Radi yang terbangun karena haus, mendengar teriakan dari kakaknya. Pemuda itu langsung berjalan menuju kamar di sebelahnya.
“Kak Ardan.”
Radi membuka kamar Ardan yang tidak terkunci. Dia kembali memanggil kakaknya. Keningnya mengernyit, melihat kakaknya bergerak gelisah. Pemuda berwajah bule itu mendekati tempat tidur Ardan.
“Lepas. Lepasin kaki gue!”
Radi melihat kaki kakaknya bergerak, seakan berusaha melepaskan sesuatu. Dia duduk di pinggir ranjang lalu menepuk pelan pipi Ardan.
“Kak, bangun.” Tangannya masih bergerak menepuk pipi kakaknya. Suaranya yang tadi memanggil Ardan pelan, menjadi sedikit lebih kencang. “Kak Ardan, bangun!”
Usaha Radi membangunkan kakaknya berhasil. Mata Ardan kini terbuka, dengan napas yang memburu. Adiknya Ardan itu dengan sigap mengambil air di meja belajar. Kakaknya segera bangkit dari tidurnya, menerima gelas pemberian Radi.
Ardan meminum air itu sampai habis, kemudian memberikan gelas itu kembali kepada adiknya. Pemuda dua tahun lebih tua dari Radi menghela napas panjang. Tubuhnya bersandar di kepala ranjang.
“Terima kasih.”
Radi mengangguk, tangannya menerima gelas pemberian Ardan. Dia menaruh kembali gelas itu ke meja belajar.
“Kakak mimpi apa? Sampai mengigau gitu.”
Ardan menggeleng. “Mimpinya serem banget. Ada dua mimpi dengan makhluk yang sama.”
“Cuma mimpi, kak. Kakak tidur lagi aja.”
Ardan menatap jam dinding yang ada di hadapannya. Waktu menunjukkan jam dua pagi. Pemuda itu menoleh kearah adiknya. “Maaf udah ganggu tidur kamu.”
“Nggak, kak. Aku kebangun karena haus.” Radi melihat Ardan hanya mengangguk. “Aku ke kamar lagi.”
“Iya. Terima kasih.”
Radi hanya mengangguk. Pemuda itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah keluar kamar kakaknya.
Ardan menghela napas pelan. Matanya menatap pintu yang sudah ditutup oleh adiknya. Mimpi itu terasa nyata. Baru kali ini, pemuda yang menyukai kerapian itu bermimpi sangat menyeramkan. Dia mengambil ponsel di meja belajar. Terdapat notifikasi pesan grup. Pesan grup itu berisi dirinya dan kedua sahabatnya, Landry dan Elvano.
Normal Squad
Landry Azriel
[Ar, El, udah ngerjain tugas akuntansi belum?]
Elvano Sava
[Gue lagi ngerjain. Dikit lagi selesai.]
Landry Azriel
[Begadang lo?]
Elvano Sava
[Nggak. Gue dari sore tidur. Baru bangun jam sebelas. Keinget tugas. Ya udah langsung gue kerjain. Lo gimana? Jangan bilang belum ngerjain, cuma ingetin aja.]
Landry Azriel
[Gue udah dong dari kemarin. By the way, Ardan ke mana? Kok nggak muncul.]
Elvano Sava
[Dia paling rajin di antara kita. Gue yakin udah selesai tugasnya. Sekarang dia lagi tidur kali. Kalau udah bangun, dia pasti bales.]
Ardan tersenyum membaca pesan dari sahabat-sahabatnya. Tangannya bergerak membalas pesan grup dari Elvano dan Landry.
[Gue kebangun karena mimpi buruk. Tugas udah selesai dari kemarin.]
Elvano Sava
[Yang diomongin baru muncul. Bener kata gue, tugas dia udah selesai.]
Landry Azriel
[Gue cuma ingetin, El. Dua sahabat gue ini kadang pelupa.]
[Lo mimpi apa, Ar?]
Elvano Sava
[Landry kepo.]
Landry Azriel
[Gue yakin, lo juga kepo, Elvano.]
Ardan Gio Dinata