Lampu meja di apartemen Yos masih menyala terang meski jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Di hadapannya, berserakan catatan mengenai sejarah Reformasi Gereja abad ke-16 berdampingan dengan teks-teks klasik teologi Timur. Yos sedang merenungkan sebuah konsep yang dulu ia dengar di bangku sekolah minggu namun kini memiliki urgensi baru yang sangat mendesak yaitu sola scriptura[214].
Dalam tradisi Protestan, prinsip ini adalah sebuah proklamasi kemerdekaan—bahwa otoritas tertinggi hanya ada pada teks suci, bukan pada hierarki gereja yang korup. Namun, saat Yos memandang kondisi di negerinya, ia melihat sebuah fenomena yang berbanding terbalik. Ia menyebutnya sebagai sola bureaucracy[215] atau sola birokrasi. Sebuah kondisi di mana umat, baik Kristen maupun Muslim, tidak lagi memiliki hubungan langsung dengan teks suci. Mereka telah menjadi budak dari tafsir tunggal para pemuka agama yang beraliansi dengan kepentingan politik.
"Sola scriptura vs Sola birokrasi," ketik Yos dengan jemari yang terasa dingin.
Ia mulai membedah bagaimana di Indonesia, seorang ustadz atau pendeta sering kali dianggap lebih suci daripada teks yang mereka baca. Jika seorang ustadz mengatakan bahwa "kiamat" hanyalah soal membenci kelompok lain, maka umat akan mengikutinya tanpa pernah membuka kamus atau merenungkan nuansa The Striking Hour yang baru saja Yos pelajari. Ini adalah bentuk intellectual dependency[216] yang sangat akut. Umat telah kehilangan keberanian untuk membaca secara mandiri.
"Kalian mengklaim membela kitab suci," tulis Yos dalam draf novelnya, "tapi kalian sebenarnya hanya membela ego para penafsirnya. Kalian telah mengganti kedaulatan Tuhan dengan kedaulatan birokrasi agama."
Yos menggunakan pisau bedah Sola Scriptura untuk menggugat ketergantungan ini. Baginya, jika seseorang benar-benar berpegang pada teks, maka ia seharusnya menjadi orang yang paling bebas dan kritis. Teks suci seharusnya menjadi The Great Equalizer[217] yang meruntuhkan kasta-kasta spiritual. Namun di Sagara—negeri fiktif dalam novelnya—yang terjadi justru sebaliknya. Para birokrat agama menggunakan tafsir yang sempit sebagai tool of gatekeeping[218], memastikan bahwa hanya narasi mereka yang boleh beredar di masyarakat.
Ia menggambarkan sebuah adegan di mana karakter utamanya, The Outcast, berdiri di depan sebuah majelis besar. Ia membawa teks asli dan membacakannya dengan lantang, namun ia segera dibungkam oleh para penjaga Menara Kanonik. Bukan karena ia salah membaca, tapi karena ia membaca tanpa "lisensi" dari birokrasi.
"Kalian takut pada teks yang murni," karakter itu berteriak dalam tulisan Yos. "Kalian takut jika orang-orang tahu bahwa teks ini bicara tentang keadilan yang tidak pandang bulu, maka bisnis ketakutan kalian akan bangkrut!"