Bu Wina membuka lembar halaman novel itu secara acak. Ada adegan perempuan berbaju merah yang sedang diusir oleh seorang perempuan. Dia mengerutkan dahinya dan kembali menata hatinya mengingat adegan yang pernah dialami bertahun lalu. Betapa hancur hatinya sebab kejadian itu tak disangka akan separah itu. Kata-kata sumpah serapah keluar dari perempuan bermata tajam dan menakutkan di depan matanya. Dasar pelakor! Dasar perempuan jalang! Tak tahu diri!
Mengapa kau mengingatkan aku kepada adegan yang sangat menyakitkan ini? Meskipun lelaki itu diusir dari rumahnya, tapi tetap dia tak melupakan tanggung jawabnya menafkahi anak laki-laki semata wayangnya.
“Wina, dari awal aku paham pada risiko yang paling buruk ini akan terjadi,” ujar Ahmad kala itu.
“Tapi aku berharap istrimu mengerti dan akan ada diskusi secara dewasa. Tapi kenapa jadinya begini?”
“Sudahlah, kalau ternyata dia tidak terima dan ingin bercerai, ya tidak apa-apa. Kita bisa menikah di KUA saja,” ujar lelaki itu singkat dan padat.
Darimana kau tahu semua ini, Sanny? Mengapa cerita di novel ini begitu gamblang tergambar seolah semua adalah kisah nyata yang kau alami sendiri?
Menjelang siang aku pulang dari Rumah Sakit dan mendapati ibu yang sedang bersantai di ruang makan. Terlihat novel The Secret of You ada di atas meja makan di samping cangkir teh hangat. “San, kamu kemarin kok pulang cepat, sih? Kan ibu masih kangen?” ujar ibu dengan wajah datar, padahal aku tahu wajahnya seperti habis menangis.
“Ya kan ada teman Nancy yang sakit, makanya buru-buru.” Ada sesuatu yang membuat hati tidak enak melihat bukuku tergeletak disana. Aku mengambilnya. “Eh, ibu sudah baca buku ini?” tanyaku ragu. Tapi aku yakin ibu sudah membaca.
“Sedikit di bagian depan saja. Kenapa? Ibu boleh beli, kan? Buat bacaan di rumah kalau lagi nganggur,”
“Bawa aja. Nggak usah beli,” jawabku datar. Padahal dalam hati ada gejolak membara yang ingin aku luapkan kepada ibu. Tapi aku tak sanggup karena kondisiku yang sedang capek.
“Nggaklah. Karya anak ibu harus dihargai dong. Ini ada uang cash di dompet.” Ibu mengambil dompet berwarna cokelat dan mengeluarkan uang seratus ribuan. “Bawa saja buat beli bensin.” ucapnya dengan sorot mata yang tidak biasa. Dia menelan ludah seperti ingin mengucap sesuatu tapi diurungkan.