The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #16

Chapter 16: Mimpi tentang Sagara

Malam itu, San Francisco seolah tenggelam dalam lautan perak. Kabut Advection[160] merayap turun dari puncak Twin Peaks, menyelimuti jalanan Sunset District hingga lampu-lampu jalan hanya tampak seperti pendaran hantu. Di dalam apartemennya, Yos duduk membeku di depan layar laptop yang memancarkan cahaya biru pucat. Jemarinya diam di atas papan ketik, namun di dalam kepalanya, sebuah dunia sedang dibangun dan dihancurkan secara bersamaan.

​Ia sedang menuliskan tulisan penutup untuk bagian dekonstruksi dalam catatan pribadinya, yang kini telah bermutasi menjadi draf tulisan berjudul Sagara. Sagara bukan sekadar nama fiktif; bagi Yos, itu adalah personifikasi dari tanah air yang ia tinggalkan Indonesia—sebuah negeri yang kaya akan air namun kering akan kejujuran. Di Sagara, wahyu tidak turun untuk membebaskan manusia, melainkan untuk diarsipkan, distempel, dan diperjualbelikan oleh para birokrat langit.

​"Mimpi tentang Sagara," ketik Yos pelan.

​Ia mulai menggambarkan adegan pembuka tulusannya. Di sebuah kota bernama Al-Maut, terdapat sebuah gedung pencakar langit tanpa jendela yang disebut sebagai Menara Kanonik. Di sana, ribuan juru tulis bekerja siang dan malam untuk menyaring setiap kata yang turun dari langit. Jika ada kata yang mengandung terlalu banyak "api" keadilan, mereka akan meredamnya dengan tinta dingin birokrasi. Jika ada kata yang terlalu "terang" hingga mampu menyingkap borok penguasa, mereka akan menutupinya dengan selapis dogma yang membingungkan.

​Yos menyadari bahwa apa yang ia tulis adalah sebuah institutional critique[161] yang pedas. Ia tidak lagi menyerang Tuhan; ia menyerang administrasi-Nya yang korup di bumi. Lewat karakter utamanya dalam novel tersebut, yang ia beri nama The Outcast[162], Yos menumpahkan seluruh kegelisahan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun di Surabaya dan Jakarta.

​"Di suatu tempat bernama Sagara," tulis Yos, "wahyu adalah barang sitaan. Kau tidak boleh membacanya tanpa izin dari pemegang kunci. Dan pemegang kunci itu adalah orang-orang seperti Hardianto, yang menggunakan ayat-ayat suci untuk membungkus transaksi kotor mereka di bawah meja."

​Ini adalah fase intellectual reconstruction[163] bagi Yos. Setelah berbulan-bulan membongkar segala asumsinya lewat karya Yusuf Ali, Muhammad Asad, dan diskusi dengan Omar, ia kini mulai menyusun kembali reruntuhan pikirannya menjadi sebuah narasi. Ia menyadari bahwa cara terbaik untuk melawan penindasan sistemik adalah dengan menunjukkan absurditasnya lewat fiksi.

​Ia mulai menulis tentang bagaimana birokrasi di Sagara membunuh ontological depth[164] atau kedalaman eksistensial dari setiap wahyu. Saat langit bicara tentang kasih yang tak terbatas, birokrasi Sagara mengubahnya menjadi formulir pendaftaran anggota jemaat. Saat langit bicara tentang pengorbanan, mereka mengubahnya menjadi angka-angka di buku kas gereja.

Lihat selengkapnya