The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #6

Chapter 5: Menguak Fakta

 Dalam seminggu terakhir ini, tampaknya kesibukanku tak bisa di tawar lagi. Kuliah pagi sampai siang dan sorenya harus bekerja sampai malam. Itu pun di kampus biasa membuka laptop untuk menulis saat dosen tengah absen. Dan bisa dipastikan kalau ketahuan Nancy, pasti diolok-olok. “Ciee nulis. Nulis apa sih?” guraunya dengan tatapan menggoda.

Dia mencolek daguku yang sedang serius. Aku pun menoleh dengan kesal, “Ssst! Tukang ganggu bisa minggir dulu, nggak?” wajahku pura-pura marah padanya. Dia terkekeh dan melenggang pergi ke luar ruangan.

“Iya, deh. Bu penulis sedang sibuk!” Gantian aku yang terkekeh mendengar ocehannya. Di tengah tugas kuliah yang menumpuk, aku masih sempat untuk mengobrak-abrik outline novel supaya menjadi lebih menarik. Jangan ditanya kopi habis berapa. Kadang dua sampai tiga cangkir sehari. Pagi sebelum berangkat ke kampus, siang di kantin kampus atau sore sebelum berangkat kerja. Tapi kebanyakan saat di kafe, ketika ada teman-teman yang membuatkan kopi racikannya, gratis. Aku yang harus mencicipi pertama.

   “Sudahlah, San. Diminum saja,” selalu begitu rayuan teman-teman terutama Decky sebagai barista. Dan aku pun akan menghormati karya spesialnya, meskipun aku sudah bilang kalau sudah ngopi di rumah atau di kampus. Bahkan sering tidak habis karena aku sudah kenyang atau karena lupa nggak dilanjutkan minum saking sibuknya melayani pelanggan kafe. Menyapa sana sini, membagi senyuman dan bertanya kabar berharap mereka sehat-sehat meskipun kebanyakan hanya basa basi sesaat. Tapi itu adalah sebagian dari SOP yang tidak boleh diremehkan bahkan dilanggar. Bisa-bisa kena Surat Peringatan. Tapi sepertinya basa basi tak berlaku buat Aswin. Setiap bertemu dia, ada perasaan jujur dari hati- tak bisa dipendam.

                                                                       *****

   Minggu pagi ini adalah hari yang sempurna. Hari-hari aktif menulis bagai meracik masakan supaya nanti bisa dinikmati dengan hati dan melekat selamanya. Menyusun kalimat demi kalimat agar tercipta rasa yang memikat dengan bumbu spesial yang akan membuat suasana hati menjadi hangat. Tapi masakanku memang masih mentah dan bahkan setengah matang. Masih perlu banyak waktu untuk menyusun bahan-bahan yang istimewa. Ya, riset mengumpulkan fakta masih belum selesai. Masih butuh waktu lama.

     Kubuka lagi bab awal di novelku yang berjudul The Secret of You,

  Mengenalmu bagai membaca novel misteri yang kubeli di toko buku. Aku memang tertarik mengambilmu di rak buku best seller hanya karena melihat covermu yang ciamik meskipun aku belum membaca sinopsisnya di website seperti yang biasa aku lakukan ketika akan membeli sebuah buku, tentu tujuannya supaya tidak zonk. Sebab pernah beberapa kali aku membeli buku ternyata tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Tapi kali ini aku hanya bertaruh pada diriku sendiri dan aku punya intuisi bahwa buku yang aku baca, isinya juga pasti menarik. Namanya novel misteri, sudah pasti bisa diduga isinya seputar misteri, rahasia-rahasia, kode, detektif atau semacam itu. Itu membuat aku ikut menebak-nebak bagaimana ending dari ceritanya.

       Melihat wajahmu yang mahal senyum, malah terkesan angkuh ketika pertama kali kita bertemu. Sorot matamu punya banyak cerita, meski aku tahu kau sempat melirikku sekilas saat aku melihatmu di belakang rumah.  

 

Saatnya aku menguak kembali fakta-fakta dari keluarga bu Ratih dan Aswin. Jam sudah menunjuk angka 07.10 menit. Setelah bersih-bersih rumah, aku sarapan roti bakar ditemani teh hangat, sekalian kusiapkan juga roti bakar coklat dan kumasukkan ke dalam wadah kotak plastik untuk Aswin dan Ibunya. Aku berjalan ke rumah cowok berambut cepak itu dengan segudang rasa ingin tahu tentang misteri kaluarganya.

  Aku melewati jalan sempit yang ada di samping rumah dengan hanya memakai sandal jepit. Aku melangkah gontai bersama angin pagi semilir menggoyang-goyangkan rambut sebahuku. Setiba di depan rumah Aswin, dia tersenyum sekilas dan mempersilakan aku masuk. Aku memberikan kotak berisi roti bakar untuk sarapan. Dia mengucap terima kasih.

Lihat selengkapnya