The Room

Kim Raeneul
Chapter #9

Room Delapan - Terbukanya Rahasia

 “Angka itu ...” Mata Ardan menyipit menatap angka-angka dibalik polaroid itu. “Kayak ulang tahun gue.” Dia menggeleng pelan. “Nggak, yang ulang tahun tanggal delapan belas Februari bukan gue aja. Pasti ada juga yang lahir tanggal itu. Cuma kebetulan, jangan negative thinking.

Dia kembali membalik foto itu. Objek foto polaroid hitam dan putih, seorang ayah yang sedang duduk merangkul anak laki-lakinya. Matanya membulat saat menatap fokus wajah anaknya.

“Anak itu ... dia yang selalu hadir di mimpi gue. Iya bener. Mukanya sama. Kalau lukisan itu Pak Irawan dan anaknya. Gue yakin seratus persen, ini foto Pak Irawan dan anaknya. Kata Kang Maman, aslinya Pak Irawan itu kurus.”

Senyum cerah dan mata berbinar terlihat dari wajahnya. Sesaat wajah cerahnya berubah. Matanya yang tadinya berbinar, kini menyipit. Senyumnya tidak lagi terlihat.

“Apa hubungannya sama gue? Kenapa mereka selalu hadir di mimpi gue?”

Ardan menghela napas pelan. Dia membuka kertas yang dilipat sampai kecil. Kertas itu ternyata ada dua lembar. Lembar pertama bertuliskan dengan huruf besar.

RAHASIA YANG DIPENDAM. CEPAT ATAU LAMBAT, PASTI AKAN TERUNGKAP.

Ardan mengernyit saat membaca tulisan itu. “Rahasia apa?”

Dia hendak membuka lembar kedua, tetapi saat dia ingin membaca tulisan di kertas itu, matanya tidak bisa dikompromi. Dia menguap dan mendongak, menatap jam dinding di depannya. Jarum pendek menunjukan setengah dua dini hari.

Ardan memutuskan membaca tulisan pada kertas kedua, setelah pulang kuliah. Dia menyelipkan foto dan kertas itu di jurnal miliknya. Jurnal itu masih berisikan curahan hatinya sehari-hari. Setelahnya, dia membaringkan tubuhnya dan bersiap masuk ke alam mimpi.

***

Hari itu, Ardan berkegiatan seperti biasa, masuk satu persatu ruangan mata kuliah sesuai jadwal. Dia melewatkan setiap mata kuliah dengan fokus, seolah tidak ada hal lain yang dia pikirkan. Di sisi lain, jiwa penasaran akan isi di kertas itu kembali muncul.

Saat semua jadwal mata kuliahnya sudah selesai, Ardan bergegas membereskan semua peralatannya, hingga kedua sahabatnya mengernyit melihat dirinya.

“Lo mau ke mana? Buru-buru banget,” tanya Landry dengan kening yang masih mengernyit.

Ardan tersenyum tipis, dia menyampirkan ranselnya di bahu. “Gue punya petunjuk baru. Nanti kalau udah jelas, gue cerita semuanya. Gue duluan.”

“Hati-hati.”

“Jangan lupa besok diskusi lagi materi presentasi minggu depan,” ucap Landry mengingatkan.

Ardan hanya mengangkat kedua ibu jarinya tanpa menoleh, hingga dia menghilang di balik pintu kelas.

Elvano sudah selesai memasukan semua perlengkapan kuliah di tasnya. “Dia semangat banget dapat petunjuk.”

Landry mengangguk. “Yok, kita juga balik.”

Pemuda yang tersenyum sampai mata menghilang itu hanya mengangguk. Bersama Landry, keduanya berjalan beriringan menyusuri koridor kampus.

Ardan kini berada di parkiran kampus, saat hendak memakai helm, sebuah suara memanggilnya. Matanya membulat saat melihat seorang gadis yang sudah di sampingnya.

“Haruna.”

Gadis yang dipanggil Haruna tersenyum. “Hai, Ar. Udah lama nggak ketemu.”

Ardan mengangguk. “Lo bukannya di luar negeri? Udah liburan?”

Haruna menggeleng. “Gue di sini lagi persiapan pindah kampus.”

“Kenapa pindah? Bukannya kuliah di luar lebih enak?”

“Iya, kata orang sih gitu, tapi gue pengen kuliah di tempat kelahiran gue. Kalau di sini, gue bisa ketemu dan nongkrong lagi bareng Lili. Dia selama di sana ribut mulu suruh gue pulang.” Haruna tertawa pelan, dia melihat sekeliling kampus. “Kayaknya gue kuliah di sini.”

Mata Ardan mengerjap. “Lo beneran mau kuliah di sini?”

Haruna mengangguk mantap, dia menatap pemuda di sampingnya dan tersenyum. “Iya. Lo kuliah di sini juga?” Ardan hanya mengangguk sebagai jawaban. “Gue udah yakin kuliah di sini. Besok lo temenin gue keliling kampus. Lo pasti mau temenin gue keliling kampus.”

Kalimat terakhir gadis itu pernyataan bukan pertanyaan, tetapi Ardan tetap mengangguk. “Iya, besok gue temenin.”

Haruna tersenyum hingga cekungan di tulang pipinya terlihat. “Makasih, Ardan. Lo memang terbaik.”

“Jadwal kuliah gue udah selesai, lo mau tetap di sini? Masih ada sih, anak-anak lain. Lo kesini sama siapa?”

“Gue sama Lili. Dia lagi ke toilet.” Dia melihat Lili sedang berjalan mendekatinya. “Tuh, anaknya.”

“Haruna, lo sering ninggalin gue,” gerutu Lili yang hanya dibalas dengan senyuman dari sahabatnya. Gadis itu memutar kedua mata malas, dia menoleh kearah Ardan. “Eh, ada Ardan. Lo kuliah di sini?”

“Iya. Gue kuliah di sini bareng Elvano dan Landry.”

Lili mengangguk. “Udah gue duga. Kalian bertiga terkenal sebagai sahabat yang nggak pernah pisah.”

“Gue putusin kuliah di sini.”

Mata Lili membulat menatap sahabatnya. “Serius?”

Haruna mengangguk yakin, yang dibalas dengan tatapan mencurigakan dari sahabatnya. “Lo sakit mata?”

Lihat selengkapnya