The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #13

Chapter 12: Memburu Fakta

 Tekadku sudah bulat untuk mencari data dan fakta seputar keluarga Aswin, apa yang terjadi pada Pak Ahmad Arif setelah menikah dengan ibu. Siang itu sebelum pulang kuliah aku menyempatkan membuka laptop dan mencari nomor telpon Kepala Konservasi Orangutan di Kalimantan. Apakah benar Pak Arif ditembak oleh seorang pemburu? Apakah pemburu tersebut sudah tertangkap?

 Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ketemu juga. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” suara perempuan di seberang memberikan satu harapan. Dan telpon kantor itu pun diberikan kepada seorang laki-laki. Dia salah satu petugas dari Lembaga konservasi. Kujelaskan dengan gamblang bahwa aku anak dari Pak Arif, yang dulu ditembak oleh pemburu liar di hutan.

  “Bagaimana sebenarnya kronologi peristiwa itu, Pak?”

 “Kami sudah menjalankan tugas semaksimal mungkin saat itu. Faktanya tidak ada pemburu yang mempunyai pistol model seperti milik pelaku penembakan. Dilihat dari jenis pelurunya yang tepat mengenai leher korban,” jelas petugas itu. Informasi ini memang sudah dipublikasikan oleh media lokal disana. Dan semuanya valid. Polisi sudah mendata siapa saja pemburu liar yang berdomisili di wilayah terdekat hutan. Mayoritas pemburu hanya memakai senapan angin kaliber 5,5 m atau yang sudah dimodifikasi. Bukan pistol kaliber 45.  

   “Mohon maaf mbak Sanny, sudah tahu kan kalau kasus ini sudah ditutup lama,”

    “Iya, Pak. Saya hanya ingin mendapat informasi. Jadi pelaku penembakan itu tidak bisa ditangkap?”

   “Tidak ada bukti dan saksi. Jadi pihak Kepolisian tidak bisa meneruskan kasus ini,” ucapnya mengakhiri pembicaraan ini,”

   Aku maklum sebab memang tidak ada CCTV di tengah hutan. Tapi bagaimanapun yang namanya korban penembakan pasti ada pelakunya. Apakah sekarang pelaku masih bebas berkeliaran dengan aman-aman saja? Betapa tidak adilnya hidup ini. Aku bukan anak kecil yang bisa diberitahu dengan mudah. Pasti ada jalan untuk mengungkap cerita ini.

    Aku menarik napas panjang. Dalam hati aku berdoa, Tuhan, Kau pasti tidak tinggal diam saja melihat kejadian ini, kan? Kepada siapa lagi aku meminta pertolongan kalau bukan kepadaMu? Sebab hanya Engkau yang Maha Adil. Tidak ada keadilan di dunia ini. Tidak ada.

      ***      

Minggu pagi, kembali aku ke rumah Aswin untuk sekadar melihat aktifitasnya berjualan online. Aku mengetuk pintu dan seperti biasa aku membawakan roti dengan selai cokelat. Pintu terbuka ternyata Aswin sudah bersiap keluar belanja ke swalayan yang ada di depan jalan perumahan ini.

 “Kebetulan banget kamu kesini. Boleh aku minta tolong jaga ibu sebentar ya,” ucapnya santai.

  “Tentu dengan senang hati,” jawabku. Lalu aku masuk ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian Bu Ratih keluar kamar menuju ruang tamu dengan baju panjang bercorak batik cokelat gelap. Rambut pendek kelabu sebahunya disisir rapi. 

 “Ada tamu rupanya?” Perempuan itu kini berwajah segar, tidak seperti pertemuan pertama yang mengagetkan dan pertemuan kedua tak sengaja saat dia terjatuh di belakang rumah. Kali ini kami bertemu untuk yang ketiga. Tentu saja aku tidak memakai baju merah lagi. Tidak akan pernah.

 “Iya, Bu. Tadi Aswin bilang minta tolong untuk menjaga ibu sebentar. Dia masih belanja,” ujarku dengan memakai bahasa sesopan mungkin. Dia mengangguk lemah.

  Kami terdiam beberapa saat. Sementara jantungku berdebar-debar, menyuruh segera bertanya tentang kasus penembakan suami Bu Ratih. Apakah perempuan ini tidak menuntut untuk menemukan siapa pelakunya? Aku menelan ludah, mulai menyusun kalimat tanya untuk mengobrol dengan perempuan ini. Ini waktu yang tepat, cepat kau korek tentang peristiwa naas itu. Jangan buang waktu. Bisikan hatiku mulai memanas. Jantungku berdetak lebih keras.

  “Ohya Bu, kata Aswin Ayahnya sudah meninggal, ya?” tanyaku berhati-hati. Lalu aku mencoba berpura-pura mengambil ponsel dalam dompet hitamku.

Lihat selengkapnya