanda sebagai seekers' communion[135] atau Persekutuan Para Pencari.
"Kau tahu, Yos," kata Omar sambil menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. "Di negaraku, orang-orang menggunakan teks ini untuk melegitimasi kekerasan. Tapi jika kau membacanya dengan kacamata hukum, kau akan melihat bahwa ini adalah sebuah constitutional framework[136] untuk keadilan, bukan manual untuk kebencian."
Yos mengangguk, ia membuka laptopnya dan memperlihatkan draf analisis data yang ia kerjakan kepada Omar. Sebagai mahasiswa Informatics, Yos mulai mencoba memetakan kaitan antara kata-kata dalam Al-Qur’an dengan cara yang sama seperti seorang pengembang membedah source code[137]. Ia ingin melihat logika di balik perintah-perintah moral tersebut.
"Omar mari kita ambil contoh Surat An-Nisa," usul Yos. "Di tempatku di Indonesia, bagian ini sering digunakan untuk membenarkan dominasi laki-laki. Tapi mari kita bedah strukturnya seperti kita membedah hukum konstitusi."
Mereka berdua mulai bekerja. Omar membawa perspektif legal hermeneutics[138], sementara Yos membawa ketajaman analisis struktur data. Mereka tidak lagi melihat teks itu dengan emosi yang meluap-luap seperti saat Yos berada di Jakarta. Mereka melihatnya sebagai sebuah sistem yang memiliki Input, Process, dan Expected Output.
"Lihat ini," Omar menunjuk sebuah ayat. "Ini bukan perintah mutlak tanpa syarat. Ini adalah conditional clause[139]. Jika syarat A tidak terpenuhi, maka hukum B tidak berlaku. Di banyak negara Muslim, orang-orang hanya mengambil kesimpulannya tanpa membaca prasyaratnya. Itu adalah penipuan intelektual."
Yos terdiam. Ia teringat bagaimana Hardianto sering mengutip ayat-ayat tertentu untuk menjustifikasi kebijakan yang menindas minoritas. Hardianto selalu menghilangkan bagian prasyarat moralnya dan langsung melompat pada klaim kebenaran. Itu adalah sebuah logical fallacy[140] yang dipelihara untuk menjaga kekuasaan.