The Room

Kim Raeneul
Chapter #11

Room Sepuluh - Hubungan Rumit

 “Tadi aku udah ngobrol sama Rian, dari hasil obrolan itu, kami menolak perjodohan ini.”

Semua mata kedua orang tua Amel dan Rian membola saat mendengar ucapan dari gadis itu. Sedetik kemudian, suara tawa pelan terdengar dari Appa.

Bapak, Ibu Dinata, jangan terlalu dipikirkan ucapan Amel. Dia suka becanda dan nggak bermaksud menolak perjodohan yang udah kita sepakati.” Mata Appa menatap mengintimidasi anaknya. “Amel, kamu cuma becanda, kan?”

Amel menggeleng yakin. “Amel nggak becanda, Appa. Dari awal aku nggak setuju dengan perjodohan ini.”

Gadis itu tersenyum dan menatap kedua orang tua Rian bergantian. “Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Om dan Tante, dengan hati yang tulus, aku minta maaf kepada Om dan Tante. Aku nggak bisa terima perjodohan ini.”

Matanya beralih menatap Rian. “Aku udah bilang sama Rian, alasan nggak bisa menerima perjodohan ini. Aku sudah punya pacar. Aku juga satu kampus sama dia, dan udah lama kami berpacaran. Bahkan sebelum saya tau, kalau saya sudah dijodohkan dengan Rian.”

Amel menghela napas pelan. “Aku sudah bilang sama Rian tentang itu. Rian mengerti dan menerima jika aku menolak perjodohan ini. Sekali lagi, aku minta maaf kepada Om, Tante, dan Rian.”

Amel menunduk perlahan, sebagai ungkapan permintaan maafnya. Appa menatap tajam anak perempuannya. Dia merasa malu karena putrinya berani menolak perjodohan yang sudah lama direncanakan.

Ema menggenggam erat tangan suaminya yang membuat pria yang duduk di sampingnya menoleh. Seolah tau isi pikiran suaminya, wanita itu menggeleng pelan.

Pak Dinata dan Ibu Dinata tersenyum tipis. Keduanya kompak menatap anaknya yang duduk di samping mereka.

Rian, apakah benar yang diucapkan Amel?”

Rian menoleh kearah kedua orang tuanya, perlahan pemuda itu mengangguk. “Iya, Ma, Pa. Amel udah bilang semuanya. Aku nggak bisa paksa dia untuk menerima perjodohan ini. Aku juga nggak masalah kalau perjodohan ini dibatalkan.”

Amel tersenyum dan menghela napas lega saat mendengar ucapan Rian. Pemuda itu mendukung dan mengerti keputusannya.

Ibu dan Bapak Dinata mengangguk. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu mereka tersenyum kepada Amel dan kedua orang tuanya.

Sepertinya keputusan sudah dibuat sama anak-anak kita. Walaupun agak kecewa dengan keputusan Amel dan Rian, saya tidak akan memaksa mereka. Perjodohan ini, memang saya dan Appa Amel merencanakannya, tetapi Amel dan Rian yang akan menjalaninya,” ucap Pak Dinata.

Ibu Dinata mengangguk. “Amel dan Rian yang akan menjalani masa depan mereka. Kalau dipaksakan dan mereka tidak ikhlas menerima perjodohan ini, bukan hal yang baik untuk keduanya.”

Appa menghela napas pelan. Hatinya menolak menerima keputusan anaknya. “Saya benar-benar minta maaf kepada Bapak dan Ibu Dinata atas keputusan Amel.”

Pak Dinata mengangguk. “Nggak apa-apa. Walaupun perjodohan anak kita batal, kita masih bisa bersahabat. Rian dan Amel juga masih bisa berteman. Nggak akan ada yang berubah sama persahabatan kita yang sudah lama terjalin.”

Pak Dinata tersenyum menggoda kepada Amel dan Rian. “Kalau Amel berubah pikiran, kita masih bisa berdiskusi lagi soal perjodohan ini.”

Papa,” tegur Rian saat mengetahui pak Dinata menggoda dirinya dan Amel.

Pak Dinata tertawa pelan. “Saya cuma becanda. Kalian wajahnya serius banget. Sedikit becanda nggak apa-apa, kan?”

Pak Dinata melihat Appa dan Ema hanya tersenyum kecil. Pria paruh baya itu, mengalihkan tatapannya kearah jam tangan yang melingkar ditangan kanannya. “Udah malam banget. Kami izin pamit pulang sekarang, takut kemalaman sampai rumah.”

Iya. Waktu nggak berasa cepat banget,” ucap Appa canggung.

Mereka sama-sama bangkit dari duduknya. Ibu Dinata dan Ema saling bersalaman dan mencium pipi kiri dan kanan. Begitu juga dengan pak Dinata dan Appa yang saling bersalaman.

Ibu Dinata tersenyum ketika melihat Amel, yang dibalas gadis itu dengan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan Rian.

Amel, mulai hari ini kamu udah jadi teman Rian, lain kali kamu main ke rumah kami.”

Iya, Tante.”

Bapak Dinata menghampiri Amel, gadis itu langsung mencium punggung tangan pria itu. “Nanti kalau kamu mau main, telepon Rian dulu, biar dia yang jemput kamu.”

Iya, Om, nanti kalau aku mau main ke sana, aku akan telepon Rian untuk tanya alamat rumahnya. Aku bisa ke sana sendiri, jadi dia nggak perlu repot jemput aku.”

Pak Dinata menggeleng. “Nak Amel jangan merasa nggak enak. Om yakin Rian nggak akan keberatan jemput kamu. Bener, kan, Rian?”

Rian mengangguk. “Iya, kita udah temenan. Jadi santai aja sama gue. Kalau gue nggak sibuk dan lo mau main ke rumah, gue akan jemput dan antar lo pulang.”

Apa ini? Gue kira dia emang baik dan pengertian, ternyata dia modus juga sama gue. Udahlah nggak usah dipikirin, yang penting perjodohan gue sama dia batal.”

Kalimat itu Amel ucapkan hanya dalam hati. Dia tidak mungkin mengatakan hal itu langsung di depan Rian dan kedua orang tuanya. Amel tersenyum dan mengangguk.

Iya, Om, Rian. Terima kasih.”

Setelah berpamitan, Rian dan keluarganya berjalan keluar rumah yang didampingi Amel, Appa, dan Ema. Amel dan kedua orang tuanya menatap tamu mereka sampai masuk mobil.

Lihat selengkapnya