The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #17

Chapter 17: Suara yang Mengetuk

Malam di San Francisco kali ini terasa lebih hening, seolah-olah semesta sedang menahan napas untuk memberikan ruang bagi Yos melakukan pembedahan paling krusial dalam hidupnya. Di atas meja kayu jati yang ia beli dari toko barang antik di Mission Street, terbentang lembaran-lembaran kertas kerja yang penuh dengan diagram alir dan analisis frekuensi kata. Yos tidak lagi sekadar membaca; ia sedang melakukan deep linguistic dissection[173] terhadap sebuah surat yang selama ini menghantuinya yaitu Al-Qari'ah.

​Selama puluhan tahun di Indonesia, kata "Al-Qari'ah" hanya mampir di telinganya sebagai sebuah ancaman meteor jatuh atau gempa bumi yang akan meluluhlantakkan bangunan. Namun, setelah melewati diaspora batin dan dekonstruksi di Amerika, Yos mulai melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan sekaligus membebaskan. Ia menemukan bahwa surat ini bukanlah traktat astronomi tentang kehancuran planet, melainkan sebuah manual psikologis tentang hancurnya ego manusia.

​"Al-Qari'ah," Yos mengeja kata itu dengan bibir yang gemetar. "Suara yang mengetuk dengan keras. Ketukan yang tidak bisa diabaikan."

​Ia mulai mengetikkan lanjutan draf untuk tulisannya. Ia tidak lagi menggunakan sudut pandang seorang korban, melainkan seorang analytical observer[174]. Ia membayangkan suara itu bukan sebagai dentuman fisik, melainkan sebagai sebuah frekuensi kebenaran yang begitu murni hingga mampu meretakkan cangkang kebohongan yang selama ini melindungi ego manusia.

​Di dalam kamarnya, Yos membedah struktur kata tersebut. Ia menemukan bahwa akar kata dari Qara'a melibatkan tindakan memukul sesuatu hingga mengeluarkan bunyi. Dalam konteks kesadaran, ini adalah sebuah cognitive shock[175]. Yos menyadari bahwa selama ini manusia, termasuk dirinya, hidup dalam sebuah "kenyamanan yang palsu". Kita membangun rumah dari opini, membentengi diri dengan status sosial, dan menggunakan agama sebagai satpam untuk menjaga ketenangan tidur kita.

​"Lalu Al-Qari'ah datang," tulis Yos dengan penuh penekanan. "Ia tidak menghancurkan gedung-gedungmu. Ia menghancurkan alasan-alasanmu. Ia mengetuk pintu batinmu dengan keras hingga kau tidak punya pilihan selain bangun dan menghadapi dirimu yang telanjang."

​Pembedahan ini membawanya pada sebuah perumpamaan yang sangat spesifik dalam teks tersebut dimana manusia yang seperti laron yang berhamburan (al-farash al-mabthuth). Di masa lalu, Yos melihat ini sebagai kekacauan fisik orang-orang yang berlarian ketakutan. Namun kini, lewat kacamata social informatics[176], ia melihatnya sebagai simbol dari hilangnya identitas kolektif yang semu.

​Laron berkerumun di sekitar cahaya yang salah, dan ketika cahaya itu hilang atau kegelapan sejati datang, mereka kehilangan arah. Yos menyadari bahwa masyarakat di negerinya—orang-orang seperti Hardianto, Pendeta Samuel, bahkan dirinya sendiri di masa lalu—adalah laron-laron yang berkerumun di sekitar cahaya "kekuasaan" dan "identitas kelompok". Ketika "Suara yang Mengetuk" itu datang, cahaya-cahaya palsu itu padam, dan manusia pun tercerai-berai karena mereka tidak pernah membangun cahaya di dalam diri mereka sendiri.

​"Hancurnya planet hanyalah dekorasi," gumam Yos. "Hancurnya ego adalah substansi."

Lihat selengkapnya