Banyak yang bilang kita tak boleh terlalu ingin tahu hal-hal yang tak perlu kita tahu. Tapi ada kalanya keingintahuan kita malah berujung terbukanya rahasia penting yang harus kita tahu. Sebuah rahasia tak selamanya menjadi rahasia.
Benar juga, esoknya dia datang sesaat setelah aku pulang dari kampus. Aku baru membuka pintu rumah, dia sudah ada di belakangku. “Sanny,” panggilnya. Aku langsung menoleh ke belakang dan memandangnya dengan tampang sendu. Matanya meminta kejelasan. Aku mengembuskan napas berat. Mungkin saatnya aku harus cerita.
“Masuk dulu,” ajakku sambil membuka pintu lebar-lebar. Dia pun masuk dengan ragu-ragu. Tentu kubuka semua pintu dan jendela, jangan sampai orang lain curiga dan berpikir yang tidak-tidak tentang kami.
Kami duduk di sofa ruang tamu dan dia terlihat tidak nyaman. “Sebenarnya aku bingung mau ngomong darimana,” Aku mulai mengatur kalimat dengan hati-hati.
“Ada apa?” tanyanya tak sabar.
“Sebenarnya aku tak sanggup lagi meneruskan tulisan itu. Terlalu berat, Win!” Aku mendengus berat terasa ada beban yang kupikul di punggung.
“Apanya yang terlalu berat? Ceritakan!” pintanya lagi. Dan memang itulah tujuan dia datang kesini, mendengar cerita lengkapku.
“Tunggu sebentar,” Aku berdiri mengambil kertas-kertas print out di ruang belajar. Aswin menunggu dengan harap-harap cemas. Menunggu kejutan apa yang akan didapat.
“Aku tak sanggup cerita langsung. Kamu baca sendiri.” Kuulurkan kertas beberapa halaman padanya. Aswin langsung membaca naskah novel itu. Dan wajahnya berubah menjadi sedih. Dahinya berkerut seolah tak percaya dengan apa yang dibaca.
“Naskah ini jangan sampai dibaca orang lain. Kamu lanjutkan saja membaca di rumah kamu,”
“Nggak, aku baca sekarang,” ucapnya dengan wajah tegang.
Dendam selalu membawa kisah kelam. Apakah aku menyesal bertemu denganmu? Bukan senyum yang kudapat tapi kesedihan dan fakta kelabu. Aku jatuh semakin dalam menguak kisah ini.
Jariku berhenti menekan tombol keyboard. Aku terpaku menatap layar monitor. Jantungku terasa berhenti berdetak. Tiba-tiba seperti ada yang mencekik leher. Dadaku sesak dan air mata mengalir perlahan. Apakah aku menyesal bertemu kamu? Mengapa saat itu aku mendengar teriakan perempuan di belakang rumah? Mengapa? Tidakkah semua itu ada alasannya? Mengapa Tuhan menakdirkan aku punya rasa penasaran, padahal aku bisa saja bertingkah cuek dengan orang lain, dan menjadi cewek biasa pada umumnya yang suka ngobrol di kafe bersama teman-teman, nonton bioskop atau jalan-jalan ke mal? Mengapa ada perasaan kuat ingin berkenalan denganmu dan memecahkan misteri yang menyelimuti perempuan itu.