Rumah Bu Rinda hanya sejauh 2 kilometer dari rumah Aswin. Rumah di Malang ini mulai ditempati saat lelaki itu masuk SMP. Sejak kecil sampai lulus SD, dia tinggal di Surabaya.
Rumah yang asri dengan halaman terdapat pohon mangga di kanan kirinya. Sudah tidak musim, tapi mereka menciptakan suasana rindang dan sejuk di tengah angin yang ramah. Setelah dipersilakan masuk, kami duduk di ruang tamu yang cukup luas. Aku duduk bersebelahan dengan Aswin.
“Terima kasih ya Win, kamu masih ingat sama Ibu,” ujar perempuan yang masih cantik itu. Sepertinya belum setengah abad. Wajahnya bersih bersinar menunjukkan orang yang sangat ramah dan cocok sekali dengan profesinya sebagai Guru Bimbingan Konseling-sahabat orang-orang yang bermasalah. Senyumnya benar-benar seperti air yang menyegarkan bunga-bunga. Membuat setiap orang yang menatapnya menjadi nyaman dan hangat.
“Saya tidak akan pernah lupa, Bu. Saya nggak bisa membalas jasa Bu Rinda yang luar biasa bisa mengubah saya,” ucap Aswin rendah hati.
“Yang mengubah bukan ibu, tapi diri kamu sendiri yang bisa melawan rasa tidak adil. Ibu hanya perantara saja,” Kata-kata Bu Rinda memang membuat adem hati dan pikiran. Tidak heran Aswin tak pernah melupakan sosok Ibu Guru yang satu ini.
Kami hanya mengangguk mendengar sabdanya. Semua itu memang benar. Tiba-tiba dari dalam keluar sosok cewek membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Dia imut, berkulit putih dengan wajah khas remaja.
“Eh, kenalkan Win, ini anak ibu. Masih SMA,” ujar Bu Rinda dengan tersenyum. Aswin mengangkat alisnya sedikit kaget. Namanya Tiara. “Kaget ya? Saya memang dulu menikah muda. Umur 24 sudah menikah, lalu punya anak,” jelasnya.
“Ibu bisa menebak usia kamu, kalau dulu kamu usia 14 tahun berarti kita selisih 13 tahun. Jadi usia kamu sekarang 27?” Mata perempuan itu berbinar seakan tak percaya bahwa anak didiknya yang dulu masih remaja, sekarang sudah dewasa. “Tak terasa ya, waktu cepat berlalu,” ujarnya sambil memandang kami satu persatu. Dan saat memandangku seolah matanya bertanya, “Ini siapa, Win? Pacar kamu?” Aku hanya tersenyum menatap matanya.
Dan aku ikut menebak usia bu Rinda sudah 40 tahun. Bu Rinda mengingatkan kembali bahwa dulu Aswin selalu berkonsultasi perihal ibunya. Bahkan ibunya pernah berlaku parah sampai berhalusinasi, bicara sendiri dan tidak bisa mengontrol emosinya. Pernah sampai melempar piring berujung pecah berkeping. Aswin sering memberikan obat-obatan khusus dari Psikiater dan pernah juga dilakukan CBT (Cognitive Behaviour Therapy) atau Terapi Perilaku Kognitif.
Aku melirik Tiara yang hanya diam, kadang ikut tersenyum penuh arti mendengar cerita ibunya. Aroma suasana pagi itu sangat kekeluargaan dan menghangatkan hati layaknya berkumpul semua anggota keluarga. Dan beberapa menit kemudian kami pun berpamitan kepada Bu Rinda. Aswin mencium punggung tangan perempuan itu dan aku pun mengikutinya. Tidak heran Bu Rinda dianggap ibu sendiri, karena memang sosoknya selemah-lembut itu sekaligus merangkul seperti anak sendiri. Setiap kata yang diucapkan sangat keibuan.
Menjelang siang yang tak terlalu panas, kami mampir sejenak duduk di alun-alun Kota Malang yang lumayan ramai. Kami terdiam memandang lalu lalang orang-orang yang sedang duduk bersantai bersama keluarga dan anak-anak mereka. Menyenangkan sekali melihat masa kecil anak-anak yang masih balita itu. Ada yang bermain bola plastik, foto-foto bersama, ada juga yang sedang makan es krim berdua, dan kami membayangkan masa kecil masing-masing.
“San, aku pengen tahu cerita tentang sosok ayahmu,” Aswin bersandar di sebuah kursi coklat berukir di sebelah kiriku.
“Ketika Pak Arif meninggal, setahun kemudian ibu menikah lagi dengan ayahku namanya Pak Benny dan lahirlah Sanny Indira yang sedang bermimpi menjadi penulis,” jelasku sambil melirik Aswin yang sedang tersenyum. “Lelaki itu sangat menyayangi kami. Tapi sayang saat aku masuk SMP, ayah meninggal karena sakit komplikasi. Tak banyak yang bisa aku ceritakan, Win. Aku tetap bersyukur, dia memberikan asuransi pendidikan kepadaku. Tapi tak banyak, karena ibuku juga harus bekerja keras untuk membiayai sekolahku. Aku pun juga harus bekerja,” jelasku. Aku menarik napas panjang dan menyilangkan kakiku supaya lebih nyaman duduk.
“Kamu cewek paling hebat yang pernah aku kenal, San.” ucap Aswin sambil memegang dan mengelus jemariku. Sontak aku menoleh kepadanya. Dia tersenyum. Ada debar-debar aneh dalam dadaku. Apa arti semua ini?
Aku segera menarik tanganku perlahan, mengerutkan dahi, dan menatap matanya, “Hello, emangnya berapa banyak teman cewek kamu?” tanyaku tak percaya, lalu menggeleng.
“Ya banyaklah, tapi tahu nggak aku benar-benar ingin mendapat kesempatan seperti saat ini,”
Tidak, Win. Kesempatan apa maksudmu? Aku tidak mau bermimpi terlalu tinggi tentangmu. Ada tembok raksasa yang menghalangi kita. Kamu sadar nggak, sih?