Amel mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk pada retinanya. Kepalanya masih berdenyut, walaupun tidak separah tadi. Dia melihat beberapa botol berukuran kecil berjajar rapi di samping kanannya.
“Lo udah bangun?”
Suara dari temannya, membuat gadis itu menoleh. Dia mengangguk dan perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. Temannya dengan sigap membantunya.
“Terima kasih.”
Temannya yang bernama Salsa mengangguk. “Tadi gue kaget banget waktu lo pingsan. Untungnya ada Pak Adi yang bantu gue bawa lo ke UKS.”
“Maaf, gue ngerepotin. Lo nggak ngajar?”
“Gue baru selesai ngajar, langsung ke sini. Lo pingsannya lama banget.”
Kening Amel mengernyit. “Selama itu?”
“Iya. Kata Dokter Mira, lo kecapean dan kondisi lo lagi kurang fit, jadinya pingsan. Gue udah bilang ke murid-murid kelas dua, lo nggak bisa ngajar. Sebagai gantinya, mereka gue suruh ngerjain tugas.”
Salsa dan Amel mengajar di mata pelajaran yang sama yaitu matematika. Materi yang mereka ajarkan juga sama, jadi Salsa dengan mudah memberi tugas kepada murid kelas dua, kelas Amel mengajar, tanpa diskusi lebih dulu kepada temannya.
Amel mengangguk. “Sekali lagi gue ucapin terima kasih. Lo penyelamat gue.”
Salsa tertawa pelan. “Lo berlebihan deh. Hampir aja lupa. Gue bawa roti buat lo.” Dia meletakkan kantung hitam yang dipegangnya di samping Amel. “Dimakan rotinya. Nggak cuma roti ada air mineral juga.”
Amel membuka kantung hitam dan mengambil roti. Dia membuka bungkus plastik rotinya dan langsung melahap roti rasa vanila yang sudah dibelikan sahabatnya.
“Sekali lagi, terima kasih, Salsa. Nanti gue traktir sebagai imbalannya.”
“Lo kayak sama siapa aja. Gue tinggal nggak apa-apa? Sebentar lagi gue harus ngajar. Lo kalau masih pusing, pulang aja. Nanti izin sama Bu Rahayu, guru piket. Tadi gue udah bantu bilang sama Bu Rahayu, kalau lo sakit.”
Amel mengangguk. “Gue pikirin dulu, tapi sekarang udah mendingan sih. Tinggal lemasnya aja. Lo ngajar aja. Gue udah nggak apa-apa.”
“Gue tinggal. Jangan paksa ngajar, kalau nggak kuat.”
Amel hanya mengangguk. Dia melihat Salsa bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar UKS. Setelah temannya pergi, dia kembali memakan rotinya sampai habis dan membuka tutup botol air mineral yang sudah dibelikan temannya.
Saat sedang meneguk sedikit air mineral itu, dokter Mira menghampirinya. “Gimana keadaan Bu Amel? Sudah merasa baikan?”
Amel mengangguk. “Waktu bangun, kepala masih sedikit pusing, tapi sekarang udah hilang.”
“Bu Salsa pasti udah kasih tau penyebab Bu Amel sampai pingsan.”
“Iya, Dok. Saya juga udah ngira, pasti karena kecapean. Jadwal saya memang lagi sibuk banget. Tidur dan makan juga sering telat, tapi saya masih tahan. Baru kali ini, saya sampai pingsan.”
Dokter Mira mengangguk. “Sebenarnya ada hal lain yang ingin saya sampaikan.”
Kening Amel kembali mengernyit melihat wajah serius dari dokter di depannya. “Ada apa, Dok? Apakah ada penyakit yang parah?”
Dokter muda itu tersenyum lalu menggeleng. “Saya periksa, nggak ada penyakit yang parah. Bu Amel pingsan memang karena kelelahan. Ini baru dugaan saya saja. Faktor Ibu sampai pingsan itu bukan karena itu, tetapi Ibu Amel sedang hamil muda.”
Mata Amel mengerjap, tubuhnya mematung. “Saya hamil, Dok?”
Dokter Mira mengernyit melihat sikap Amel. “Ibu nggak tau, kalau Ibu sedang mengandung?”
Amel menggeleng. “Memang sudah seminggu lebih, setiap pagi saya selalu mual. Emosi saya juga nggak stabil. Kadang tiba-tiba sedih, tiba-tiba marah. Ada makanan yang saya pengen banget dan harus dibeli hari itu juga. Saya pikir, karena kegiatan saya yang sangat sibuk dan faktor jenuh.”
Dokter Mira mengangguk. “Dari ucapan Bu Amel, memang itu ciri-ciri ibu hamil muda, tapi untuk lebih jelas dan pasti, Ibu Amel bisa periksa ke dokter kandungan.”
“Terima kasih, Dokter sudah kasih tau saya. Nanti, saya langsung ke rumah sakit untuk periksa.”
“Iya. Kalau dugaan saya benar, Ibu Amel jangan terlalu lelah, karena hamil pada trisemester pertama itu rentan. Jadi harus dijaga baik-baik.”
“Baik, Dok.”
“Ibu Amel istirahat lagi aja. Saya permisi. Kalau ada perlu apa-apa panggil aja, saya duduk di sana.”
Dokter Mira menunjuk kearah bangku dan meja yang tidak jauh dari pintu UKS, diikuti dengan Amel yang menoleh, kearah yang ditunjuk olehnya.
“Iya, Dokter. Terima kasih.”
Dokter Mira mengangguk dan berjalan menuju meja kerjanya. Dokter muda itu kembali melanjutkan kegiatannya.
Amel menghela napas pelan. Dia melihat kearah perutnya yang masih rata. Jika dugaan dokter Mira benar, ada kehidupan baru yang akan tumbuh di rahimnya. Anak itu adalah anaknya dengan Irawan. Dia yakin dan pasti, karena dia hanya melakukannya dengan kekasihnya.
Ada rasa senang dihatinya, karena dia akan mempunyai anak bersama kekasihnya, tetapi di sisi lain dia memikirkan Appa. Sampai sekarang Appa belum merestui hubungannya dengan Irawan. Walaupun kekasihnya sudah berusaha mendekati dan meluluhkan hatinya.