Angin San Francisco malam itu bertiup lebih kencang, membawa kabut yang menyelinap lewat celah-celah jendela apartemen Yos. Di atas meja belajarnya, tumpukan buku teologi dan catatan riset Informatics kini berbagi ruang dengan draf novelnya yang semakin menebal. Yos duduk terdiam, memutar-mutar pena hitam di jemarinya. Ia merasakan sebuah pergeseran lempengan tektonik di dalam batinnya—sebuah fase yang ia namakan sebagai sophisticated skepticism[148] atau skeptisisme yang telah mendewasa.
Jika setahun lalu di Jakarta ia membenci agama dengan cara yang vulgar dan reaktif, kini amarah itu telah bermutasi. Yos tetap memiliki rasa benci yang mendalam, bahkan mungkin lebih tajam, terhadap perilaku para oknum di Indonesia. Ia masih muak membayangkan Hardianto yang menggunakan ayat sebagai tameng korupsi, atau Pendeta Samuel yang memanipulasi emosi jemaat demi angka persembahan. Namun, ada satu hal yang kini berbeda secara radikal dimana Yos mulai jatuh cinta pada apa yang ia sebut sebagai "Kejujuran Teks".
"Kalian mengkhianati tulisan ini," gumam Yos sambil mengusap sampul buku karya Muhammad Asad yang kini sudah mulai terlihat usang karena sering dibaca.
Pencarian Yos di perpustakaan dan diskusinya dengan Omar telah membawanya pada sebuah kesimpulan pahit. Oknum-oknum di negerinya bukan sekadar salah paham; mereka melakukan linguistic sabotage[149]. Mereka mengambil sebuah teks yang penuh dengan kejujuran tentang kerapuhan manusia dan mengubahnya menjadi slogan politik yang angkuh. Yos mulai melihat bahwa teks asli dari kitab-kitab suci yang ia bedah justru memiliki sifat yang sangat skeptis terhadap kekuasaan manusia, sangat mirip dengan kegelisahan yang ia rasakan selama ini.
Ia menemukan bahwa "Kejujuran Teks" itu justru terletak pada kemampuannya untuk menelanjangi sifat dasar manusia. Saat teks tersebut bicara tentang ketidakadilan, ia tidak bicara dengan bahasa yang diplomatis. Ia bicara dengan bahasa yang pedas, puitis, dan penuh dengan moral clarity[150]. Ini adalah penemuan yang ironis bagi Yos. Ia yang selama ini merasa dirinya sebagai seorang pemberontak terhadap Tuhan, justru menemukan bahwa Tuhan (dalam teks yang jujur) adalah pemberontak nomor satu terhadap kemunafikan institusi agama.
"Aku tidak membenci pesan-Mu," tulis Yos di sebuah halaman kosong. "Aku membenci cara mereka mengecilkan pesan-Mu menjadi seukuran kepentingan perut mereka."
Skeptisismenya kini tidak lagi ditujukan untuk meruntuhkan eksistensi Tuhan, melainkan untuk melakukan institutional deconstruction[151]. Ia mulai memisahkan antara "Yang Ilahi" dengan "Yang Birokrasi". Yos menyadari bahwa selama ini ia terjebak dalam category error[152]. Ia menganggap kejahatan Hardianto sebagai kesalahan agama, padahal itu adalah murni kegagalan karakter manusia yang kebetulan mengenakan atribut agama.
Di Amerika, Yos belajar untuk memiliki analytical detachment[153]. Ia bisa duduk berjam-jam di kedai kopi kawasan Richmond, membaca literatur kritis tanpa merasa perlu meledak-ledak. Ia melihat agama-agama di Indonesia dari kejauhan sebagai sebuah power play[154] yang sangat primitif. Ketertarikannya pada "Kejujuran Teks" memberinya kekuatan untuk melihat melampaui kebisingan politik. Ia mulai menikmati bagaimana sebuah ayat bisa memiliki struktur logika yang begitu indah, yang menuntut integritas pribadi di atas segalanya.
"Ini adalah algoritma moral yang paling sulit dijalankan," batin Yos saat ia memetakan konsep keadilan dalam Al-Qur'an dan Alkitab menggunakan diagram alir di laptopnya.