Appa dibawa ke rumah sakit bersama Ema, Amel, dan supir pribadinya, pak Udin. Kondisi Appa sudah tidak sadarkan diri saat tiba di rumah sakit, dan langsung diberikan pertolongan. Ema bersama suster ke ruang administrasi untuk pendaftaran.
Amel duduk sendiri dengan mata yang basah di luar ruang instalasi gawat darurat. Dia meremas ujung bajunya kuat. Rasa bersalah semakin menghimpit dadanya. Dia tidak pernah membayangkan kondisi Appa yang memburuk setelah mengetahui tentang kehamilannya.
Appa memiliki riwayat penyakit jantung, walaupun pria paruh baya itu sudah menjalankan hidup sehat. Amel sangat mengetahui jika Appa tidak boleh mendengar kabar secara mendadak. Apalagi kabar kurang baik. Hal itu menjadi pemicu penyakit jantungnya kambuh.
Dia sudah berencana bersama Irawan untuk memberitahu kabar itu bersama, tetapi takdir memilih mempercepat kabar itu tanpa dia yang memberitahu. Amel tidak menyangka jika Appa akan menemukan semua barang mengenai kehamilannya yang dia simpan di kamarnya.
Amel tersentak saat merasakan seseorang menyentuh pundaknya. Dia menoleh dan melihat Ema tersenyum, berdiri di sampingnya. “Ma.”
Ema duduk di samping anak bungsunya. “Kamu beneran hamil?”
Amel mengangguk. “Maaf, Ema dan Appa harus tau seperti ini.”
“Sebenarnya Ema yang menemukan semua barang itu, tadinya Ema tidak akan memberitahu Appa, tetapi Appa udah masuk ke kamar kamu ... Ema terlambat menyembunyikannya lagi dari Appa. Maafin, Ema. Dalam hal ini Ema yang salah.”
“Nggak apa-apa, Ma. Amel juga udah rencana mau kasih tau Ema dan Appa bareng Irawan dari kemarin-kemarin, tapi kita sama-sama sibuk dan belum sempat kasih tau.”
Ema mengangguk. “Usia kehamilanmu udah berapa minggu?”
“Minggu ini masuk tujuh minggu, Ma.”
Ema hanya mengangguk. Kedua ibu dan anak tidak ada yang bersuara lagi. Kedua netra mereka bersama menatap ruang instalasi gawat darurat. Dokter yang memeriksa Appa keluar dari ruangan. Ibu dan anak itu langsung berdiri dan menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?”
“Kondisi pasien masih belum sadar. Dari hasil pemeriksaan, pasien mengalami serangan jantung dengan komplikasi syok kardiogenik. Akibat komplikasi yang parah, sehingga adanya kerusakan jaringan tubuh dan perlu dipasang alat bantu.”
Amel mengangguk pelan. “Lakukan yang terbaik, Dokter. Agar Appa cepat sembuh.”
“Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk proses pemasangan alat pacu jantung. Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat sambil menunggu hasil pemeriksaan lainnya.”
Tak lama, Appa yang masih terbaring, keluar dari ruang instalasi gawat darurat, bersama dua orang perawat yang mendorong brangkar. Amel dan Ema mengikuti kedua perawat menuju kamar rawat.
Di kamar rawat, Amel duduk di sofa yang sudah disediakan. Anak dan ibu itu memilih kamar VIP yang hanya dihuni satu pasien, agar Appa bisa diberi pengobatan maksimal, tanpa diganggu pasien lain.
Dua perawat yang mengantar, sudah selesai dengan tugas mereka dan berpamitan keluar ruangan. Kedua perawat sudah keluar dan tinggallah ibu dan anak menjaga Appa.
Ema berjalan mendekati anak bungsunya dan duduk di sebelahnya. “Amel, sebaiknya kamu pulang aja. Biar Ema yang jaga Appa.”
“Nggak apa-apa, Ma. Aku temani Ema di sini.”
“Kamu lagi hamil muda. Nggak boleh kecapean. Besok abis ngajar kamu bisa ke sini. Ema bisa jaga Appa sendiri. Kata suster, pemeriksaan lanjutan dimulai besok.”
Amel mengangguk. “Kakak-kakak nggak akan dikasih tau?”
“Tadi Ema udah bilang sama Kak Alia. Katanya lagi dalam perjalanan menuju ke sini. Kakak kamu yang lain masih sibuk. Mungkin besok, semua ke sini jenguk Appa.”
Amel mengangguk. Tak lama, Alia bersama suami dan anaknya datang, Reno dan Liana. Mereka secara bergantian mencium punggung tangan Ema.
“Ma, gimana ceritanya Appa bisa kambuh?”
Ema melirik Amel yang berdiri di sampingnya, tatapannya beralih kepada suaminya yang masih belum sadar. “Kalian duduk dulu. Ema akan cerita semuanya.”
Reno dan Alia mengangguk. Liana yang masih berusia tujuh tahun sudah duduk di samping adiknya. Alia duduk di samping anaknya di sofa yang sudah diduduki oleh Amel dan Ema. Reno duduk di bangku plastik yang tersedia di sana.
Ema melihat anak, menantu, dan cucunya sudah siap mendengarkan cerita alasan penyakit jantung Appa kambuh. Wanita paruh baya itu menghela napas pelan, lalu mengeluarkannya perlahan.
“Ma, biar aku aja yang cerita.”
Semua yang ada di sana menoleh kearah Amel. Ema hanya tersenyum dan mengangguk. Saat itulah Amel menceritakan semuanya kepada kakak dan kakak iparnya.
Mata Reno dan Alia kompak mengerjap mendengar cerita dari adik mereka. Mereka tidak memotong ucapan Amel. Sampai akhirnya gadis itu sudah selesai bercerita.
“Aku kira kamu paling penurut di antara kita, ternyata diam-diam menghanyutkan,” canda Alia. Wanita itu melihat adiknya hanya menunduk, tidak berani menatapnya. “Setelah Appa sadar, apa yang akan kamu lakuin selain minta maaf?”