The Room

Kim Raeneul
Chapter #6

Room Lima - Mencari Petunjuk

Lagi-lagi, kejadian yang terlihat nyata itu hanya mimpi. Ardan kembali terbangun karena mimpi anak kecil itu. Dia bangkit dari posisi baringnya. Pemuda itu masih mengingat jelas tentang mimpinya.

Hati kecilnya mengatakan jika mimpi itu adalah kejadian nyata yang dialaminya saat kecil. Bukan hanya perasaannya saja, tetapi semua detail kejadian dan tempat pernah dia alami sebelumnya.

Kadang manusia akan melupakan hal yang menyakitkan dalam hidupnya. Hal itu merupakan pertahanan alami dari otak untuk melindungi mental dari stress kronis, trauma, dan kecemasan berlebih. Ardan salah satu manusia yang melupakan kejadian yang menyakitinya di masa kecil.

Otaknya memberi peringatan untuk melupakan semua kejadian di masa kecilnya. Bisa saja mimpi itu menjadi petunjuk supaya dia kembali mengingatnya, karena setiap manusia tidak semua mempunyai ingatan yang bagus. Apalagi sampai hal-hal kecil yang kita alami.

Apa keuntungan baginya jika sudah mengingat semua peristiwa di masa lalunya?”

Pertanyaan baru itu kini muncul di pikirannya. Ardan menghela napas pelan, tangannya bergerak mengusap wajahnya. Mimpi-mimpi dan teror hantu sangat menganggunya. Kepalanya bergerak menatap lukisan ayah dan anak itu. Lukisan itu masih normal, tidak ada yang aneh.

Ardan menggeleng. Kepalanya terasa penuh. Dia meraih gelas yang berada di meja belajar, lalu meneguk isinya sampai tersisa setengah.

KREET ... KREET ...

Pemuda itu mengernyit ketika mendengar suara cakaran di plafon. Selain itu ada suara seperti hewan atau sesuatu yang berjalan. Suara-suara itu semakin jelas, bergantian dengan suara berat pria. Tak hanya itu, dia juga mendengar suara tawa anak kecil yang sedang berlarian.

Suara itu terdengar di sekitar kamarnya. Seolah anak kecil itu berlarian memutari dirinya. Ardan bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu. Pintu itu tidak bisa dibuka, seakan dikunci dari luar. Pemuda itu mengetuk-ngetuk pintu.

“Mama, Papa, Radi, kenapa pintu kamarku dikunci? Tolong buka pintunya!”

Ardan tidak mendengar suara siapa pun dari luar kamarnya. Pemuda itu terus berteriak memanggil Rian, Amel, dan Radi. Dia mengguncang-guncang gagang pintu, tubuhnya bergerak gelisah membentur pintu. Suara di kamarnya semakin ramai.

Disaat Ardan sedang fokus membuka pintu, dia terlonjak hingga terjatuh dalam posisi duduk. Tepat di depan wajahnya sosok anak kecil dalam lukisan muncul. Kini mata anak itu tidak hitam, melainkan merah. Bibirnya membentuk seringai panjang sampai telinga.

“Kakak terjebak di sini. Ayo main sama aku.”

Anak laki-laki itu merangkak mendekati Ardan. “Ayo main, Kak Ardan.”

Badannya bergerak mundur menjauh dari anak itu, hingga punggungnya membentur tempat tidur. Saat dia ingin bergerak ke sisi kanan, tangan anak itu memegang kakinya. Kaki Ardan menendang tangan kecil anak itu, tetapi anak laki-laki itu tidak melepaskan cengkeramannya.

Anak laki-laki itu perlahan merangkak ke kakinya. Dia dapat melihat dengan jelas mata merah menyala dan senyum lebar dari anak itu. Saat anak itu semakin mendekati perutnya, dia langsung mencengkaram tangan anak itu dan menghempas tubuhnya.

Matanya mengerjap saat melihat anak itu menghilang. Suara tawa melengking dari anak itu, memecah keheningan di kamarnya. Dia menutup telinganya mendengar suara tawa itu semakin keras.

Ardan perlahan bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Untungnya pintunya bisa terbuka, tetapi di depan kamar, dia melihat ayah dari anak itu. Mata pria di depannya menyala.

“Kamu harus main dengan anakku.”

Ardan menggeleng, dia berlari kearah pintu keluar. Waktu pintu terbuka, dia melihat adik dan kedua orang tuanya.

Mata ketiganya membulat saat melihat anak sulung dan kakak mereka menghela napas berat dan tubuhnya gemetar. Bundanya langsung mendekat, tangan wanita itu menggenggam telapak tangan anak sulungnya yang terasa basah dan dingin.

“Kenapa, Ar?”

“Tadi ada sosok pria menyeramkan. Matanya merah menyala dan senyumnya lebar sampai telinga di depan kamar aku.”

“Sosok pria?” tanya adiknya, kedua dahinya mengernyit.

Ardan mengangguk, tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua orang tua dan adiknya, tangannya bergerak, menunjuk ayah anak laki-laki yang masih terlihat dari sudut matanya. Pria itu masih berdiri di depan kamarnya.

Ketiga keluarganya menoleh kearah yang ditunjuk, tetapi sosok itu sudah menghilang.

“Nggak ada siapa-siapa, tapi kita harus cari. Dia pasti orang jahat dan lagi sembunyi. Ayo, Radi,” ajak Rian yang dibalas anggukan dari anak bungsunya.

Ayah dan anak bungsunya melangkah cepat ke seluruh ruangan, mencari keberadaan sosok pria yang membuat Ardan ketakutan.

Amel mengajak anak sulungnya kembali masuk dan duduk di ruang keluarga. Bunda dari dua anak itu, baru kali ini melihat anaknya seperti ini. Setelah anaknya duduk, wanita itu mengambil minum dan memberikan gelas itu kepadanya.

“Ar, minum dulu.”

Ardan mengangguk dan mengambil gelas yang diberikan bundanya, meneguk airnya hingga tersisa setengah. Dia menaruh gelas itu, di meja yang berada di depannya.

“Terima kasih, Bunda.”

Amel hanya mengangguk. “Kamu istirahat dulu di sini. Bunda siapin makan malam untuk kita.”

Ardan kembali mengangguk. Dia mendongak, menatap jam dinding yang terpasang di atas televisi. Dia menyangka waktu sudah lewat tengah malam, tetapi jarum pendek pada jam itu menunjukkan angka delapan.

Lihat selengkapnya