The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #24

Chapter 23: Mengaku Kalah

Samar kudeberkali-ali ngar ponsel berbunyi di kamar. Sekali, dua kali berdering, lalu mati. Entah siapa yang menelepon aku tak beranjak mengangkatnya. Aku masih sibuk sendiri menghapus sisa-sisa air mata.

Berikutnya duduk di kursi dan mengambil segelas air putih, kutaruh di depan ibu. Kemudian aku mengambil air untuk diriku sendiri. Ponsel berdering lagi. Kuambil ponsel dan kulihat ada nama Nancy. Dia mengabarkan kalau sedang di Rumah Sakit. “Ibunya Aswin meninggal,” ujarnya datar.

 HAH? Innalillahi…Sontak aku menutup mulut. Mataku meremang mendengar kabar itu. Ibu bertanya ada apa, dan kujawab bahwa ibunya Aswin meninggal di Rumah Sakit. Aku baru sadar bahwa yang berkali-kali menelepon barusan adalah Aswin.

  Siapa Aswin?” Ups, kenapa aku bilang Aswin?

 “Temanku,” jawabku ragu.

 “Kamu mau ke Rumah Sakit sekarang? Ibu boleh ikut?” Kalau nadanya begini, bukan terdengar seperti pertanyaan tapi permintaan yang harus segera dikabulkan. Jelas aku tak bisa menolak permintaan orang yang telah melahirkan aku. Aku menarik napas berat, lalu terpaksa mengangguk.

 Aku naik motor berboncengan dengan ibu sekitar 25 menit karena kondisi jalan sedikit macet. Sesampai di koridor Rumah Sakit, aku langsung memperkenalkan ibu kepada Aswin. Tiba-tiba cowok bermata sendu itu bersujud di kaki ibu. Aku dan ibu tersentak melihat adegan itu. “Maafkan ibu saya, Bu. Maafkan ibu saya,” ucap Aswin terbata-bata lalu terdengar isak tangis yang menyayat. Sementara di dalam kamar sedang mempersiapkan kepulangan Bu Ratih.

  Ibu hanya terpaku pada apa yang dilakukan Aswin. Perempuan itu berusaha sekuat tenaga menarik napas panjang yang seketika berubah menjadi sesak. Untung saja dia tak punya penyakit jantung. Kalau punya, entah apa yang terjadi. “Kamu siapa? Bangunlah,” ucap ibu lembut. Perempuan itu mengangkat lengan Aswin. Sementara Nancy di belakangku juga ikut terpaku melihat kejadian ini. Cewek itu bingung dengan apa yang telah terjadi di hadapannya.  

  “Saya anaknya Bu Ratih, Bu. Maafkan kelakuan ibu saya, supaya dia bisa meninggal dengan tenang,” ucap Aswin dengan mata memohon, lalu menunduk dalam. Mata dan pipinya masih basah.  

   Beberapa detik ibu terdiam, lalu, “Ya, saya maafkan. Tapi hukum di akhirat tentu akan tetap berjalan,” ucap Ibu datar dan terdengar bijak. Aswin langsung mencium tangan ibu. Kemudian aku menghambur memeluk erat perempuan sabar itu dengan pipi yang telah basah oleh air mata. Lalu bergantian aku memeluk Nancy dengan perasaan haru yang membuncah. Aku sama sekali tak menyangka moment tangisan ini akan terjadi secepat ini. Tuhan memang tak pernah salah menakar waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Segala yang tercerai berai pun akan kembali bersatu.

Lihat selengkapnya