The Room

Kim Raeneul
Chapter #14

Room Tiga Belas - Kita Tetap Keluarga

 “Ardan, sekarang kamu yang cerita. Sejak kapan kamu diledek sama teman-teman kamu?”

Pertanyaan itu sontak membuat Ardan menoleh kearah mamanya. Dia menatap wanita yang sudah melahirkannya dengan tatapan tak terbaca, seraya menghela napas pelan dan mengembuskannya perlahan.

“Aku nggak ingat. Kapan pertama kali mereka bilang gitu sama aku. Mungkin waktu aku masih di Bandung bersama Bibi Ria, atau aku udah pindah ke sini.” Pemuda itu menggeleng pelan. “Aku nggak tau.”

Pikirannya kembali mengingat tentang hinaan dari teman-temannya. “Yang aku ingat, mereka bilang aku punya dua Bapak, aku anak haram, dan aku tinggal sama Bibi, bukan sama orang tua. Waktu itu, aku nggak ngerti sama yang mereka omongin. Aku bilang, aku cuma punya satu Papa.”

Amel menatap sendu anaknya. Semua hinaan yang mengarah kepada anak sulungnya, akibat kesalahannya di masa lalu. Wanita itu tidak menyesal memiliki Ardan dalam hidupnya. Anak sulungnya yang hampir beranjak sembilan belas tahun itu, tetap anak satu-satunya bersama Irawan.

“Maaf, karena Mama, kamu harus diledek sama teman-teman kamu. Mama juga salah, karena udah nitipin kamu selama bertahun-tahun sama Bibi Ria.”

“Nggak apa-apa, Ma. Mama nggak salah, tapi aku boleh tau. Kenapa Mama dan Papa titipin aku sama Bibi Ria?”

Amel menghela napas pelan. Pikirannya kembali menerawang saat Ardan berumur dua tahun. “Mama, sebenarnya nggak mau nitipin kamu sama Bi Ria, tapi Mama dan Papa harus pindah ke sini. Sementara kamu selalu bilang nggak betah di sini. Kamu selalu bilang mau di Bandung.”

Amel menoleh menatap anak sulungnya. “Makanya, Mama titip kamu sama Bi Ria. Kamu waktu itu senang banget tinggal di sana bareng sepupu-sepupu kamu. Selain itu, kalau kamu tinggal di Bandung, kamu bisa lebih dekat sama Ayah kamu.”

Sebelum menikah, Amel tinggal bersama orang tuanya di Bandung. Begitu juga dengan Rian yang tinggal bersama keluarganya, tetapi di daerah yang berbeda dengan dirinya.

Satu tahun setelah pernikahan, papa dua anak itu dipindahtugaskan di kota lain, yaitu kota Baru, sehingga dia mengajak istri, orang tua, dan anaknya pindah ke tempat kerjanya yang baru.

Di kota Baru, Amel dan Rian tidak tinggal serumah dengan kedua orang tua Rian, tetapi rumah mereka dan rumah keluarga Dinata masih berdekatan.

Amel hanya menuruti keinginan anak sulungnya, sehingga dia menitipkan Ardan di rumah kakak ketiganya, Ria, sampai anaknya ingin kembali tinggal bersama keluarga kandungnya.

Selama tinggal di rumah Ria, wanita itu mengetahui jika Irawan selalu menemui Ardan dan mengajaknya bermain. Saat itu, Irawan yang meminta izin kepadanya langsung.

Kakaknya juga sering cerita tentang ayah kandung Ardan itu yang sering berkunjung ke rumahnya, untuk bertemu anaknya. Irawan dan Rian sering mengirim foto ketika pria itu sedang bersama anak kandungnya.

Beberapa detik hanya hening yang tercipta di ruang keluarga itu. Suara Ardan lebih dulu memecah keheningan. “Ma, Mama pernah ninggalin aku di wahana bermain? Kata Mama, Mama pergi sebentar, tapi yang jemput aku Bibi Ria.”

Kening Amel mengernyit. “Seinget Mama, Mama nggak pernah ninggalin kamu. Apalagi di wahana bermain. Mama selalu lihatin kamu main sama sepupu-sepupu kamu.” Wanita itu melihat kening Ardan yang mengernyit. “Ada apa, Ar? Kamu ingat apa?”

“Nggak, Ma. Itu mimpi aku yang lihat anak kecil di wahana bermain ditinggal sama Mamanya, terus yang jemput Bibinya.”

“Kamu kira mimpi itu tentang Mama yang ninggalin kamu?”

“Aku nggak tau, Ma, tapi aku sering mimpi anak kecil itu. Setelah aku ingat semua masa kecil aku, ada kejadian yang sama dengan mimpi aku, kecuali anak kecil di wahana itu. Makanya aku nanya Mama.”

Amel mengangguk. “Itu cuma mimpi. Jangan terlalu dipikirin.”

“Iya, Ma.”

Rian melihat jam dinding yang berada di atas televisi. “Udah jam sepuluh. Sebaiknya kita istirahat. Ardan dan Radi, besok harus kuliah dan sekolah.”

Kedua kakak dan adik itu mengangguk. Keduanya bangkit dari duduknya, disusul kedua orang tua mereka.

“Ardan.” Pemuda itu menoleh menatap papa di depannya. “Papa, minta maaf, karena kamu baru tau cerita tentang Ayahmu sekarang. Papa harap, kamu nggak benci sama Mama, Papa, dan Ayah kamu.”

Ardan menggeleng. “Nggak, Pa. Aku nggak akan benci sama Papa, Mama, dan Ayah. Terima kasih, karena Papa udah sayang dan terima aku, walaupun aku bukan anak kandung Papa.”

Ardan memeluk Rian, yang dibalas tepukan pelan di punggung dari papanya. Pelukan anak dan papa terlepas, pemuda itu memeluk mamanya. Dia hanya memeluk mamanya erat tanpa ada satu pun kata yang terucap.

Beberapa saat, Ardan melepas pelukannya kepada wanita yang sudah melahirkannya. Dia tersenyum, menatap wanita yang sudah melahirkannya lekat.

“Terima kasih, karena udah melahirkan aku. Terima kasih, Mama nggak benci aku, walaupun aku lahir dari sebuah kesalahan.”

Amel menggeleng. “Setiap anak yang lahir bukan kesalahan, tetapi perilaku Mama dan Ayah yang salah. Maafin Mama. Mama sadar, Mama bukan orang tua yang baik. Terima kasih, karena kamu nggak benci sama Mama, walaupun Mama baru buka rahasia terbesar dalam hidupmu.”

“Aku sayang Mama.” Ardan menoleh kearah Rian dan Radi bergantian. “Aku juga sayang Papa dan Radi.” Kedua orang tua dan adiknya hanya mengangguk. “Aku ke kamar dulu. Selamat istirahat.”

Amel, Radi, dan Rian menatap Ardan yang berjalan menuju kamarnya, sampai pintu kamar pemuda itu tertutup.

“Radi,” panggil Rian.

Radi menoleh kearah orang tuanya. “Ada apa, Pa?”

“Kamu sekarang udah tau, kalau Kak Ardan itu bukan anak kandung Papa. Kak Ardan memang punya Papa yang berbeda, tetapi kalian berdua masih tetap saudara, dan kita masih keluarga.”

Lihat selengkapnya