Setelah membereskan semua order dropship hari ini, Aswin mengeluarkan ponsel dan mulai memakai pelantang untuk lagu-lagu yang diputar kencang dari sebuah aplikasi musik. Tentu saja untuk mengusir gundah dan sakit hati yang sedang menggerogoti hatinya. Ini sungguh diluar nalar. Setelah sekian tahun lamanya yang sebenarnya terjadi. Selengkap-lengkapnya saat bertemu dengan sosok penulis cewek yang tingkahnya persis detektif.
Am I better off dead? Am I better of a quitter? They say I’m better off now? Then I ever was with her? Lagu Nothing masih berkumandang di telinganya. Ada nyeri di ulu hati yang tiba-tiba terus mencengkeram tak bisa lepas.
Sore yang mendung benar-benar membuat pikiran Aswin juga menjadi kelabu. Dia menuju ke ruang makan, terlihat ibu duduk sambil menikmati teh hangatnya. Sedangkan lelaki bermata sendu itu duduk di seberang meja yang tidak terlalu besar berhadapan dengan ibunya.
Lelaki itu melepas pelantangnya, meletakkan di atas meja. dan menatap mata ibunya. “Aswin ingin bicara, Bu,”
“Apa?”
Aswin masih menatap ibunya tanpa berkedip dengan matanya yang masih lembab habis menangis tadi. Dia tidak percaya bahwa ibunya melakukan tindakan yang sangat tidak masuk akal.
“Ibu cerita apa saja sama Sanny? Kenapa ibu tega melakukan itu? Dia kan orang baru, Bu. Kenapa ibu ceitakan rahasia besar itu?” tanya Aswin bertubi-tubi. Rasanya ingin teriak pada ibunya kalau tak ingat itu dosa besar.
“Ibu keceplosan, Win!” jawab perempuan itu datar, tanpa penyesalan sedikit pun.
“Kok bisa?” Suara Aswin mulai tinggi. Tidak tahan dengan jawaban perempuan yang benci baju merah itu.
“Kamu tak tahu perasaan ibu! Bertahun-tahun ibu memendam semua ini!” ujarnya dengan mata menyala dan menyimpan dendam. Segumpal dendam itu susah payah dihancurkan namun masih sulit luluh lantak.
“Ibu nggak tahu kalau itu sangat berbahaya? Kalau Sanny sampai lapor polisi, ibu bisa dipenjara!” Wajah Aswin memerah dan rahangnya mengeras menahan emosi yang memuncak. Dia mulai meremas-remas kepalanya. Ujung kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri luar biasa gara-gara over thinking yang meluap. “Aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi, Bu!” bisiknya dengan suara bergetar.
“Tapi ibu percaya sama dia. Dia tidak akan lapor polisi!”
“Apa jaminannya kalau dia tak lapor polisi? Nggak ada jaminan! Bagaimana bisa ibu seyakin itu sama dia?” Aswin masih berteriak.
Perempuan itu sejenak terdiam. “Ibu tahu. Ibu minta maaf,” ujar perempuan itu dengan mata menerawang. Tiba-tiba dia memegang dadanya yang nyeri menusuk. “Aduh, kenapa ini? Sakit, Win. Antar Ibu ke kamar.” Perempuan itu mengerang kesakitan seperti ada yang meremas jantungnya. Wajahnya rusuh menahan sakit yang tak tertahankan.
“Sakit kenapa, Bu?” Aswin langsung berdiri memapah ibunya ke dalam kamar bernuansa kuning itu. Wajah perempuan itu pucat dan tubuhnya lemah. Mungkin tekanan darahnya naik. Ini sering terjadi kalau perempuan itu memikirkan sesuatu dengan keras. Anak lelaki satu-satunya itu langsung memeriksa tekanan darah ibunya, dan ternyata memang benar kejadian lagi. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Perempuan itu memang pernah punya gejala Aritmia atau gangguan irama jantung yang membuat jantungnya berdetak tidak teratur.