Aku pulang kerja dari kafe Melodius dengan perasaan berbeda. Ya, malam ini terasa spesial dari malam-malam yang lain. Ada kejadian tak terduga yang mungkin tak terlupakan; Aswin yang tiba-tiba muncul tanpa diundang dan membuat aku gelagapan seperti anak yang nyontek temannya saat ujian, rasanya seperti kehilangan muka. Dan kejadian unik untuk pertama kalinya ada gadis kecil tantrum yang menghebohkan pengunjung kafe dan ternyata bisa kuatasi dengan baik. Tiba-tiba ada perasaan hangat yang menjalar di seluruh tubuh. Aku tersenyum dalam tidur malam ini.
Ting! Belum deep sleep, aku meraba-raba ponsel yang tergeletak di sebelah kanan bantal dengan mata setengah merem. Siapa sih yang kirim pesan? Ibu atau Nancy? Kubuka dengan malas aplikasi pengiriman pesan itu.
Hai selamat tidur. Tak ada yang lebih menyenangkan dari menolong orang lain ya. Kamu memang kemana-mana bawa permen cokelat?
Aswin? Aku mengerutkan dahi tak percaya dengan tiga kalimat itu. Dapat dari mana nomor ponselku? Ah pasti dari salah satu karyawan kafe. Aku menghembuskan napas panjang. Aku harus jawab apa pertanyaan yang lucu ini, membuatku tiba-tiba batal mengantuk. Akhirnya aku hanya mengetik terima kasih.
Aku nggak harus tantrum dulu untuk bisa mendapatkan permen cokelatmu, kan? Boleh kapan-kapan ke rumahmu?
Boleh.
Aku tertawa membaca kalimatnya yang usil. Kayaknya harus tantrum dulu deh…
*****
Besoknya di kampus, aku ceritakan semua tentang ketidaksengajaan bertemu dengan cowok berambut cepak itu kepada Nancy. Dan si Tukang Kepo itu pun nyengir senang.
“Tuh, tandanya kalian berjodoh. Masa nggak ada angin, hujan, petir, pelangi, eh kalian dipertemukan oleh semesta yang maha baik?” celoteh Nancy dengan penuh semangat, lalu dia pun penasaran dengan sosok Aswin. “Pasti Tuhan punya alasan khusus mempertemukan kalian berdua,” tambahnya sok yakin. Aku pun menceritakan secara singkat bahwa rumah cowok itu tepat di belakang rumah kontrakan. Sementara Nancy langsung mengerutkan dahinya tak percaya.
Duduk di bawah pohon mahoni yang rindang, membuat suasana pagi ini- tidak saja dipenuhi rasa penasaran tentang mata kuliah Psikologi sebentar lagi, tapi juga diselubungi keingintahuan yang besar tentang cowok itu.
“By the way, kamu kan lagi naksir-naksiran nih sama cowok, kayaknya ini waktu yang tepat kamu menulis buku lagi, San!” Aku pun mengiyakan ide Nancy dengan tatapan melayang. Sebab suasana hati happy, rumah sudah nyaman tidak ada lagi gangguan musik jedag-jedug nggak jelas dari playlist-nya Nancy; kadang music EDM, nge-rock, juga Top 40. Dan semua jenis musik itu bukan kesukaanku.
“Eh, siapa yang naksir? Enak aja!” protesku dengan mata melotot sembari menyenggol lengannya. Terlihat Nancy hanya senyum-senyum dengan sorot mata menggoda.