Malam itu seperti biasa kafe ramai oleh gerombolan anak SMA yang sedang merayakan ultah temannya. Seru sekali di ruangan private kapasitas 25 orang. Ada sekitar 15 anak yang hiruk pikuk dan tertawa gembira dengan konsep dekorasi futuristik. Ada balon-balon silver, Bintang-bintang keabuan dan awan-awan putih berkilauan. Juga ada bunga-bunga perak dan putih bertaburan dimana-mana, tak ketinggalan pemandangan tumpukan kado warna warni di pojok ruangan. Diantara mereka ada yang menyanyi karaoke, makan, bahkan ada ikutan meramaikan games seru yang dibawakan oleh seorang MC berpakaian nyentrik seperti robot, lengkap dengan helm dan sepatu boots unik.
Aku menoleh sekilas sambil tersenyum. Ruangan itu memang seminggu yang lalu sudah di booking panitia. Juga sudah memesan kue tart spesial kepada kami dengan bentuk bola dunia yang di tepinya diberi tulisan melingkar: my world peace, juga dipenuhi pohon-pohon kecil dan bunga warna warni. Unik sekali. Semoga harapan kalian akan menjadi doa yang indah buat dunia ini, batinku ikut senang. Bisa ditebak kemungkinan besar yang merayakan hari lahir adalah seorang pencinta alam.
“Sst, San! Tuh, siapa yang datang,” Devi berbisik dan melirik sosok yang masuk ke kafe. Sontak aku menoleh. Aku mengembuskan napas cepat. Dia Si Mata Sendu duduk dengan santai, seperti biasa membuka laptopnya. Ada teman lain memberikan menu padanya. Sementara aku pura-pura tak melihatnya, tapi kenapa perasaan ini tiba-tiba campur aduk? Di sisi lain aku malas bertemu dia, tapi di saat bersamaan aku rindu ngobrol dengannya. Ah, perasaan macam apa ini?
“Ih, nggak usah manyun gitu. Udah disamperin malah manyun,” goda Devi sambil melirik nakal ke arahku. Aku mendelik tanpa suara. “Udah, samperin sana. Bawa kopi pesanannya,” tambahnya terkekeh. Aku memonyongkan bibir. Menahan tawa ternyata lebih susah dari menahan kentut. Leher seperti tercekik. Aku melengos pergi ke pelanggan lain yang baru datang.
Beberapa menit kemudian, aku melirik Aswin yang gerak-geriknya seperti tidak tenang. Aku masih pura-pura tidak memperhatikannya. Tapi kemudian dia berdiri berjalan ke depan menghampiri Devi tanpa membawa laptopnya. Berikutnya dia kembali ke meja dan membereskan laptop ke dalam tas ranselnya.
“Sanny!” Terlihat Devi melambai ke arahku. Aku mendekatinya dan dia berbisik, “Aswin ingin bicara sama kamu, ditunggu di bangku depan,” ujarnya dengan wajah serius. Aku melangkah mendekatinya yang sedang duduk di bangku depan di sebelah taman. Taman itu terlihat semarak dengan hiasan lampu warna warni.
“Hai,” sapaku sembari duduk di sampingnya.
“Sorry ganggu kerjaan kamu sebentar. Aku hanya ingin bilang dua hal. Pertama aku ingin bilang terima kasih sama kamu, karena sudah menolong ibu saat jatuh kemarin. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau tak ada kamu,” ucapnya dengan sorot mata penuh sesal. Aku hanya mengangguk mengiyakan dan menunggu apa lagi yang ingin dikatakan padaku.
“Yang kedua, aku ingin minta maaf untuk kesombonganku, menuduh kamu nggak jujur, padahal kamu hanya ingin menulis sebuah kisah,” tambahnya.
Aku mengulurkan tangan kanan dan kami bersalaman.
“Oke, dimaafkan kok. Jadi gimana, kamu masih mau berteman sama aku?” tanyaku mencoba tersenyum padanya. Tapi kenapa wajahmu masih datar-datar saja, Win?
“Ya, kalau kita masih bertemu di kafe ini berarti masih berteman. Eh tapi ada syaratnya, boleh nulis asal aku boleh membaca duluan semua isi naskah sebelum dicetak ke penerbit. Gimana?” Aku mengangguk setuju dengan persyaratan itu. “Kamu masih tertarik menulis kisah itu, kan?” tanyanya antusias.
Aku menarik napas panjang. “Masih… di buku tulis,” jawabku singkat. Aku memang masih menulis ide-ide adegan yang pas di buku tulis supaya tidak lupa. Kali ini giliran dia yang mengajak bersalaman tanda kami setuju dengan kesepakatan yang baru saja dibuat. Deal.
“Oke, aku harus kembali kerja,” ujarku lantas berdiri untuk kembali ke dalam kafe yang semakin ramai. Dia pun pamit pulang untuk menemani ibunya sebab sedang tidak enak badan. Kulihat punggungnya dari jauh dengan segenap harapan yang begitu jauh tergenggam. Sosok lelaki yang sangat sayang pada ibunya, apakah bisa menjadi jaminan akan selalu baik juga pada pasangannya kelak? Aku tak bisa menjawab pada ketidakpastian hidup nomor 87 ini.
***
Malam itu sendi-sendi seluruh tubuh rasanya mau copot. Badan kaku semua. Adanya booking event tentu membuat pekerjaan semakin berat. Tapi aku tetap happy menjalaninya selama tak ada orang-orang reseh yang kadang muncul di kafe. Sebaliknya malam ini menyenangkan karena Aswin datang tanpa disangka. Dia datang dengan sifat gentle seorang cowok, mau minta maaf dan berterima kasih kepada orang yang telah baik padanya. Bukan, bukan aku gila terima kasih. Apa yang kulakukan murni menolong orang tua, bukan untuk dipuji atau mendapat perhatian dari siapa pun.
Baru ingin merebahkan punggung, tiba-tiba ponsel berbunyi. Dari Nancy. “Hei, ada apa?” tanyaku dengan suara ngantuk.
“Aku cuma mau tanya, gimana kabar si Rendy setelah kamu pindah rumah kontrakan? Apa dia sudah nggak pernah telpon lagi?”
“Sudah enggak,” jawabku singkat sambil merebahkan kepala.