The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #7

Chapter 6: Masa Lalu Aswin

Lagi-lagi ini hari yang mendebarkan setelah pulang dari rumah Aswin.  Dia lelaki yang berbahu kokoh tapi di saat yang bersamaan sorot matanya yang sendu, seakan menyiratkan masih mencari-cari pegangan yang lebih kuat dari besi baja untuk berdiri tegak.

Sebuah KTP kini sedang mengganggu gerak langkahku hampir setiap hari. Dia menggedor-gedor hatiku dengan paksa, “Cepat cari tahu tentang nama ini! Siapa Ahmad Arif sebenarnya?” Foto kartu biru muda ini benar-benar berteriak supaya aku mencari tahu. Dan tentu jawabannya adalah aku harus segera bertemu ibu.

“Bu, minggu depan nggak kemana-mana?” tanyaku siang itu ketika sedang santai di rumah. Jawaban ibu yang ceria terdengar sangat menyenangkan. Pastinya tak sabar menungguku pulang. Mengapa aku bertanya, sebab tidak setiap minggu ibu berada di rumah. Kadang ke rumah teman-teman lama, kadang ada acara pengajian sore, pokoknya banyak acara yang didatangi. Aku senang ibu banyak acara, artinya banyak bertemu orang-orang yang membuatnya tidak kesepian walau hanya sendiri di rumah. Sedangkan aku, tidak setiap weekend pulang, malah sering dua minggu sekali. 

Sudah jam satu lewat, setelah aku makan siang dengan menu nasi putih dan oseng tempe, aku pun kembali membuka laptop, mencoba mengetik beberapa kalimat yang tiba-tiba menggumpal dan ingin kucairkan segera,

Perempuan bermata tajam itu, aku tahu ada banyak masalah besar yang pernah terjadi di masa lalu. Mata itu menyiratkan banyak kecewa, ribuan tanya dan kesedihan yang bertumpuk dan tak bisa tersalurkan. Mungkin hanya dengan berteriak dan memaki dia akan merasa sedikit lega. Dan kini hanya dengan sebuah teriakan kala pagi yang tak terlupa itu, aku akan bertualang dalam sebuah cerita panjang yang aku pun tak tahu sampai dimana ujung dari cerita ini. Siapa sebenarnya perempuan itu?

    Kembali aku menghela napas panjang, lalu berdiri membuat lemon tea hangat.

                                                                       *****

   

 

 

     Seperti janjiku minggu lalu, aku pulang bertemu ibu. Sosok tangguh single parent yang masih terlihat cantik meski usianya sudah tak muda lagi. Perempuan yang telah memberikan kepercayaan padaku untuk kontrak rumah sendirian di kota dingin Malang. Sebenarnya aku bukan dari keluarga mampu, makanya aku tetap berusaha membantu ibu dengan bekerja di kafe Melodius, beruntungnya pemilik kafe sangat baik padaku-paham kalau anak kuliahan kadang tiba-tiba telat masuk kerja. Dan teman-teman lain juga support.

     Perjalanan naik Beat menuju rumah pun lancar, sebuah tempat ternyaman di dunia. Suasana masih sama. Kota kecil Pandaan tak pernah sepi kendaraan, malah cenderung bertambah ramai setiap tahun.

    Hampir jam 10 siang. Aku mengucap salam saat mengetuk pintu rumah. Dan muncul ibu dengan tatapan mata rindu pada anaknya semata wayang ini. Kami saling berpelukan dan mencium pipi, kemudian aku langsung masuk ke ruang makan. Sudah kuduga kalau makanan sudah siap di atas meja. 

      “Belum waktunya makan siang sudah masak?” tanyaku dengan mata berbinar melihat masakan yang sudah nongkrong di atas meja. Ada sayur lodeh tewel kesukaanku, tempe goreng tepung, telur dadar dan bakwan jagung yang masih mengepulkan asap. Aroma yang menggiurkan langsung membuat perut lapar.

       “Buat orang tersayang, masa nggak masak?” Ibu tersenyum. “Tapi…perasaan kok ada yang agak aneh gitu. Apakah ada sesuatu yang penting sampai kau telpon ibu beberapa hari lalu. Ada apa?” Ibu menegakkan punggungnya untuk lebih dekat padaku.

       Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, ragu dengan yang akan aku sampaikan. Apakah akan menyinggung perasaan ibu atau tidak. Tiba-tiba jantungku berdetak tak beraturan.

       “Memang ada sesuatu yang mau kutanyakan sama ibu.” Aku merogoh ponsel dalam tas ransel hitam. Kubuka galeri foto dengan perasaan deg-degan bercampur ragu. Apakah ibu kenal dengan foto di KTP ini? Perempuan di depanku menunggu dengan sabar.

     Aku memberikan ponsel pada ibu, “Ibu kenal dengan orang ini?” tanyaku bimbang.

Ibu memperhatikan dengan seksama foto itu. Membaca semua data; alamat, tanggal lahir, golongan darah dan tanda tangan. “Ahmad Arif? Dapat dari mana kau foto ini?” 

“Mmm…nemu aja. Ibu kenal? Aku hanya ingin memastikan,” ujarku dengan hati-hati, khawatir dia tersinggung dan marah.

“Kenal. Itu kan suami pertama ibu. Ibu pernah cerita ke kamu, kan?” Jawaban ibu sudah bisa kuduga. Aku mengangguk lemah.

Lihat selengkapnya