The Room

Kim Raeneul
Chapter #7

Room Enam - Pemilik Rumah Lama

 “Ibu sangat kenal pemilik rumah sebelum keluarga Nak Ardan dan Nak Radi. Mereka sangat baik, sama seperti Pak Rian dan Ibu Amel. Ibu dan tetangga di sini biasa panggil mereka dengan keluarga Kusuma.”

Sinta memulai ceritanya. Wanita itu menatap ke depan dengan tatapan menerawang. Pikirannya kembali terlintas pada beberapa tahun sebelumnya.

Tidak ada suara dari Ardan, Radi, dan Maman. Ketiganya masih menunggu kelanjutan ucapan dari wanita di depan mereka.

“Bapak dan Ibu Kusuma mempunyai anak tunggal bernama Irawan Kusuma. Mereka selalu membantu tetangga di sini. Irawan dan Maman teman dekat. Dia orang pertama yang mengajak dan merekomendasikan pekerjaan untuk anak Ibu.”

Sinta melihat anaknya hanya mengangguk. Wanita itu kembali melanjutkan ceritanya. “Mereka juga sering membantu keluarga kami disaat kami kesulitan. Saat itu Maman masih kecil. Dia demam tinggi. Ibu dan Bapak mau bawa dia ke dokter.”

Sinta menjeda ucapannya. Dia menatap satu persatu ketiga laki-laki yang menunggu lanjutan ceritanya. Dia tersenyum kepada ketiga laki-laki itu.

“Saat keluar, Bapak dan Ibu tidak sengaja bertemu dengan Pak Kusuma yang baru pulang dari warung. Melihat kami yang kelihatan buru-buru, beliau menanyakan keadaan kami. Saat mengetahui Maman demam tinggi, beliau langsung bilang akan antar kami dengan mobilnya.”

“Tak hanya Pak Kusuma, Ibu Kusuma juga sangat baik kepada kami. Saat kami kesulitan keuangan, Ibu Kusuma selalu memberi pinjaman kepada kami. Keluarga Kusuma memang terkenal nggak pelit, kalau ada tetangga yang ingin pinjam uang.”

Sinta menghela napas pelan. “Saking baiknya, tetangga yang tidak bisa mengembalikan uang mereka, Ibu dan Bapak Kusuma mengikhlaskannya. Kebaikannya itu sering dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggungjawab dan sengaja tidak mengembalikan uang yang mereka pinjam.”

Wanita yang berstatus ibu Maman itu tersenyum saat melihat kue yang disuguhkannya hampir habis. Selama bercerita, wanita itu memperhatikan Radi yang paling banyak memakan kue bolu bikinannya.

“Nak Radi suka sama kue bolunya?”

Adik Ardan itu menghentikan tangannya yang ingin menyuapkan potong terakhir kue bolu. Dia tersenyum canggung kepada Sinta.

“Iya, Bu. Kue bolunya enak. Maaf, aku hampir abisin kuenya.”

Ardan menyikut pelan lengan adiknya. “Maaf, Bu. Radi emang suka gitu kalau soal makanan. Apalagi kalau makanannya enak.”

Sinta tertawa pelan. “Nggak apa-apa, Nak Ardan. Ibu senang Nak Radi suka sama kue bikinan Ibu. Abisin aja kuenya. Kalau kurang, Ibu ambil lagi.”

Radi menggeleng tidak enak. “Nggak usah, Bu. Kue bolunya buat Kang Maman dan Ibu. Aku udah cukup makannya.”

“Kalau gitu nanti pulangnya kue bolunya dibawa buat Papa dan Mama kalian.”

Ardan mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, karena Ibu udah mau cerita tentang keluarga Kusuma. Pemilik rumah kami yang lama.”

“Sama-sama, Nak Ardan. Kalau Ibu cerita semua kebaikan keluarga Kusuma, pasti sampai besok nggak akan selesai ceritanya.” Sinta menoleh kearah anaknya. “Maman pasti punya cerita tentang kebaikan Irawan.”

Maman mengangguk. “Ibu benar. Irawan baik banget sama aku, aku ingat salah satu kebaikannya. Aku pernah pinjam uang kepadanya. Posisinya aku lagi kerja di luar kota sama dia, bekalku habis dan belum gajian. Aku nggak mau membebani Ibu dan Bapak.”

Laki-laki itu menatap menerawang di depannya. “Waktu itu aku pinjam uang Irawan lima ratus ribu. Seperti biasa dia selalu kasih uangnya untuk aku pakai. Saat itu ada satu hal yang bikin aku bingung.”

Maman menjeda ucapannya. Dia melihat tatapan penasaran dari Ardan dan Radi. Kedua adik dan kakak itu masih hening, tidak memotong atau pun bertanya.

“Dia nggak mau terima uang yang aku pinjam. Padahal waktu itu dia lagi nabung buat nikah. Walaupun keluarganya cukup berada dan bisa membiayai pernikahan dia, tapi dia masih nabung. Dia waktu itu bilang, nggak mau terlalu banyak ngerepotin kedua orang tuanya.”

Maman mengangguk sekilas. “Menurutku waktu itu dia aneh. Padahal sebelumnya, dia masih terima uang dari aku. Dia bilang, nggak usah dikembaliin. Uangnya pake aja buat Ayah. Waktu itu memang Ayah sakit dan dirawat. Dia tau, kalau aku butuh uang untuk biaya rumah sakit.”

Maman menghela napas pelan. “Dia juga kasih uang lima ratus ribu lagi. Katanya buat nambah biaya Ayah yang lagi sakit. Aku waktu itu nolak dan bilang akan kembaliin uangnya, tapi dia tetap maksa dan nggak mau uangnya dikembaliin.”

“Kang Maman terima uangnya?” tanya Radi penasaran.

“Iya. Irawan terus maksa aku buat terima uangnya. Dia minta doa dari Ayah biar acara pernikahannya lancar. Kebaikan dia nggak sampai situ aja. Saat Ayah meninggal, dia bantu memandikan.”

Ardan dan Radi perlahan mengangguk. Beberapa detik hanya keheningan tercipta di rumah keluarga Maman.

“Kalau nggak salah dengar, tadi Ardan bilang lukisan Ayah dan anak?” tanya Maman saat teringat ucapan pemuda yang duduk di sampingnya tentang lukisan.

Mata Ardan berbinar. “Iya, Kang. Akang tau tentang lukisan itu.”

Maman kembali mengangguk. “Waktu itu aku pernah main ke rumahnya. Irawan nunjukin lukisan Ayah dan anak itu. Dia bilang itu lukisan dia dan anaknya. Aku candain dia, karena di lukisan itu dia dibikin gemuk. Nggak sama kayak dia yang aslinya kurus dan tinggi.”

“Pak Irawan jawab apa?” tanya Radi.

Lihat selengkapnya