The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #9

Chapter 8 : Gagal Surprise


          Dua hari tak ada komunikasi dengan Aswin rasanya aneh, apalagi di situasi yang belum ada kejelasan perihal amarahnya. Pagi ini setelah kondisi tubuh sudah lebih baik, aku ke rumah Aswin. Kuketuk pintu depan namun tidak ada sahutan, lalu aku bergeser ke pintu samping tokonya. Beberapa saat kemudian dia membuka pintu toko.

           “Kenapa sikap kamu berubah?” sambarku ketika kulihat wajahnya menyembul dari balik pintu. “Kamu masih mau berteman sama aku?” tanyaku masih dengan posisi berdiri sebab memang tidak ada kursi di bagian depan toko.

           Cowok itu terdiam beberapa detik, lalu, “Berteman? Berteman itu ada kejujuran, San!” tegasnya dengan wajah kaku, tapi dengan volume suara yang tidak keras.

           “Iya, tahu! Tapi apa salahku? Sikap kamu aneh,” omelku dengan wajah minta penjelasan.

           “Teman macam apa yang diam-diam menulis kisah temannya demi kepentingan sendiri?” protesnya dengan sengit menatap tajam padaku. Well, aku paham sekarang, dia pasti sudah melihat beberapa kertas print out naskah novelku yang ada di ruang belajar dua hari yang lalu. Aku menarik napas panjang.

           “Oke, sorry banget kalau kertas print out di atas meja belajarku itu menyinggungmu, menyinggung keluargamu. Asal kamu tahu sebenarnya aku ingin kasih buku itu surprise buat kamu, Win,” aku menunduk menggenggam sesal yang tiba-tiba datang.

           “Surprise apa maksudmu? Gimana kalau aku nggak setuju dengan semua yang kamu tulis?” ujarnya masih dengan wajah bersungut-sungut.

           “Hello, namanya novel bukan 100 persen kisah nyata dong. Hanya TERINSPIRASI dari kisah nyata.” Aku menggarisbawahi kata terinspirasi supaya dia paham.

           “Nggak, aku nggak setuju! Nggak ada lagi ngobrol tentang keluargaku. Titik!” Dia menggelengkan kepala kuat-kuat. 

           “Oke, fine! Sekali lagi maaf kalau mengganggu harimu,” jawabku berat. Memendam rasa sakit yang menggores hati. Aku berbalik pulang. Tak kusangka orang yang kusambut baik kehadirannya dalam hari-hari kemarin, kini kata-katanya bisa menyakitkan. Ada bening hangat yang menitik di sudut mataku. Aku berjalan dengan dada bergemuruh seperti habis ditonjok. Memang benar apa yang dibilang orang, niat baik kita tak selamanya diterima orang lain dengan baik juga. Tuhan, apa yang telah kulakukan? Apakah aku tidak boleh melakukan sesuatu dengan tulisan? Apakah aku harus berhenti menulis?

Lihat selengkapnya