Sore itu matahari masih mencorong lantang berhias langit biru cerah bahkan cenderung panas padahal sudah hampir jam 4 sore. Aku sudah mandi dan bersiap berangkat ke kafe Melodius, kafe tempat nongkrong anak muda yang lumayan ramai setiap harinya. Harga kopinya tidak terlalu mahal dan makanannya juga enak-enak. Cocok dengan kantong remaja dan mahasiswa yang tidak terlalu jauh dari kampus.
Parfum aroma mawar sudah kusemprotkan ke pergelangan tangan dan leher. Sudah kupakai setelan casual; T-shirt lengan panjang hitam, celana panjang cokelat muda dan sepatu kets putih siap menemani langkahku. Juga make up tipis menghiasi wajah.
Tiba-tiba ada telpon dari Nancy, “Hei Kutu Buku, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” Aku tertawa mendengar kata-katanya yang sok tahu. “Kamu sedang mikirin pangeranmu itu, kan?”
“Halah pangeran siapa? Jangan sotoy! Kenal aja sebatas tahu nama,” protesku mendengar tawanya yang renyah seolah mengejek, padahal aku tahu kalau itu hanya bercanda.
“Terus mikir apa, cerita dong!” suara Nancy terdengar manja seperti ngobrol sama ibunya.
“Nan, ini sudah jam 4 kurang 10 menit. Aku harus berangkat ke kafe. Janji nanti malam kalau ada waktu aku telpon.” Aku menarik napas dalam dan menutup sambungan telpon.
Sepanjang perjalanan naik motor, tiba-tiba berkelebat keinginan menulis kisah tentang Aswin dan ibunya. Menulis novel lagi setelah dua novel sebelumnya dicetak penerbit indie. Kali ini aku ingin sekali mengirim naskah ke penerbit mayor. Masih menjadi mimpi karyaku nongkrong di rak buku best seller di toko buku besar. Aku yakin bisa meraih semua itu dengan kerja keras dan niat yang kuat. Setiap ke toko buku, aku selalu mengusap-usap dengan lembut buku-buku best seller yang bertengger di rak yang lebih tinggi. Memandang covernya, lalu membalikkan buku itu, membaca blurb sekilas dan menggumam, kapan ya bukuku ada di sini? Kubayangkan sejenak ada namaku terpampang di cover bagian bawah: SANNY INDIRA. Yang punya makna cahaya indah yang memberikan keadilan dan berani membela kebenaran. Itulah salah satu yang aku kagumi dari ibuku. Wanita cantik itu bisa memberikan nama yang jelita pula buat anaknya.
Aku tersenyum sendiri di atas motor sampai tiba di kafe. Sudah ramai pelanggan di sore yang cerah ini, secerah hatiku mengelus mimpi-mimpi yang masih belum terwujud. Aku memarkir motor Beat-ku di tempat khusus karyawan dan memasuki kafe ini sambil merapikan rambut sebahuku lalu melangkah masuk dengan gontai penuh percaya diri. Teman-teman lain mulai menyapa hangat, artinya mereka siap-siap pulang setelah kerja shift pagi sampai sore. Aku membalas senyum mereka seraya basa-basi bertanya seputar bagaimana keadaan kafe sepanjang hari ini. Kupasang celemek kulit berwarna abu-abu di badan. Musik romantis mulai membahana perlahan di seantero kafe. Kulirik ruangan kafe lantai dua, ada beberapa pasang cowok cewek; ada yang sedang berlagak romantis membelai rambut pasangannya, ada yang sibuk dengan laptopnya masing-masing dengan mimik serius, ada juga yang bergerombol dengan gengnya dengan gaya sok cool. Anehnya bisa dipastikan di sebuah kelompok cewek pasti ada satu cowok yang gerak-geriknya agak melambai dan selalu membuat kehebohan sebagai sumber kekocakan seperti di film Bebas. Terlihat di kejauhan dari pembatas kaca, mereka tertawa terbahak-bahak sampai ada yang memegang perut dan keluar air mata. Rasanya terbawa bahagia melihat mereka nyaman di kafe Melodius ini seperti di rumah sendiri.
Langit biru beranjak pergi pelan-pelan, berganti menjadi mejiku-merah jingga kuning bergradasi indah. Aku memandang sekilas ke depan kafe dan tersenyum memandang langit yang bersemu merah seperti gadis cantik sedang malu-malu bertemu dengan lelaki pujaannya. Senja bertamu di depan mataku, mungkin ini salah satu alasan yang membuat aku kerasan bekerja di sini. Ya, setiap hari kucium senja dengan aroma berbeda.
Sudah hampir 6 bulan aku bertahan bekerja di kafe ini, sebab pemiliknya memang baik. Mas Gilang- Owner kafe ini tetap mau menerimaku yang tidak punya pengalaman kerja dan mau mengajari bagaimana menjadi waitres yang baik, bagaimana melayani pelanggan dengan sabar, atau lebih tepatnya melayani pelanggan yang banyak maunya. Aku selalu ingat kata-kata Mas Gilang, “Kalau kamu mau bekerja keras dan tidak manja, tidak banyak protes, dengan senang hati saya menerima kamu, sebab kafe ini bukan tempat untuk anak-anak manja, tapi untuk yang mau bekerja keras.” Lelaki berambut ikal itu layaknya pahlawan yang ikut andil dalam napas keuangan kuliahku. Memang benar ada ibu yang membantu bayar uang kontrakan dan kuliah, tapi untuk kebutuhan sehari-hari aku harus bisa berusaha sendiri.