Ardan sampai rumahnya jam enam pagi. Setelah mimpi itu, dia tidak bermimpi apa-apa lagi. Pulang dari rumah Landry, pemuda itu membenarkan ucapan kedua sahabatnya. Sesuatu yang mengganggunya bukan hanya mimpi atau lukisan, tetapi rumah yang di tempati keluarganya. Memikirkan hal itu, Ardan menjadi penasaran tentang latar belakang rumahnya.
Ada cerita apa di balik rumah dan lukisan itu? Kenapa harus Ardan yang selalu diteror oleh mimpi buruk?
Untuk sementara, Ardan menepis semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dia akan menjalani kegiatannya seperti biasa. Seolah tidak terganggu atau terjadi apa pun.
“Kamu baru pulang, Ar?”
Pertanyaan itu terlontar dari Rian. Pria itu sedang mencuci mobil. Kegiatannya ketika hari libur atau sekadar mengisi waktu luang. Hari ini memang hari minggu. Biasanya mereka akan berkumpul seharian, jika semua anggota tidak ada kegiatan.
Ardan mengangguk. Pemuda itu mencium punggung tangan papanya. “Iya, pa. Aku masuk duluan. Mau siap-siap ada kegiatan di kampus.”
Rian mengangguk mengerti. “Sebelum berangkat sarapan dulu. Mama udah masak nasi goreng untuk kita.”
Ardan tersenyum. Pemuda itu memberi sikap hormat. “Siap, Pa.”
Dia berlari kecil masuk ke rumah. Saat di dalam, pemuda itu melihat Amel yang sedang menyajikan nasi goreng dan telur mata sapi di meja makan. Dia langsung menghampiri mamanya, lalu mencium punggung tangan wanita itu.
“Sarapan dulu, Ar.”
Ardan mengangguk. “Aku mandi dulu, Ma. Radi mana?”
“Adikmu masih di kamar. Nanti juga keluar.”
Baru saja mama dan kakaknya membicarakan dirinya, Radi sudah keluar dari kamarnya. Terlihat jelas pemuda itu masih mengantuk.
Ardan mengernyit melihat adiknya. “Kamu abis begadang?”
Radi duduk di bangku samping mamanya berdiri. “Aku malem nggak bisa tidur. Kak, aku mau cerita, tapi nanti aja.”
Kerutan di kening kakak Radi semakin dalam. “Ya udah, nanti aja. Kakak ke kamar dulu.”
Radi mengangguk. “Hati-hati di kamar.”
Amel yang mendengar ucapan anak bungsunya mengernyit. “Emang ada apa di kamar kakak kamu?”
Radi menggeleng. Pemuda itu memperlihatkan senyumannya. “Nggak ada apa-apa, Ma.”
Amel mengangkat bahunya, tidak mau ambil pusing ucapan anak bungsunya. Wanita itu kembali ke dapur untuk membereskan perlengkapan masak yang sudah dipakainya.
Ardan menatap adiknya. Pemuda itu mengerti maksud ucapan Radi. Hanya saja dia penasaran, adiknya ini mengetahui hal lain di balik kamarnya. Dia menggeleng, pikirannya mengatakan nanti saja dia meminta penjelasan kepada Radi.
Pemuda itu bergegas menuju kamarnya. Dia akan mandi dan mempersiapkan diri untuk kegiatan hari ini.
***
Ardan baru pulang saat jam makan malam. Dia mengernyit ketika hanya ada adiknya di rumah. Pemuda itu langsung duduk di samping adiknya yang sedang menonton acara berita.
“Mama sama Papa ke mana?”
“Tadi bilangnya ke acara undangan ulang tahun teman kerja Papa.” Radi menoleh dan melihat Ardan mengangguk. “Kakak udah makan? Mama sebelum berangkat udah masak makan malam untuk kita.”
“Tadi sebelum pulang, kakak makan sama teman-teman. Masih kenyang.” Ardan melihat adiknya mengangguk. “Kamu udah makan?”
“Udah. Kak, aku mau cerita.”
Ardan menoleh menatap adiknya. Pemuda itu mengingat ucapannya tadi pagi. “Cerita apa?”
Radi menceritakan kejadian aneh yang dialaminya saat kakaknya menginap. Dimulai dia bertemu sosok mirip dengan Ardan sampai lukisan ayah dan anak yang tiba-tiba menyeringai.
“Gitu ceritanya.”
Ardan mengangguk. “Kirain kakak aja yang diteror gitu. Kamu pernah mimpi buruk soal lukisan?”
“Kalau mimpi itu, nggak pernah. Paling cuma ditampakin sosok yang mirip kakak, papa, dan mama. Sama suara anak kecil dan perempuan.”
Pemuda yang lebih tua dua tahun dari Radi itu menghela napas panjang. Punggungnya bersandar pada sandaran sofa. Radi melakukan hal sama seperti kakaknya. Keduanya saling terdiam. Hanya suara televisi di depan mereka yang memecah keheningan.
Saat sedang fokus menonton tayangan berita, sebuah suara ketukan terdengar. Keduanya saling pandang.
“Siapa, kak?”
Ardan menggeleng. “Nggak tau. Kakak lihat dulu.”
Pemuda itu bangkit dari duduknya. Dia berjalan dengan hati-hati sampai depan pintu utama. Dia menatap pintu yang masih diketuk.