The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #5

Chapter 4: Teriakan Perempuan

Pagi datang lagi tanpa permisi. Terdengar solah-solah di masjid terdekat, suara mengaji dan persiapan adzan Subuh. Tak ada lagi yang menggoyang-goyangkan tubuhku seperti yang dilakukan Ibu untuk membangunkanku saat masa-masa sekolah dulu.

“Sanny, Matahariku! Kamu dipanggil temanmu yang bersinar terang! Tuh, lihat diluar! Ayo cepat bangun!” Itu adalah teriakan ibu setiap hari, sedangkan aku masih menggeliat memanjangkan kaki dan tangan. Selimut kudorong dengan kasar dan langsung melompat dari kasur. “Selimut dibenerin dulu, Sanny!” Aku tak peduli lagi dengan teriakan ibu, sebab aku sudah berkutat dengan suara jebar-jebur di kamar mandi.

Aku terbiasa dengan Ibu saja sejak meninggalnya Ayah saat SMP, beliau kena serangan jantung. Tidak terlalu banyak yang kuingat kebersamaan dengan almarhum Ayah, sebab hubunganku dengannya tidak terlalu dekat, biasa saja. Bahkan cenderung banyak kesalahpahaman antara kita. Hanya ibu yang selalu mendengar segala keluh kesah dan semua masalahku. Tak pernah aku bercerita pada lelaki pendiam itu sebab aku takut bercampur kasihan ketika bertemu. Kasihan sebab seharian bekerja, apakah pantas aku memberikan beban ceritaku yang bisa membuatnya bertambah lelah. Kecuali lelaki itu bertanya padaku bagaimana sekolahku, apakah semua teman baik-baik saja tak ada yang membully? Kalau sudah bertanya begitu, aku mulai cerita banyak.

BRUAKK! Terdengar suara pintu digebrak dengan kasar. Aku tersentak ketika sedang menyapu di area belakang rumah. Suara itu bersumber dari rumah Aswin. Ada apa gerangan? Terdengar suara orang marah-marah. “Tidak bisa! Aku tak terima!” Terdengar suara teriakan perempuan itu lagi. Mengapa Aswin membuat ibunya marah sedahsyat itu? Ada masalah apa sebenarnya?

Entahlah, pikiranku bergeser saat sinar matahari mulai merangsek ke semua jendela. Padhang jinglang kata orang Jawa. Lampu-lampu sudah kumatikan bersamaan dengan alat penanak nasi yang sudah matang.

Aku duduk di depan meja makan dengan sepiring nasi putih panas ditambah telur ceplok yang kubuat dengan cara kutaburi garam dan lada bubuk. Sementara sayup-sayup suara amarah masih terdengar dari belakang rumah. Magnet penasaran ini semakin menjadi. Entah di ujung otakku tiba-tiba seperti ada lampu ajaib yang menggugah seperti dalam buku dongeng. Cling! Lampu berpendar dengan gemilang seakan berbisik padaku dengan jelas, “Waktunya kau membuat cerita tentang cowok itu. Ada rahasia yang harus kau ungkap yang berhubungan dengan ibunya.” Aku tersentak seperti bangun dari tidur. Benar, aku harus berterima kasih pada ilham yang baru saja berbisik di telingaku. It’s time to write a great novel.  

                                                           *****

 

Aku dan Nancy berpisah di parkiran dengan mengendarai motor masing-masing. “Kabari kalau mulai nulis ya!” teriaknya dengan suka cita. Aku hanya terkekeh mendengarnya. Memangnya mudah memulai nulis novel? Prosesnya jangan ditanya; riset, menentukan karakter, bikin sinopsis, outline dan seterusnya.

 Tiba-tiba ponselku bergetar di saku jaket. Kubuka pesan dari sebuah nama. Dari Aswin, “Pulang jam berapa? Aku mau mampir.” Ponsel kumasukkan kembali ke jaket dan segera akan kubalas kalau sudah sampai rumah. Jam tangan menunjuk angka 14.33. Biasanya perjalanan pulang hanya memakan waktu 30 menit.

Cuaca masih terik.

 Sesampai di rumah aku mengetik, “Sudah sampai rumah.” Aku tak begitu berekspektasi pada Aswin. Entah apa yang ingin dibicarakan cowok itu, tapi aku akan menggali tentang keluarganya dengan perlahan. Supaya dia tidak merasa aku interogasi, macam Polisi interogasi maling. Lagi pula aku hanya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya- kalau tidak mau dibilang ini sebuah riset tentang cerita yang mau aku tulis.

   Beberapa menit kemudian, setelah aku selesai berganti baju santai di rumah- hanya t-shirt oversize dan tetap celana jeans yang kupakai kuliah. Dia datang, kusapa dengan senyum tulus. Kusuruh masuk di ruang tamu sederhana, hanya satu meja dan tiga kursi sofa berwarna biru tua yang sudah kusam punya Pak Danu pemilik rumah kontrakan ini. Aku hanya membawa kulkas satu pintu dan penanak nasi.

     Hening beberapa saat. “Eh, mau minum apa? Ohya sorry tadi baru kubalas karena sudah di parkiran mau starter motor. Teh? Kopi?” tanyaku menutupi canggung dengan basa basi. 

     “Teh saja,” jawabnya singkat tapi tergambar jelas kalau dia juga sedang gugup. Aku segera membuatkan teh tubruk. Kebetulan ruang tamu dan dapur tidak ada sekat, jadi aku bisa melihat gerak-geriknya yang tidak tenang. Entah apa yang sedang dipikirkan. Aku pun tak mau sok tahu.

       “Ibu apa kabar?” tanyaku basa-basi lagi supaya suasana menjelang sore ini terasa lebih ramah.

Lihat selengkapnya