The Room

Kim Raeneul
Chapter #4

Room Tiga - Menghindar Dari Mimpi Buruk

Sudah hampir seminggu, Ardan selalu dihantui oleh mimpi buruk yang sama. Walaupun tidak setiap hari­, hanya dua hari mimpi dan satu hari tidak, tetap saja mimpi itu mempengaruhi dan mengganggu tidurnya.

Dia tidak pernah menceritakan mimpinya lagi kepada kedua sahabat atau adiknya. Ardan memilih menceritakan mimpinya dengan menulis. Pemuda itu mempunyai sebuah buku khusus. Buku itu merupakan sebuah jurnal yang berisi kegiatan kampus dan pribadi.

Semenjak dia mengalami mimpi buruk, buku itu menjadi tempat dia bercerita tentang mimpi itu. Ardan menceritakannya secara jelas dan kadang disertai dengan gambar. Dia juga menceritakan kejadian aneh lain di rumahnya pada buku itu.

Pemuda itu belum menanyakan tentang lukisan di kamarnya kepada papa dan mama. Rian dan Amel sudah pulang sejak dua hari yang lalu. Ardan selalu lupa menanyakan tentang hal itu, jika sedang quality time bersama kedua orang tuanya.

Rian mengernyit saat melihat anak sulungnya tak semangat. Terlihat jelas sekali pemuda yang duduk di depannya menahan kantuk. “Ar, kamu semalam begadang? Banyak tugas kuliah?”

Ardan menatap papa yang berada di depannya. “Iya, Pa. Semalam aku ngerjain banyak tugas, jadi tidurnya telat.”

Rian mengangguk mengerti. “Kamu pasti sibuk banget sama kuliah dan tugas, tapi tetap jaga kesehatan. Setiap hari begadang nggak baik, Ar.”

“Iya, Pa. Akhir-akhir ini emang aku lagi nggak bisa tidur, tapi papa dan mama nggak usah khawatir. Aku pasti akan jaga kesehatan.”

Ardan memang tidak sepenuhnya berbohong. Beberapa minggu terakhir ini dosen dari semua mata kuliah memberikan banyak tugas, tetapi itu tidak terlalu mengganggu jam tidurnya. Mimpi buruk yang seminggu terakhir datang yang membuat dirinya tidak bisa tidur.

Pemuda itu sudah selesai sarapan lalu membawa piring bekas makannya ke tempat cuci piring. Dirinya sudah terbiasa mencuci piring setelah selesai makan. Setelahnya, dia bersiap-siap ke kampus.

Semenjak teror mimpi itu, suasana rumah sudah tidak lagi nyaman untuk pemuda itu. Tak hanya mimpi, dia sering melihat bayangan yang lewat atau sosok mirip dengan kedua orang tua dan adiknya, setiap dia sendiri di rumah.

***

“Ar, lo masih sering diganggu sama mimpi itu?”

Pertanyaan itu terlontar dari Landry. Kedua sahabat Ardan itu sering melihat dirinya tertidur saat istirahat atau jam peralihan kelas. Saat ini mereka sedang berada di taman.

Ardan mengangguk. “Nggak setiap hari, tapi bikin nggak nyaman. Kayak diteror gitu.”

“Teori gue bilang, mimpi buruk yang sering lo alami itu bukan dari lukisan aja, tapi dari rumah lo juga ada sesuatu.”

Ardan menoleh kearah Elvano. “El, sebelum mimpi itu suasana rumah baik-baik aja, masih nyaman. Semenjak gue sering mimpi buruk jadi agak beda. Nggak cuma gue yang rasa, tapi Radi juga. Dia pernah cerita sering dilihatin gitu.”

Elvano dan Landry mengangguk. “Coba lo semalam nginep di rumah gue atau Elvano. Lo masih mimpi buruk atau nggak. Kalau nggak, berarti bener kata El. Nggak cuma dari lukisan, tapi rumah lo juga ada yang nggak beres.”

Ardan menoleh kearah Landry. “Gue nggak kepikiran sampe sana. Ya udah nanti malam, gue nginep di rumah lo. Tenang nggak akan lama-lama. Semalam aja.”

Landry mengangguk. “Oke. Nanti pulang kuliah langsung aja ke rumah gue.”

Elvano menatap Landry memelas. “Lan, gue juga boleh nginep?”

Landry menghela napas pelan. “Lo boleh nginep, tapi jangan acak-acak kamar gue.”

Pemuda dengan tinggi lebih pendek dari Ardan dan Landry itu mendengkus. “Sejak kapan gue kayak gitu? Nggak pernah.”

Landry mengangkat bahunya tidak peduli. Pemuda itu bangkit dari duduknya. “Sebentar lagi jam mata kuliah selanjutnya.”

Ardan dan Elvano mengangguk mengerti. Mereka menyusul Landry yang sudah berjalan terlebih dahulu.

***

Setelah pulang kampus, Ardan bersama kedua sahabatnya langsung menuju rumah Landry. Dia sudah memberitahu Rian dan Amel, jika tidak pulang dan menginap di rumah pemuda berbahu lebar itu. Tentu saja kedua orang tuanya mengizinkan.

Rian dan Amel sudah sangat mengenal kedua sahabat anak sulung mereka. Kedua orang tua Landry dan Elvano juga bersahabat dengan mereka.

Sesampai di rumah Landry, keduanya disambut hangat oleh bunda pemuda itu, Reni Setiawati. Wanita itu sudah menganggap kedua sahabat anaknya seperti anaknya sendiri. Wanita yang telah melahirkan tiga orang anak tersenyum kepada Ardan dan Elvano.

“Ardan, Elvano, apa kabar? Kalian udah lama nggak main. Ayo masuk.”

Reni mempersilakan kedua sahabat anaknya masuk. Ardan dan Elvano dengan sopan mencium punggung tangan wanita itu. Begitu juga dengan Landry. Pemuda itu sudah lebih dulu mencium punggung tangan bundanya.

Elvano tersenyum sampai kedua matanya menghilang. “Kabar kami baik, Tante. Kami sibuk sama kegiatan masing-masing di luar kuliah, jadi baru sempat main ke sini.”

Reni mengangguk. “Landry sering cerita kalau kalian sibuk. Tante udah siapin makan malam spesial buat kalian.”

Ardan menunduk tidak enak. “Tante, kami berdua jadi ngerepotin.”

Reni tersenyum, tangan kanannya menepuk pelan lengan Ardan. “Nggak ngerepotin. Tante senang banget kalian ke sini. Apalagi tadi waktu Landry bilang kalian mau nginep. Tante langsung masak buat kalian.”

Ardan dan Elvano mengangguk kompak. “Terima kasih, Tante.”

Kedua tangan Reni menggamit lengan Ardan dan Elvano di sisi kiri dan kanan. “Ayo, kita langsung makan aja.”

“Julian sama Gara ke mana, Tante?”

Lihat selengkapnya