The Red Margin

G Wira Negara
Chapter #19

Chapter 19: Anomali Karakter

Malam itu, gerimis tipis membasuh kaca jendela sebuah kedai kopi kecil di kawasan Inner Richmond. Aroma biji kopi panggang bercampur dengan bau aspal basah yang khas. Di sudut ruangan, Yos duduk berhadapan dengan Omar, sahabat Muslimnya yang sedang menempuh studi hukum. Di atas meja, dua cangkir espresso[198] yang sudah mendingin menjadi saksi bisu bagi sebuah percakapan yang lebih tajam dari aroma kopi di hadapan mereka.

​Yos baru saja selesai membacakan draf tulisannya tentang kegagalan diksi Kemenag. Ia terdiam sejenak, menatap Omar dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya besar yang selama ini menyumbat dadanya. Ada sebuah cognitive dissonance[199] atau ketidakselarasan kognitif yang sangat menyiksa Yos sejak ia mulai mendalami teks-teks Muhammad Asad dan Yusuf Ali di San Francisco.

​"Omar," suara Yos terdengar parau namun tegas. "Aku ingin bertanya satu hal yang mungkin terdengar sangat kasar, tapi aku tidak punya cara lain untuk mengatakannya."

​Omar menyandarkan punggungnya, memberikan ruang bagi Yos untuk meluap. "Katakan saja, Yos. Di sini tidak ada sensor birokrasi."

​"Kenapa teks kalian secerdas ini?" Yos menunjuk pada buku The Message of the Quran yang tergeletak di meja. "Kenapa literatur ini begitu kaya akan logika, begitu menghargai rationality[200], dan memiliki struktur keadilan yang sangat presisi? Tapi kenapa, di negeriku, banyak pengikutnya bersikap sebaliknya? Kenapa mereka menjadi sangat emosional, anti-logika, dan sering kali menggunakan agama untuk menindas? Kenapa ada anomali karakter yang begitu jauh antara kitab dan manusianya?"

​Pertanyaan itu menggantung di udara seperti asap yang sulit diurai. Yos merasa sedang menghadapi sebuah character anomaly[201] yang sangat besar. Ia teringat pada Hardianto di Jakarta—seorang pria yang mengaku pembela iman namun perilakunya jauh dari kecerdasan teks yang sedang Yos bedah.

​Omar terdiam cukup lama. Ia mengusap berewok tipisnya, matanya menatap kejauhan melampaui jendela kedai. "Yos, apa yang kau lihat di negerimu adalah sebuah cultural hijacking[202] atau pembajakan budaya terhadap teks suci. Kau sedang melihat sebuah fenomena di mana teks yang seharusnya menjadi kompas, diubah menjadi sekadar ornamen kekuasaan."

​Omar mulai menjelaskan dengan nada bicara seorang pakar hukum yang sedang membedah kasus besar. Ia menyebutkan bahwa masalah utamanya bukan pada teks, melainkan pada institutional decay[203] atau pembusukan institusional. Di banyak tempat, termasuk di Indonesia dan Pakistan, agama tidak diajarkan sebagai sebuah proses berpikir, melainkan sebagai sebuah identity marker[204] atau penanda identitas.

​"Ketika agama hanya menjadi label identitas," lanjut Omar, "orang tidak lagi peduli pada isi teksnya. Mereka hanya peduli pada siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi lawan. Mereka menggunakan teks sebagai senjata, bukan sebagai cermin. Itulah sebabnya mereka bersikap anti-logika; karena logika akan menelanjangi kemunafikan identitas mereka sendiri."

Lihat selengkapnya