Ardan terbangun dengan napas terengah. Setelah hampir satu minggu dia tidak bermimpi anak kecil, malam ini anak kecil itu muncul lagi. Suara tangis anak kecil itu masih terdengar dan terasa nyata.
Dia merasakan sudut matanya berair dan dadanya sesak, seolah dia sedang menahan semua isakannya. Air di sudut matanya nengalir semakin deras seiring dia mengingat mimpi tentang anak kecil dan ayahnya. Seakan dia bisa merasakan perasaan anak itu.
Ardan mengusap cairan bening di pipinya kasar. “Gue kenapa? Kenapa gue nangis? Dek, lo siapa? Kenapa gue ngerasa terkoneksi sama lo?”
Ardan menghirup napas dalam. Tangannya kembali bergerak, menghapus semua air mata di pipi dan matanya. Dia melihat jam yang berada di depannya. Jarum pendek menunjukkan jam lima pagi. Dia terbangun di waktu menjelang pagi, bukan dini hari.
Beberapa menit dia menenangkan semua emosi yang dia rasakan dan menghirup napas dalam. Dia menoleh kearah meja belajar dan mengambil gelas yang selalu tersedia. Dia memang terbiasa membawa air sebelum tidur.
Dia meminum air yang tersisa setengah sampai habis. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Di luar, dia melihat adiknya yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
“Kamu udah bangun?”
Radi mengangguk. Matanya masih mengantuk. “Iya, Kak.”
Keduanya berjalan menuju meja makan. Mereka bergantian menuangkan air dan duduk bersebelahan. Dengan gerakan kompak, keduanya menghabiskan setengah air di gelas masing-masing.
“Kakak nggak diteror lagi sama hantu itu, kan?”
Ardan menggeleng. “Abis dengar cerita dari Kang Maman dan Ibu Sinta, aku juga berdoa untuk Pak Irawan. Sejak itu aku udah nggak diteror lagi. Kamu gimana?”
“Sama, Kak. Semoga terornya udah berhenti.”
“Iya, semoga. Aku masih penasaran tentang anak Pak Irawan. Menurut kamu, kita tanya Mama dan Papa atau nggak usah cari tau lagi?”
“Menurut aku, kita udah nggak diteror, mendingan nggak usah cari tau lagi. Kita kirim doa aja buat Pak Irawan. Selain itu berdoa juga buat hantu penunggu rumah, biar nggak muncul lagi.”
Ardan menatap adiknya dengan pikiran menerawang. Saran adiknya benar, tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Tentang anak kecil yang sama dimimpinya. Rasa penasaran tentang anak Irawan muncul karena anak itu.
Bagi Ardan hanya sebagian yang sudah jelas, tetapi bagian lain seperti potongan puzzle yang masih harus dia susun dan rangkai agar sempurna.
Dia menghela napas pelan. “Kamu benar, tapi kakak pikirin lagi. Kakak mau mandi.”
Radi hanya mengangguk, Dia melihat kakaknya sudah masuk ke kamarnya. “Kayaknya Kak Ardan masih ada sesuatu yang dipikirin.”
“Ada apa sama Kakakmu, Di?”
Radi menoleh kearah Amel yang sudah berada di sampingnya. Dia tersenyum kepada Mamanya.
“Nggak, Ma. Tadi aku lihat Kak Ardan kayak banyak yang dipikirin, tapi mungkin tentang kuliahnya. Aku mau cek lagi buku-buku dan perlengkapan sekolah, biar nggak ada yang ketinggalan.”
Radi bangkit dari duduknya dan mencium pipi mamanya sekilas, setelahnya dia berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya.
Amel hanya menggeleng melihat tingkah anak bungsunya. Tak lama, suaminya keluar dari kamar. Dia tersenyum ketika melihat Rian berjalan mendekat.
“Kamu, kenapa?”
Amel menggeleng. “Nggak apa-apa, Pa. Aku kepikiran cerita ke Ardan yang sebenarnya. Gimana menurut Papa? Ardan udah kuliah dan udah harus tau semuanya. Semakin lama kita nggak kasih tau, aku takut semakin dia kecewa sama kita.”
Rian mengangguk. “Papa setuju, tapi cari waktu yang tepat buat jelasin semuanya sama Ardan.”
“Iya, Pa, tapi jangan terlalu lama. Kita harus cepat kasih tau Ardan.
”Iya, Ma. Cepat atau lambat, Ardan harus tau. Aku bantu kamu bikin sarapan.”
Amel hanya mengangguk. Sepasang suami dan istri itu pergi ke dapur, bersiap memasak sarapan untuk anak-anak mereka.
***
Landry menyikut lengan Elvano saat melihat Ardan melamun. Pemuda lebih pendek darinya menaikkan alisnya. Dengan gerakan dagu, dia menunjuk sahabatnya yang mempunyai senyum secerah matahari.
“Kenapa dia? Masih diteror sama si hantu?” tanya Elvano ketika melihat Ardan yang masih melamun.
“Nggak tau. Coba tanya.”
Elvano memutar kedua mata malas. “Kirain lo yang mau tanya.” Landry hanya tersenyum tipis yang membuatnya mendengkus. “Iya, gue yang tanya. Puas lo.”
“Makasih.”
Elvano mengabaikan ucapan terima kasih sahabatnya. “Ar, kenapa lo? Bengong mulu.”
Ardan menghela napas pelan lalu menggeleng. “Nggak apa-apa, El.”