The Room

Kim Raeneul
Chapter #10

Room Sembilan - Kisah Rian, Amel, dan Irawan

Saat Rian pulang kerja, Amel memberitahu pria itu tentang foto dan surat yang ditemukan anak sulungnya. Mereka sepakat setelah makan malam, keduanya akan memberitahu Ardan tentang ayah kandungnya.

Malam harinya, setelah makan malam, Ardan, kedua orang tua, dan adiknya berkumpul di ruang keluarga. Dia akan mendengarkan penjelasan dari mama dan papanya tentang foto dan surat dari Irawan.

Radi menatap kakak dan kedua orang tuanya bergantian, sampai detik ini tidak ada suara satu pun dari mereka. Mamanya sudah memberitahu jika dirinya juga harus ikut mendengar cerita dari kedua orang tuanya.

Pemuda itu hanya menurut, tanpa tau penjelasan yang ingin disampaikan mama dan papanya. Dia berdeham memecah keheningan di ruang keluarga.

“Mama sama Papa mau jelasin apa sama aku dan Kak Ardan?”

Amel melirik suaminya yang dibalas dengan anggukan dan genggaman tangan untuk menguatkan dirinya. Wanita dua anak itu menghela napas pelan, dia meletakkan foto polaroid dan surat di atas meja.

Radi mengernyit melihat foto dan kertas itu. Dia mengambil foto polaroid Irawan dan Ardan saat masih kecil.

“Ini bukannya Kak Ardan masih kecil? Laki-laki di sebelahnya siapa?”

Amel melirik anak bungsunya dan tersenyum. “Radi, penjelasan yang nanti kamu dengar dan apa pun yang terjadi setelah ini, kamu harus tau kalau Kak Ardan itu tetap kakak kamu. Kita masih keluarga.”

Kernyitan anak bungsunya semakin dalam. Pemuda itu menggeleng. “Aku nggak ngerti, Ma.”

Wanita itu kembali menghela napas pelan. Dia melirik tangannya yang digenggam suaminya semakin erat. Tatapannya kini beralih kepada Rian yang tengah menatapnya.

“Kalau Mama nggak kuat cerita, biar Papa aja yang mulai.”

Amel menggeleng. “Aku yang akan jelasin semuanya, Pa.”

Rian hanya mengangguk. Dia tetap mendukung keputusan istrinya. Pria itu melirik Ardan yang sedang menatapnya. Dia hanya tersenyum kepada pemuda itu.

Amel menatap anak sulungnya. “Ardan, surat yang kamu baca tadi semuanya benar. Irawan adalah Ayah kandung kamu.”

“Jadi Pak Irawan Ayah kandung aku?” tanya Ardan dengan nada lirih. Dia hanya ingin memastikan semua yang dia dengar.

Amel mengangguk. “Iya, Ardan. Irawan, Ayah kandung kamu. Maaf, Mama dan Papa baru kasih tau kamu sekarang.”

“Ardan, walaupun kamu bukan anak kandung Papa. Papa tetap sayang sama kamu. Papa sayang sama kamu, seperti Papa sayang sama Radi,” timpal Rian.

Pria itu meyakinkan Ardan, jika dia tetap menyayanginya. Walaupun pemuda itu bukan anak kandungnya.

Ardan menatap kedua orang tuanya bergantian tak terbaca, sama seperti perasaannya yang tidak menentu.

“Mama, Papa boleh jelasin semuanya sama aku? Di surat itu, Ayah kandung aku ... Ayah Irawan bilang, Ayah dan Mama nggak bersama. Apakah aku anak haram seperti teman-teman aku bilang saat aku masih kecil?”

Mata Amel membola mendengar pertanyaan anaknya. “Teman-teman kamu pernah bilang kayak gitu? Kapan? Kenapa kamu nggak cerita sama Mama dan Papa?”

Ardan menggeleng. Dia tersenyum tipis saat mengingat semua kejadian yang dia alaminya. “Itu nggak penting, Ma. Waktu Radi lahir, Mama nitipin aku lama sama Bibi di Bandung.”

Mata Radi membola mendengar obrolan kedua orang tua dan kakaknya. Dia masih mencerna semua info yang baru dia ketahui.

Amel menunduk. Rasa bersalah hinggap di hati wanita itu. “Maafin Mama, Ardan.”

“Aku akan dengerin semua cerita Mama dan Papa dari awal. Mama dan Papa udah janji untuk jelasin semuanya.”

Mamanya mendongak, kedua matanya berkaca-kaca saat menatap anak sulungnya. Wanita itu kembali menghela napas pelan.

“Mama akan cerita dari awal, tapi kamu harus kasih tau Mama dan Papa tentang teman-teman kamu yang bilang kamu anak haram.”

Ardan hanya mengangguk. Jika dia menolak, mamanya tidak akan menjelaskan tentang Irawan kepadanya. Amel yang melihat anaknya menuruti perkataannya, dia mulai menceritakan semuanya.

***

Amel berkuliah mengambil jurusan pendidikan, menuruti keinginan kedua orang tuanya menjadi seorang guru. Saat kuliah, dia bertemu Irawan. Pemuda itu yang mendekatinya terlebih dulu. Beberapa bulan kemudian, keduanya semakin dekat dan mereka memutuskan untuk berpacaran.

Amel tentu saja memberitahu kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Irawan, tetapi Appa dan Ema, panggilan untuk kedua orang tuanya, tidak menyetujui hubungan keduanya.

Appa dan Ema sudah menjodohkan kamu dengan anak teman Appa, namanya Rian. Dia sudah bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Dia sudah punya penghasilan setiap bulannya, beda dengan pacar kamu yang masih kuliah. Uang aja masih dikasih sama orang tuanya.”

Irawan sekarang kuliah sambil kerja. Walaupun masih magang, dia sudah punya penghasilan setiap bulannya. Aku nggak mau dijodohin, Appa. Aku juga belum kenal dengan cowok yang namanya Rian itu.”

Besok Rian dan kedua orang tuanya akan ke sini. Saat itu kamu harus kenalan sama dia.”

Aku nggak mau. Untuk kali ini, jangan paksa aku, Appa. Aku udah nurutin keinginan Appa untuk jadi guru.”

Kamu jangan membantah, Amel. Appa melakukan hal ini untuk kebaikan dan masa depan kamu. Irawan mungkin sekarang bekerja sambil kuliah, tapi kalau sudah lulus, belum tentu dia bisa dapat pekerjaan yang bagus.”

Appa menatap anaknya tajam. “Beda dengan Rian. Dia sudah resmi menjadi PNS. Nanti kalau udah pensiun, dia akan dapat pensiunan setiap bulan.”

Amel menatap sendu dan meminta pertolongan kepada Emanya yang duduk di sebelah Appa, tetapi Ema hanya menggeleng.

Lihat selengkapnya