The Republic of Lies

gwenny
Chapter #2

#2 Kalkulus di Atas Meja Marmer

Keheningan yang menyelimuti apartemen itu begitu pekat hingga suara detak jam dinding antik bergaya Eropa terdengar seperti dentuman palu godam. Arkananta Mahendra berdiri di sana, seperti sebuah patung es yang dipahat dengan presisi matematis, kontras dengan latar belakang Runa yang merupakan perpaduan antara kemewahan kelas atas dan kehancuran emosional.

Jayden, yang tadi panik, kini berdiri mematung di samping rak buku, tangannya gemetar memegangi tablet yang masih menampilkan grafik penurunan saham yang drastis. Ia adalah tipe pria yang terbiasa menangani tantrum Runa, tapi aura pria bernama Arkananta ini berada di level yang berbeda. Ini bukan sekadar ancaman orang kasar; ini adalah ancaman dari seseorang yang bisa membuat seseorang lenyap hanya dengan satu tanda tangan di atas formulir administratif.

Runa menatap dokumen yang tergeletak di atas meja marmernya. Logo emas The High Spire tertera dengan angkuh di sudut atas. Jemarinya yang lentik namun kuat mencengkeram pemantik api logam hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kau pikir kau siapa, datang ke rumahku, mendobrak pintu, dan memberiku kuliah tentang kerugian finansial?" Runa tertawa kecil, suara tawanya kering dan sinis.

Ia berjalan memutari meja, berhenti tepat di depan Arkananta. Ia tidak mendongak, meski Arkananta jauh lebih tinggi darinya. Runa selalu punya cara untuk membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi, tidak peduli seberapa dingin orang itu.

"Kau bekerja untuk mereka? Para tikus di The High Spire? Atau kau hanya konsultan bayaran yang tugasnya membersihkan sisa-sisa kotoran yang mereka buang?"

Arkananta tidak berkedip. Matanya yang kelabu, jernih layaknya lensa kamera yang tak pernah salah fokus, mengunci pandangan Runa. Tidak ada jejak amarah di wajahnya. Hanya ada ketenangan yang menjengkelkan.

"Aku tidak bekerja untuk siapa pun, Runa Senja. Aku bekerja untuk efisiensi," jawab Arkananta. Suaranya rendah, beresonansi di ruangan itu.

"Dan saat ini, keberadaanmu dan tulisan-tulisan impulsifmu adalah inefisiensi terbesar dalam neraca keuangan negara. Kau adalah variabel yang harus segera divalidasi atau dihapus."

Jayden berdeham canggung, mencoba mencairkan suasana. "Tuan Mahendra, kurasa... kurasa kita bisa membicarakan ini dengan cara yang lebih... profesional. Kita punya tim hukum. Kami bisa melakukan negosiasi terkait royalti atau…"

"Tutup mulutmu, Jay," potong Runa tanpa mengalihkan pandangan dari Arkananta.

"Manajermu benar," lanjut Arkananta, suaranya tetap datar.

"Negosiasi adalah langkah logis. Tapi kau tidak sedang dalam posisi untuk bernegosiasi. Jaksa Gavin Pramudya sudah memegang surat perintah penggeledahan dan penahanan atas dasar tindak pidana pencemaran nama baik dan ancaman stabilitas nasional. Mereka tidak ingin uangmu, mereka ingin bungkamnya suaramu. Permanen."


Runa terdiam. Nama Gavin Pramudya adalah racun. Pria itu adalah anjing pemburu paling mematikan di The High Spire. Jika Gavin yang turun tangan, maka ini bukan sekadar ancaman somasi. Ini adalah operasi penghancuran sistematis.


"Dan kau?" Runa bertanya, nada suaranya sedikit melunak, namun intensitasnya justru meningkat.

"Kenapa kau di sini? Jika mereka ingin membungkamku, kenapa tidak mengirim regu eksekusi alih-alih seorang konsultan keuangan yang tampak terlalu mahal untuk pekerjaan kotor semacam ini?"


Arkananta bergerak sedikit. Ia mengambil secangkir teh yang tadi sempat disiapkan Jayden, mencium aromanya sejenak, lalu meletakkannya kembali tanpa meminumnya.

"Karena klienku; pihak yang punya kepentingan besar agar ekonomi di Distrik The Sumpah tidak runtuh karena skandal ini, membutuhkanmu tetap hidup. Untuk saat ini. Buku itu harus ditarik. Semua salinan digital harus dihapus. Dan kau, Runa Senja, harus berhenti menulis selama satu kuartal."

"Satu kuartal?" Runa mendengus, hampir tertawa.

"Kau memintaku untuk berhenti bernapas."

"Aku memintamu untuk tetap relevan," koreksi Arkananta. Ia mengeluarkan pena perak dari saku jasnya, meletakkannya di atas dokumen tadi.

"Jika kau dipenjara, kau tidak bisa menulis apa pun. Jika kau menulis, kau dipenjara. Itu kalkulus sederhana. Aku di sini untuk memberikanmu opsi ketiga: Bekerja dalam bayang-bayang."


Runa terdiam. Otaknya berputar cepat. Ia adalah penulis satiris, tapi ia bukan orang bodoh. Ia tahu kapan harus melawan dengan bar-bar dan kapan harus mengamati langkah lawan. Arkananta Mahendra bukanlah musuh biasa. Pria ini tidak mencari sensasi; ia mencari kontrol. Dan anehnya, ada rasa penasaran yang menggelitik di relung hatinya. Seseorang yang begitu teratur, begitu dingin, begitu bersih dari noda moralitas yang disembunyikan para menteri, namun memiliki keberanian untuk masuk ke sarang singa.


"Jay, keluar," perintah Runa tiba-tiba.

"Apa? Tapi Runa, dia…"

Lihat selengkapnya