Awal pekan yang menyenangkan karena Nancy benar-benar bisa menjadi sahabat terbaik ketika aku ketinggalan materi kuliah dan semua catatan penting diberikan Nancy saat menjenguk ke rumah. Kepala yang pusing langsung sembuh ketika bertemu si Paling Skincare sekaligus paling care.
“Hei, kamu jangan sakit-sakitan lagi ya, Say. Kamu kan calon penulis novel best seller? Harus bisa jaga kondisi dong. Jangan sampai lupa makan. Entar nulis seharian sampai lupa isi bensin. Apa aku harus selalu kirim alarm ya buat kamu?” Cewek berambut ikal ini mengomel lagi dengan gaya sotoynya sambil duduk di tepi kasur. Mataku yang semula sayu kini jadi melebar saat mendengar suara Nancy seperti sound system orang hajatan di sebelah rumah. Dinding rumah rasanya mau roboh. Aku hanya mengiyakan semua kata-katanya, meskipun tidak semua kusetujui. Aku tahu semua yang dia katakan dengan suara cempreng menggelora itu karena sayang.
“Aku buatkan teh hangat ya!” Itulah salah satu yang aku suka dari Nancy, segalak-galaknya omongan dia, pasti ujungnya dia melakukan sesuatu yang manis. Menyiapkan semua materi kuliahku yang tertinggal, mampir ke rumah untuk tahu kondisiku, dan sekarang sibuk di dapur membuatkan teh hangat. Tak salah aku memilih kamu sebagai sahabat, Nan. Meskipun ceriwisnya mengalahkan emak-emak super rempong di pagi hari.
Senin ini tentu saja aku bersemangat sekali bertemu dengan Nancy dan teman-teman kampus. Masuk kuliah pagi seperti biasa harus berangkat jam tujuh. Kulihat jam dinding menunjuk angka 06.45, dan aku masih menyelesaikan sarapan. Tiba-tiba kudengar suara mengerang kesakitan dan minta tolong lumayan keras. Suara perempuan. Suara Bu Ratih? Aku langsung melompat sebelum merampungkan sarapan dan cepat-cepat mencuci tangan. Kebetulan pintu bagian belakang rumah tidak terkunci. Kulihat Bu Ratih rebah di tanah lembab. Tak banyak omong aku langsung mengangkat tubuhnya yang berat dengan susah payah, Aku merangkulkan tangan kirinya ke pundakku dan memapahnya perlahan menuju kamar perempuan itu. Dia masih mengerang kesakitan di bagian bokongnya yang kotor kena tanah. Kubantu membersihkan beberapa bagian tubuhnya dan memijit bagian yang sakit, lalu kurebahkan kepalanya di bantal putih.
Tidak ada suara-suara lain di rumah ini dan aku langsung bisa menebak bahwa Aswin sedang keluar, mungkin sedang belanja harian. “Saya buatkan teh hangat sebentar ya, Bu.” Aku langsung menuju dapur untuk menjerang air tanpa meminta jawaban lebih dulu. Tak lama kemudian teh hangat sudah siap dengan asap mengepul. Aku masih menunggu Aswin pulang di kamar Bu Ratih. Kami tidak saling bicara, tapi aku tahu bahwa matanya mengucapkan terima kasih. Aku tak berani menatap matanya lama-lama mengingat aku pernah dimaki-maki beberapa waktu lalu hanya karena memakai baju merah. Terdengar pintu depan terbuka dan aku langsung berdiri melihat Aswin.
“Ibu tadi jatuh di belakang, aku mengantar ke kamar dan membuatkan teh hangat. Permisi, aku harus berangkat kuliah masuk jam 7.30. Sekarang sudah jam 8,” jelasku panjang lebar.
Aku buru-buru keluar kamar dan melewati pintu belakang. Kubiarkan Aswin termangu menatapku pergi, tanpa sempat mengucap sepatah kata. Aku tak peduli meskipun aku sedang merindukan sosoknya. Meskipun aku ingin ngobrol lama, bertanya darimana saja kamu? Belanja kemana? Bertanya kabar apakah masih marah sama aku, apakah tidak ada maaf yang kau berikan untukku? Setiap orang pernah punya salah, bukan? Tapi aku mengurungkan rentetan pertanyaan itu. Kubiarkan hanya mengambang di udara bersama angin pagi yang semilir mengantarkan aku telat kuliah.
Aku tak berharap dia mengucapkan terima kasih atau apa pun. Aku ikhlas melakukan semua ini untuk menolong orang yang kesulitan. Aku rela telat demi mengobati rasa penyesalan yang masih tertambat.
*****
Dan kini aku membayangkan ibuku sendiri tengah bingung dengan kehadiranku beberapa hari yang lalu. Tidak ada angin tak ada tornado, tiba-tiba aku pulang dengan memperlihatkan sebuah foto lelaki yang aku sendiri tak pernah tahu. Memang ibu pernah cerita bahwa pernah menikah secara agama dengan lelaki bernama Ahmad Arif, dan tidak punya anak, lalu dia meninggal. Itu saja. Kemudian dia menikah lagi dengan lelaki bernama Benny Raharjo, dan lahirlah aku anak satu-satunya.