The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #2

CHAPTER 1 : Pindah Kos

Kilat mata perempuan itu masih terbayang jelas, tak bisa terlupa. Mata yang terluka oleh masa lalu. 

Besoknya, terdengar langkah tergesa menuju rumah. Aku tebak pasti dia yang mengetuk pintu depan ketika aku sedang menyisir rambut lurus sebahuku. Buru-buru aku membukakan pintu dan menyapa ‘hai’. Ternyata dia menolak kupersilakan masuk dan duduk. Dia hanya berdiri tegak di teras dengan wajah kaku, “Aku hanya sebentar. Tak bisa meninggalkan ibu lama-lama. Aku…” Suaranya terdengar ragu. “Aku hanya ingin minta maaf untuk kata-kata ibu kemarin,” ujar Aswin dengan sorot mata menyesal. Aku mengangguk dan masih menyimpan berjuta tanya. Napasnya masih terlihat memburu.

Sementara aku masih belum bisa menata kata-kata di depannya. Rasanya otakku blank berada di depan cowok tegap ini. Sekuat tenaga aku mencoba untuk bersikap tenang.    

   “Ibuku tiba-tiba teringat masa lalunya. Wanita yang memakai baju merah,” terangnya tanpa kuminta.

  “Siapa yang pakai baju merah?” tanyaku hati-hati. “Eh, beneran kamu nggak mau duduk dulu?” Dia menggeleng cepat.

   “Dia perempuan selingkuhan ayahku, tapi ayah sudah meninggal.” Aku tersentak dan langsung menutup mulut.

     “Oh sorry aku enggak tahu,” ujarku terkesiap. Lalu cowok berwajah sendu itu pun mengangguk dan cepat-cepat berpamitan.

Sebelum pergi, dia minta maaf sekali lagi dan berjanji suatu hari kalau ada waktu panjang akan cerita banyak tentang ibunya. Aku tersenyum tipis menanggapi janjinya. Lebih tepatnya senyum tak percaya, meragukan janjinya. Sekaligus tak yakin pada diri sendiri benarkah aku akan bersedia mendengarkan ceritanya? Namun secara bersamaan tiba-tiba sosok baju merah itu begitu menggelitik seluruh nadiku. Sorot mata Aswin bagai magnet yang menggedor jantungku tanpa ampun. Aku jadi teringat Bu Sinten-tetangga depan rumah yang bilang “dia agak gimana, gitu”, ternyata benar apa yang dikatakan. Kisah kelam yang masih membayangi ibunya Aswin sampai sekarang jelas membuat hati hancur berkeping. Depresi berkepanjangan. 

Aku masih berdiri terpaku beberapa saat di depan pintu melihat kepergian cowok itu, mengendus keterusterangannya, lalu menggaruk kepala yang tidak gatal dan tiba-tiba memikirkan ibunya Aswin. Seberapa parahkah kejadian masa lalu sampai bayangan perempuan baju merah masih melekat hingga bertahun-tahun? Entahlah. Aku menarik napas panjang. 

Aku bersiap berangkat kuliah pagi dengan membawa sekeranjang pertanyaan tentang perempuan itu dan cowok bermata sendu yang membuat wajahnya semakin kalem sekaligus misterius. Seketika bayangan cowok itu begitu lekat menggedor-gedor hati yang tertambat.

Sesampai di kampus seperti biasa Nancy sahabat terbaik menghampiriku dengan penuh antusias, bertanya tentang suasana rumah kontrakan yang baru apakah aku kerasan. Aku hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum penuh rahasia. Kali ini aku ingin menggodanya. Kami duduk bersebelahan di bangku panjang di bawah pohon rindang.

Lihat selengkapnya