Lampu neon di ruang komputasi universitas berkedip pelan, memantul pada kacamata Yos yang mulai lelah. Di layar monitornya, sebuah dokumen berjudul "Kegagalan Diksi". Sebuah otopsi linguistik" terbuka dengan kursor yang berkedip menantang. Malam ini, Yos tidak sedang menulis kode pemrograman untuk tugas kuliahnya. Ia sedang merumuskan sebuah esai tajam yang telah mengendap di kepalanya sejak ia mendarat di San Francisco—sebuah kritik frontal terhadap apa yang ia sebut sebagai kemalasan intelektual dalam birokrasi agama di negerinya.
Yos menarik napas panjang, jemarinya mulai menari di atas papan ketik. Ia memulai tulisannya ini dengan satu premis yang berani, bahwa istilah "kiamat" yang dipaku mati oleh institusi seperti Kemenag adalah sebuah bentuk semantic poverty[186] atau kemiskinan semantik yang disengaja.
"Bagaimana mungkin," tulis Yos dalam esainya, "sebuah kata yang dalam bahasa aslinya memiliki ledakan onomatope dan getaran frekuensi yang begitu kaya, bisa diringkas menjadi satu istilah administratif yang hambar?"
Ia membandingkan teks terjemahan standar di Indonesia dengan istilah yang digunakan oleh para sarjana barat yang lebih berani, seperti The Striking Hour[187]. Bagi Yos, perbedaan antara "Kiamat" dan The Striking Hour bukan sekadar soal selera bahasa, melainkan soal existential impact[188]. "Kiamat" di telinga orang Indonesia telah menjadi sebuah kata benda yang statis—sesuatu yang jauh, abstrak, dan sering kali hanya menjadi bumbu khotbah untuk menakuti-nakuti anak kecil. Namun, The Striking Hour adalah sebuah kata kerja. Ia adalah sebuah peristiwa yang memukul, jam yang berdentang tepat di depan wajah, sebuah kejutan yang meruntuhkan segala kepalsuan.
"Kemenag telah melakukan linguistic sanitization[189]," ketik Yos dengan semangat yang meluap. "Mereka mensterilkan teks suci dari kengerian yang estetis agar lebih mudah dikelola secara birokratis. Mereka takut jika rakyat memahami Al-Qari'ah sebagai 'Suara yang Mengetuk Kesadaran', maka rakyat akan mulai mempertanyakan ketulian nurani para pejabatnya."
Yos menggunakan latar belakangnya di bidang Informatics untuk membedah masalah ini. Ia menganalogikan diksi "kiamat" sebagai sebuah lossy compression[190] dalam dunia digital. Sama seperti file audio yang dikompresi terlalu kecil sehingga kehilangan detail frekuensi tinggi dan rendahnya, terjemahan standar di Indonesia telah membuang detail-detail emosional dan filosofis dari Al-Qari'ah. Yang tersisa hanyalah "suara cempreng" yang tidak lagi mampu menggetarkan jiwa.
Ia mengingat masa-masanya di Surabaya, saat ia melihat spanduk-spanduk keagamaan di pinggir jalan. Semuanya menggunakan bahasa yang seragam, kaku, dan tanpa nyawa. Yos menyadari bahwa ini adalah bagian dari state-controlled narrative[191]. Dengan mengontrol diksi, negara mengontrol imajinasi rakyatnya tentang Tuhan dan akhir zaman. Jika akhir zaman hanya dipahami sebagai kehancuran planet, maka orang tidak akan merasa perlu melakukan dekonstruksi terhadap perilaku korup mereka hari ini.