Ardan Gio Dinata bersama papa, mama, dan adiknya, sudah berada di rumah baru. Anak laki-laki berumur delapan tahun itu melihat sekitar rumahnya. Di dalam rumah, terdapat ruang tamu, tiga kamar tidur, ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi, dan dapur. Rumah baru itu jauh lebih besar dibanding rumah mereka sebelumnya.
Dia melangkah memasuki satu persatu kamar yang ada di rumah itu. Ketiga kamar itu terletak sejajar, berhadapan dengan ruang keluarga. Kamar depan dan tengah terlihat biasa.
Ketika masuk ke kamar yang berada di belakang, dekat dengan kamar mandi, Ardan melihat sesuatu yang menarik. Di kamar itu terdapat satu lukisan yang dipajang. Lukisan itu terletak di samping kanan tempat tidur. Ardan melangkah, melihat lebih dekat lukisan itu.
Saat berada di depan lukisan, kepalanya sedikit mendongak. Objek pada lukisan itu adalah ayah dan anak laki-laki. Dalam lukisan itu, ayah sedang menggendong anaknya. Keduanya tampak tersenyum dan mata mereka berbinar.
Kening Ardan mengernyit. Matanya fokus menatap wajah pria pada lukisan di depannya. Dia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Anak sulung Rian Dinata dan Amel Liani itu, memiringkan kepalanya. Otaknya mencoba mengingat, kapan dan di mana dia pernah melihat pria yang sedang menggendong anaknya, pada lukisan itu.
Mata Ardan menyipit. Setelah beberapa menit fokus pada pria di lukisan, anak laki-laki itu menghela napas panjang. Dia tidak mengingat apa pun tentang pria itu. Kini, matanya beralih ke arah anak yang sedang digendong. Lagi-lagi, dia merasa pernah melihat wajah anak itu sebelumnya, tetapi dia tetap tidak ingat.
Adiknya, Radisyah Gani Dinata melangkah mendekati kakaknya. Anak laki-laki berusia enam tahun itu, kini berada di samping kanan Ardan. Kepalanya mendongak, matanya berbinar menatap lukisan di depannya. Bibirnya sedikit terbuka.
“Lukisannya bagus. Aku juga mau nanti dilukis kayak gitu sama Papa.”
Ardan menoleh lalu mengangguk. “Nanti bilang sama Papa. Kamu mau dilukis kayak gitu.”
Mata Radi beralih menatap kakaknya, masih dengan tatapan berbinar. “Aku mau dilukis berempat. Sama kakak dan mama juga. Kak, sekamar sama aku, ya.”
Ardan tersenyum, lalu kembali mengangguk. “Baiklah.”
Radi melompat dan bertepuk tangan riang. “Asik. Kita tidurnya di kamar tengah aja. Lebih luas kamarnya.”
“Iya. Kamu pernah lihat wajah ayah dan anak di lukisan itu?”
Mata Radi menyipit, kepalanya bergerak miring. Anak itu kembali menatap lukisan di depannya. Tangannya bergerak mengetuk dagunya.
Ardan mengangkat kedua alisnya. Dia menunggu jawaban dari adiknya. Kepalanya menoleh ke arah lukisan.
“Kayaknya aku nggak pernah lihat, kak.” Radi kembali menatap kakaknya. “Kakak pernah lihat?”
Ardan mengangguk. “Iya, tapi lupa di mana dan kapan pernah lihat.”
Radi mengangguk. Keduanya kembali fokus pada lukisan di depan mereka. Di depan kamar, kakak dan adik itu tidak menyadari, jika kedua orang tuanya melihat mereka.
Mata Amel menatap sendu kedua anaknya. Matanya kini beralih kepada lukisan yang menjadi daya tarik kakak dan adik itu. Rasa bersalah hinggap di hati mama Ardan dan Radi, saat melihat lukisan ayah dan anak itu.
Rian menoleh ke arah istrinya. Seakan mengerti isi pikiran dan hati mama kedua anaknya, pria itu merangkul bahu Amel. Tangannya yang lain mengusap lengan wanita itu.
“Jangan sedih. Semua akan baik-baik aja.”
Amel menoleh. Wanita itu tersenyum yang dibalas senyuman oleh suaminya. Dia mengangguk. “Iya. Semua akan baik-baik aja. Terima kasih.”
Rian mengangguk. Mata pria itu kini beralih ke arah kedua anaknya. “Ardan, Radi, ayo cepet beresin barang-barang kalian ke kamar. Kalau udah selesai, kita makan siang bareng.”
Ardan dan Radi kompak menoleh, ketika mendengar suara papa mereka. “Iya, Pa.”
Radi dengan riang menggandeng tangan kakaknya. Ardan hanya tersenyum. Keduanya berjalan beriringan keluar kamar. Kedua orang tua mereka sudah melangkah terlebih dahulu. Hari itu, Ardan dan keluarga memulai kegiatan mereka di rumah baru.
***
Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Ardan dan Radi sudah beradaptasi di sekolah baru. Mereka bersekolah di salah satu sekolah tak jauh dari rumahnya.
Begitu juga dengan Amel. Wanita itu bekerja sebagai guru kelas satu di sekolah dasar Karyasari. Sekolah dasar Karyasari juga sekolah baru kedua anaknya. Mama dan anak itu ikut pindah tempat kerja dan sekolah karena mengikuti Rian.
Rian yang bekerja di kantor kecamatan, dipindahtugaskan ke kantor kecamatan Karyasari. Kecamatan Karyasari merupakan kecamatan beda kota dari kecamatan tempat Rian bekerja sebelumnya. Pria itu tidak ingin jauh dari istri dan anaknya, sehingga dia mengajak mereka pindah ke tempat baru.
Ardan dan keluarga, kini berada di ruang makan. Di meja makan sudah tersedia makanan kesukaan dua anak kecil itu. Nasi, sayur bayam, ikan tambak goreng, dan ayam pedas-manis menjadi menu makan malam.
Amel yang setiap pagi sampai siang, kadang sore harus bekerja sebagai guru, wanita itu menyempatkan memasak untuk anak dan suaminya. Seperti saat ini, dia tersenyum melihat Ardan, Radi, dan Rian sangat lahap memakan masakannya.
“Ardan, Radi, gimana sekolah baru kalian?”
Rian memulai percakapan di tengah jalannya makan malam. Pria itu memang terbiasa menanyakan kegiatan anak-anaknya. Di tengah kesibukkannya bekerja, dia ingin selalu tau setiap kegiatan dan cerita keseharian kedua anaknya. Sebisa mungkin pria berumur hampir empat puluh tahun itu, ingin lebih dekat dengan Ardan dan Radi.
“Aku udah punya teman baru, Pa.” Radi menjawab semangat. Di mulutnya masih ada makanan yang dia kunyah. “Teman baru aku baik semua.”
“Radi, kunyah dulu makanannya yang benar. Jangan makan sambil ngomong. Takut tersedak.” Amel mengingatkan anak bungsunya. Wanita itu menggeleng, melihat cengiran Radi. Matanya kini menatap anak sulungnya. “Kalau kamu gimana, Ar?”