Haruna tersenyum ketika membaca halaman terakhir jurnal yang dibacanya. Jurnal itu seperti novel dari toko buku, walaupun ada selipan jadwal kegiatan yang ditulis oleh pemiliknya.
“Masih dibaca jurnalnya?”
Suara itu terdengar dari arah kanannya, yang dibarengi dengan sebuah tangan memeluk lehernya dari belakang. Kepala orang itu menyusup mencium bahunya. Hal itu membuat dirinya tersenyum.
“Udah sampai halaman akhir.”
Orang itu mempererat pelukannya dan menyandarkan dagunya di bahu Haruna. “Kamu betah banget baca sampai halaman terakhir.”
“Gimana ya? Cerita di jurnal ini seru. Kayak novel horor nanggung, yang kebanyakan kisah sedih, karena drama keluarga. Aku paling suka kalimat terakhir jurnal ini. Enggak semua horor menakutkan, ada kalanya setiap cerita horor ada pelajaran hidupnya.”
Orang yang memeluk Haruna mengangguk. “Aku juga suka kalimat itu.”
“Ardan, terima kasih. Udah izinin aku baca jurnal tentang kisah hidupmu. Walaupun ada iklannya. Untung aja jadwal yang kamu tulis bukan jadwal yang aneh-aneh.”
Orang yang memeluknya adalah Ardan. Pria yang sekarang sudah menjadi suaminya. Cerita singkatnya, di tahun ketiga mereka kuliah, dia menyatakan perasaannya kepada Haruna. Tentu saja wanita yang kini bekerja sebagai perawat menerima perasaan pria yang kini memeluknya.
Haruna dan Ardan sama-sama sudah saling menyukai saat sekolah. Hanya saja mereka baru mengetahui perasaan satu sama lain saat kuliah. Setelah wisuda, mereka bekerja sesuai jurusan masing-masing.
Haruna mengambil Program Profesi Ners selama satu tahun dan praktik klinik di rumah sakit. Setelah lulus Program Profesi Ners, dia mengikuti Uji Kompetensi Ners dan lulus.
Setelah itu, dia mendapatkan surat tanda registrasi dari konsil tenaga kesehatan. Saat ini, Haruna juga sudah mendapatkan surat izin praktik dari dinas kesehatan.
Sementara Ardan, setelah lulus kuliah, langsung bekerja di perusahaan ternama di kota Baru. Dua tahun kemudian, dia melamar Haruna menjadi istrinya. Tentu saja, langsung diterima oleh gadis itu. Saat ini, pernikahan mereka sudah berusia satu tahun.
Ardan mengangguk. Dia mengecup puncak kepala istrinya dan melepaskan pelukannya. Kini, dia duduk di samping Haruna.
“Aku juga terima kasih sama kamu, karena udah nerima aku jadi suami kamu.”