Sebulan berlalu. Hawa sejuk bulan Maret memberikan aura bahagia kepada semua orang. Dan Aswin selalu memberikan kejutan-kejutan kecil saat mampir ke kafe malam itu. Sebuah notes yang tidak terlalu besar. Di cover yang berwarna abu-abu tua itu, tertulis kalimat berwarna putih Always be Grateful. “Aku belum ulang tahun, Win!” Aku mengangkat alis takjub! Tentu ada aura bahagia di mataku meski menyimpan sejuta tanya pada pemberiannya.
“Siapa bilang ini hadiah ulang tahun? Iseng aja,” ucapnya datar.
APA? Buru-buru aku mengucap terima kasih dan mengingatkan dia untuk segera pulang dan menjaga ibunya. “Katanya kemarin nggak enak badan, ya?” ucapku sambil melihat jam di tangan pukul 20.30. Dia pun mengangguk bahwa aku harus kembali bekerja, kemudian dia meneguk sekali lagi kopi di depannya yang sudah dingin.
Sesampai rumah, Aswin melihat Bu Sinten sedang duduk santai di ruang tamu di rumahnya. Si Wajah Sendu itu langsung masuk rumah dan bersiap istirahat setelah mengecek pekerjaannya. Terdengar Bu Sinten berpamitan.
“Win, kamu sudah tidur?” panggil ibu dari ruang depan.
“Belum. Ada apa, Bu?” Perempuan itu menyuruh Aswin ke ruang tamu. Aswin menghampiri ibunya.
“Tahu nggak, setiap kamu nggak ada di rumah, ibu selalu menelpon Bu Sinten untuk sekadar menemani ibu biar tak kesepian. Dia orang baik. Katanya sih dia punya anak perempuan seumuran kamu. Kamu mau berkenalan dengan dia?” Wajah ibu penuh harap.
Raut muka Aswin berubah sedikit kesal. ”Apaan sih, Bu. Ibu mau menjodohkan aku?”
“Ibu ingin membalas budi ke dia,” tambah ibu.
“Jodoh itu bukan perkara balas budi, Bu. Perkara sehati dan sejiwa,” protes Aswin.
“Tapi dengan apa ibu harus balas budi?” cecar ibu, membuat Aswin kalang kabut mencari jawaban yang tepat.
“Ya… banyak cara lain,” Aswin sedikit bingung mencari jawaban. “Misalnya membalas dengan bersikap baik padanya,”
“Tapi ini cara terbaik, Win!” Suara perempuan itu mulai meninggi.
“Aku nggak kenal dia, Bu!”
“Ya makanya berkenalan dulu, apa susahnya?” Perempuan itu masih mengejar persetujuan Aswin padahal wajah Aswin sudah kaku dan terlihat tidak suka dengan sebuah pemaksaan berkedok balas budi.
“Oke, lalu apa? Harus pacaran? Nggak bisa, Bu!” Lelaki tegap itu mendengus kesal. “Aku sudah dekat sama seseorang!” elak Aswin.
“Siapa? Sanny? Buat apa kamu dekat sama dia? Buat apa kamu dekat sama anak pelakor? Perempuan itu yang membuat ibu sakit hati bertahun-tahun!” ucap Bu Ratih seperti tembakan mematikan. Aswin tergagap mendengar kata-kata yang keluar dari ibunya. Baru kali ini lelaki itu mendengar emosi ibunya meledak berkaitan dengan pilihan hatinya. Padahal sebelumnya tak pernah ibu menolak apa pun yang dilakukannya; baik tentang pilihan pekerjaan, dokter yang merawat ibunya dan lainnya.
Anak pelakor? Seburuk itukah Sanny, sampai harus membawa beban kesalahan ibunya?Aswin terdiam beberapa saat. Matanya tiba-tiba terasa perih dan tenggorokannya terasa pahit. “Aku nggak mau hidup di masa lalu terus-menerus, Bu! Aku mau menatap masa depan,”
“Kamu sadar nggak, justru dia bisa merusak masa depanmu!” ujar perempuan itu masih dengan nada tinggi.
“Kenapa ibu pesimis sama masa depanku? Aku yang menjalani hidup, bukan ibu!” protes Aswin dengan geram.
“Kau…kau melawan sama ibu?” mata perempuan itu menyala.
“Aku tidak pernah melawan ibu. Aku anak yang penurut dari kecil, Bu. Tapi ibu lupa kalau aku sudah umur 27? Aku sudah bisa menentukan jalan hidupku sendiri,” ucap Aswin dengan nada lebih rendah. “Aku sudah bisa memilih mana yang cocok buat aku, mana yang enggak,” ucap Aswin dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya dia tak sanggup menjawab pertanyaan perihal “melawan” orangtua. Sebab dia menurut saja apa pun yang ibunya katakansejak kecil. Mata yang membasah itu seolah mengucap beribu maaf kepada sosok yang melahirkannya. “Maafkan aku bu, kalau kau anggap aku telah melawanmu.”
Perempuan itu terdiam, mencoba menata napasnya yang terengah. Sorot matanya sudah tidak terlalu tajam. Terbayang wajah Bu Sinten yang berharap banyak bisa menjadi besannya. Dia bernapsu menjodohkan Gendis- anaknya sama Aswin.
*****
Dalam ilmu psikologi ada 3 jenis manusia; Philosophos – selalu mencari pengetahuan dan kebijaksanaan, Philonikon – sibuk mencitrakan diri, mencari nama, kehormatan dan status, dan Philokrematin- selalu mencari kesenangan. Jelas aku termasuk orang yang pertama. Selalu mencari pengetahuan lalu menjadi orang yang berusaha bijaksana meksipun pencarian ini penuh risiko yang membuat aku malah menuai kecewa. Tapi tidak apa-apa, bagiku kecewa itu biasa, mulai kecil sudah merasakan pahitnya kecewa karena menjadi anak yatim, bahkan sekarang kecewa dengan cerita nyata tentang ibu di masa lalu. Takdir memang tak bisa diubah tentang kematian dan bukankah sebuah kesadaran itu juga satu kebijaksanaan yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan bisa menghargai hidup.
Tiga bulan telah berlalu dan semua yang kuimpikan akan terwujud di depan mata. Ting! Ada pesan masuk di minggu pagi saat aku duduk santai setelah selesai mencuci baju.
Pesan dari Marketing Penerbit!
Novel “The Secret of You” sudah terkirim 5 eksemplar ke alamat anda dan novel sudah terkirim ke Toko buku di seluruh Indonesia.
Wah! Aku hampir meloncat saking girangnya mendapat pesan ini. Sudah nangkring di toko buku? Oh My God! Mimpiku jadi nyata hari ini. Mataku berbinar dan langsung menulis pesan untuk Aswin. “Mau nggak, antar aku beli kado? Pakai motorku aja.” Ya, beli kado hanya untuk alasan saja.
“Kapan?”
“Sekarang.”