Menulis dan kuliah membuat otak lelah tak terhindarkan. Akibatnya badanku menghangat dan harus minum paracetamol. “Nan, aku nggak kuliah hari ini,” aku menelpon Nancy setengah duduk di kasur. Sudah bisa ditebak cewek itu ngomel persis emak-emak menggerutu ke anaknya yang tak masuk sekolah karena pilek kebanyakan minum es.
“Jadwal nulismu harus diatur, San. Jangan lupa makan! Ini malah lupa makan dan ngopi melulu. Awas ya kalau kena maag!” Nah, persis emak-emak kalau mengancam begini. “Lambungmu bisa modar!”
“Iya, bu dokter. Ini sudah makan terus minum obat,” jawabku menahan tawa mendengar omelah Nancy. Dia pun berjanji nanti selepas dari kampus akan mampir ke rumah.
Aku berbaring lagi dengan berselimut dan memakai kaus kaki. Ponsel kuletakkan di sebelah bantal. Tiba-tiba ponsel berdering.
Aswin? Kuangkat telpon dengan berbaring miring ke kiri, ”Halo!”
“Kamu nggak kuliah? Kenapa?” tanyanya to the point. Dia bertanya begitu karena melihat motorku masih terparkir di teras. Aku pun menjawab dengan suara lemah kalau sedang tidak enak badan. Kemudian dia bilang semoga cepat sembuh. Kembali kuletakkan ponsel di kasur. Aku meringkuk lagi dengan memeluk guling.
Kucoba memejamkan mata untuk membuat suhu tubuhku kembali normal dengan bersedekap. Tiba-tiba ada suara pintu diketuk. Aku tersentak, langsung membuka mata. Ada tamu siapa? Masih pagi, apakah Nancy sudah datang?
Ting! Ada pesan masuk. “Aku yang mengetuk pintu.”
“Masuk aja dari pintu samping tembus dapur. Tidak dikunci,” balasku.
Kudengar pintu dibuka perlahan dan langkah kaki Aswin mendekati meja makan. Dia membawa tahu dan telur bumbu Bali untuk makan siang dan sesisir pisang. Yang aku tidak tahu, dia menengok ke ruang belajar di sebelah kamar yang disitu ada laptop sedang terbuka, dan di sebelahnya ada printer dan kertas-kertas yang bertumpuk tak beraturan.