The Room

Kim Raeneul
Chapter #15

Room Empat Belas - Ending

Ardan terbangun dari tidurnya. Pertemuan dan obrolannya bersama ayah kandungnya hanya mimpi, tetapi hatinya merasa lega. Sebelum Irawan menghilang dan dia kembali ke dunia nyata, dia sudah mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Irawan juga berjanji, akan hadir di mimpinya saat dia merindukan pria itu.

Dia mendongak, menatap jam dinding yang berada di depannya. Jarum pendek mengarah pada angka lima. Ardan meraih gelas yang berada di meja belajarnya dan meneguk airnya sampai habis. Saat dia hendak bangkit dari duduknya, sebuah ketukan terdengar.

“Kak Ardan, udah bangun?”

Suara itu berasal dari Radi, adiknya di luar kamar. Ardan bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum ketika melihat adik di depannya.

“Ada apa?”

“Sebelum Kak Ardan siap-siap ke kampus, aku mau ngomong sama Kakak.”

Kening Ardan mengernyit. “Ayo, masuk.”

Radi mengangguk, dia melangkah masuk kamar kakaknya dan duduk di bangku depan meja belajar.

Ardan sudah duduk di tepi tempat tidurnya. “Kamu mau ngomong apa?”

“Aku cuma mau bilang, walaupun kakak dan aku beda Papa, tapi semuanya nggak akan ada yang beda. Jadi Kakak jangan merasa, kalau aku akan benci sama Kakak, atau Kakak merasa insecure sama aku. Kak Ardan tetap Kakak aku satu-satunya.”

Ardan tersenyum dan mengangguk. “Aku percaya, kamu nggak akan berubah. Walaupun kamu tau, aku bukan Kakak kandung kamu. Kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan insecure. Aku udah terima semua kenyataan tentang masa lalu aku.”

Mata Radi mengerjap, pemuda itu tersenyum. “Kak Ardan hebat. Nggak banyak orang yang terima luka masa lalunya dan mereka pasti benci sama orang-orang yang udah menyimpan rahasia mereka. Kak Ardan beda. Kakak benar-benar ikhlas sama masa lalu yang kurang enak.”

“Masa lalu kita nggak akan pernah berubah. Salah satu cara, kita harus terima dengan ikhlas dan berusaha tidak mengulang kesalahan di masa lalu.”

Radi mengangguk. Beberapa saat hanya keheningan tercipta, sampai suara kedua orang tua mereka terdengar.

Amel mengernyit melihat pintu kamar Ardan yang terbuka sedikit. Dia melangkah mendekati kamar anak sulungnya.

“Ar, kamu udah bangun?”

“Udah, Ma. Mama masuk aja.”

Amel membuka pintu kamar anaknya lebih lebar. Kedua matanya mengerjap ketika melihat anak bungsunya berada di kamar Ardan.

“Di, kamu tidur di sini?”

“Nggak, Ma. Semalam Mama lihat aku masuk kamarku sendiri. Mama pasti lupa.”

Amel tertawa pelan mendengar jawaban anak bungsunya. “Maaf, Mama lupa.”

“Mama, ada-ada aja. Aku ke sini mau ngobrol sebentar sama Kak Ardan, tapi sekarang udah selesai ngobrolnya.”

Amel mengangguk. “Kalian mandi dan siap-siap. Mama mau tanya, kalian mau sarapan apa?”

“Nasi goreng,” jawab Radi dan Ardan kompak. Keduanya saling bertatapan lalu tertawa pelan bersama.

Amel tersenyum melihat kekompakan kedua anaknya. “Kalian sehati banget. Mama siapin sarapan dulu. Kalian juga siap-siap.”

Amel melihat kedua anaknya mengangguk. Wanita dua anak itu keluar kamar anak sulungnya. Pagi itu, Ardan dan keluarga menikmati kebersamaan mereka, sebelum melaksanakan aktivitas masing-masing.

***

“Ardan.”

Ardan yang baru saja memarkirkan motornya, menoleh ketika mendengar panggilan dari seseorang. Dia melihat kedua sahabatnya yang juga baru datang.

“Baru datang, lo?” tanya Elvano.

“Pertanyaan lo basi, El. Lo bisa lihat sendiri, dia baru buka helm. Berarti baru datang,” jawab Landry.

Elvano memutar kedua mata malas. “Bisa aja, dia udah lama datang, tapi belum lepas helm. Makanya gue tanya.”

“Pagi-pagi udah ribut kalian berdua. Ayo, kita ke kelas mata kuliah pertama,” ajak Ardan.

Ardan melangkah duluan, yang disusul kedua sahabatnya. Mereka berjalan menyusuri koridor kampus.

“Nanti kita diskusi tentang presentasi di mana?” tanya Landry. Pemuda itu menoleh kearah kedua sahabatnya meminta jawaban.

“Di rumah gue aja,” jawab Ardan yang membuat sepasang mata kedua sahabatnya melebar.

Elvano menatap sahabatnya dengan tatapan menggoda. “Tumben. Ada apa ini?”

“Iya. Biasanya lo mau di rumah gue atau di rumah Elvano?” timpal Landry.

Ardan menoleh, menatap kedua sahabatnya bergantian. “Kalian udah lama nggak main ke rumah gue.Sekalian kalian ngerasain gimana angkernya rumah gue.”

Elvano memutar kedua mata malas. “Buset, kita ditumbalin.”

“Udahlah nggak apa-apa, nanti ke rumah dia aja, El. Bener sih udah lama kita nggak ke sana. Kali aja ada yang baru di rumah dia,” seloroh Landry.

Kening Ardan mengernyit menatap Landry. “Apaan yang baru? Rumah gue masih sama aja. Kalau kalian mau main ke rumah gue, ayo aja. Gue traktir kalian banyak camilan.”

Elvano mengangguk. “Nanti pulang kampus gue sama Landry ke rumah lo. Beliin camilan yang banyak.”

“Iya, tapi lo bayar sendiri.”

Elvano memukul bahu Ardan. “Itu namanya bukan traktir. Lo cari ribut sama gue.” Ardan dan Landry tertawa pelan melihat Elvano mendengkus kesal. “Kalian jangan ketawa. Nggak ada yang lucu.”

“Sensitif banget, El. Lo abis ditolak?” tebak Ardan.

“Tebakan lo tepat sasaran banget, Ar. Dia emang abis ditolak sama anak bisnis yang udah lama dia suka. Kasian,” goda Landry.

Ardan mengangguk. “Pantas aja.”

“Diam kalian. Jangan pernah ngomongin dia lagi, sakit hati gue.”

Ardan menepuk bahu sahabatnya. “Kasihan banget temen gue. Nanti gue jodohin lo sama anak seni. Itu loh yang mirip artis Korea Shin Sekyung. Dia cantik, cocok sama lo.”

“Maksud lo, Zinnia Alesha.” Ardan hanya mengangguk sebagai jawaban. “Dia populer banget di jurusan seni. Gue dukung kalau lo sama dia, El.”

Lihat selengkapnya