Kebingungan tengah melanda, apakah aku akan meneruskan menulis kisah kelam ini atau berhenti sampai disini? Apakah aku akan menyelesaikan riset keluarga yang penuh rahasia sedih? Aku terpekur dalam dilema yang menggerogoti jiwa dan pikiran. Siapa suruh nulis novel true story? Bisik hatiku mulai protes melihat kondisiku yang mulai lelah dengan fakta-fakta. Apakah aku akan menyerah? Oh, tentu tidak! Bukan Sanny namanya kalau menyerah begitu saja. Tidak ada kamus menyerah dalam hidupku. Tidak akan. Aku mungkin hanya butuh mengatur napas menghadapai twist yang mungkin muncul di depan mata. Aku mulai memijit-mijit kepala yang tiba-tiba berdenyut. Tampaknya aku butuh obat sakit kepala.
Tak ada cara lain, aku harus menghindari Aswin barang satu atau dua minggu untuk menenangkan diri. “Hai, apa kabar? Kamu baik-baik?” atau “sampai dimana nulismu? adalah chat cowok bermata sendu itu yang kubalas dengan kata singkat: aku baik, atau aku masih nulis. Tak ada basa basi. Tapi aku tahu, pasti dia punya feeling bahwa aku menghindar sebab tak biasanya bersikap begini. Dalam minggu ini aku beralasan sibuk dan ada ujian.
Empat hari setelah kejadian pengakuan Bu Ratih, aku bertemu Nancy di kampus. Dan seperti biasa cewek itu peka dengan wajah kusutku hari ini.
“Kamu kenapa? Kayaknya ada sesuatu yang serius,” tanyanya penasaran. Memang aku paling tak bisa menyembunyikan perasaan. Aku mengiyakan. "Mau cerita? Tentang ujian, masalah duit? Ibu?” tanyanya mulai menebak-nebak.
“Enggak,”
“Nggak mau cerita? Tapi aku penasaran, San!” ujarnya malah melotot gemas. Tapi aku tahu itu cuma bercanda.
“Masalah alur,” jawabku random kalau tak mau dibilang bohong.
“Alur novel?”
“Iya. Lagi pusing aja,” jawabku dengan nada malas.
Nancy mendengus kesal, “Ya ampun, kukira ada yang penting,”