The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #1

PROLOG

“Aku tidak sudi lihat dia lagi!” Lagi-lagi aku tersentak mendengar teriakan perempuan itu yang telah merusak khidmatnya pagi. Kadang teriakannya sangat jelas, kadang samar-samar. Lain waktu terdengar serak dan mengerang seperti kesakitan. Pernah juga disusul suara krompyang panci jatuh ke lantai. Pagi yang syahdu yang lazimnya terdengar suara burung berkicau atau ayam berkokok, malah sebaliknya suara teriakan dan sumpah serapah. Jelas membuat rasa penasaranku menjadi-jadi. Apa yang telah terjadi di belakang rumah kontrakan ini? Jiwa detektifku menyala tiba-tiba.

Kehidupanku berubah 180 derajat hanya karena suara teriakan seorang perempuan paruh baya yang sebenarnya berwajah ayu tapi wajahnya berubah keruh saat mengingat masa lalu yang pedih. Aku pun tak menyangka sama sekali bahwa suara serak penuh emosi dan menakutkan itu bukan membuat aku mengkerut, tapi anehnya membuatku semakin penasaran pada apa yang sedang terjadi.          

  “Mbak Sanny, sampeyan yakin mau kontrak rumah ini?” tanya Bu Sinten yang rumahnya pas di depan rumah kontrakanku saat pertama kali bertemu pagi itu. Aku mengangguk mantap mengingat sudah membayar lunas untuk dua tahun ke depan dan kata pemilik rumah bisa perpanjangan kontrak kalau cocok. Harganya juga tidak terlalu mahal buat anak kuliahan seperti aku karena rumah ini tidak terlalu besar; hanya satu kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dapur, ruang belajar yang tidak terlalu besar dan ruang jemuran di bagian belakang.

“Jangan kaget kalau dengar suara teriakan dari belakang rumah,” bisiknya sok penuh misteri.

  “Hantu?” Aku terkesiap penuh tanda tanya.

  “Bukan, suara perempuan. Dia agak gimana gitu…”, jawab Bu Sinten dengan nada kurang yakin. Ah, aku hapal sekali, itu adalah nada kalimat tukang ghibah dengan ekspresi wajah template alis bertaut dan mata agak melotot penuh provokasi.  

   “Jadi bukan hantu, kan?” tanyaku mencoba memastikan. Aku tersenyum pada perempuan tinggi langsing dan rambut dicepol itu. Dia menggeleng yakin. Rasanya tidak kaget, dimana-mana selalu bertemu para penggosip berujung fitnah tak berdasar. Tunggu, tadi dia bilang “dia agak gimana gitu”, maksudnya apa? Entahlah, yang penting bukan rumah kosong berhantu, itu sudah cukup melegakan hati. Sebab aku tidak percaya dengan dunia perhantuan.

Aku menghembuskan napas panjang, mengambil kunci di saku celana, lalu memasuki rumah kontrakan dengan tersenyum kecil sambil menggeleng dan berbisik ada-ada saja.

  Sebenarnya suasana perumahan di sebuah lahan kavling ini cukup ramai, tapi rumah kontrakanku ini berada di ujung jalan yang agak sepi dibandingkan kondisi lingkungan di bagian depan perumahan. Sebab banyak rumah yang memasang tulisan besar DIJUAL, DIKONTRAKKAN TANPA PERANTARA dan mencantunkan nomor HP. Faktanya banyak rumah kosong di sekitar sini sudah dikelilingi rumput liar setinggi orang dewasa. Rungsep dan berantakan. Mungkin pemilik rumah sudah lama tak menyambangi rumah kosong itu. Namun aku tahu pasti bahwa rumah kontrakan ini adalah tempat terbaik sebab tidak terlalu jauh dari kampus yang jaraknya kurang dari 2 kilometer.    

 

                                                                       *****

Mungkin ini salah satu tabiatku yang kurang bagus, sebab selalu penasaran dengan “orang baru”. Padahal punya coriousity pada hal baru itu sangat positif, bukan? Ini karena Nancy sahabatku yang satu kampus Fakultas Psikologi memberi saran beberapa bulan lalu agar pindah kos atau cari rumah kontrakan supaya lebih nyaman untuk hobi menulis.

Benar, setelah beberapa hari di rumah baru ini, aku merasa ide Nancy memang yahud. Hatiku lebih tenang, tidak overthingking dan mengurangi bad mood secara signifikan. Aku yakin bisa menjalani kuliah semester empat ini dengan semangat empat lima. 

Lihat selengkapnya