Masa liburan sudah masuk minggu ke dua, dan kembali bekerja di kafe Melodius adalah hal terbaik untuk menghibur hati yang sedang hangus. Malam itu tak terasa sudah pukul 20.05 dan terlihat Aswin memasuki kafe dengan membawa laptop kesayangannya. Aku ingat tadi sore dia mengirim pesan I miss you padaku dan aku tak membalas sama sekali. Aku sudah tak punya hati dan rasanya jemariku tak punya daya untuk membalas pesannya. Tidak punya harapan karena ibu sudah tak memberi ijin dekat dengan cowok bermata sendu itu. Percuma memaksakan diri memberi makan ego. Hari gini, masih adakah anak menginjak dewasa tapi masih menurut apa kata orangtua? Dan faktanya aku masih tergolong cewek kolot yang masih mau-mau saja mendengar kata orang tua. Itu kata teman-teman yang sebagian besar sudah punya prinsip sendiri-punya jalan sendiri menuju tujuan hidupnya.
Aku mendekatinya, dan ya Tuhan, aroma tubuhnya sungguh membuat aku ingin memeluknya. Jujur aku rindu sorot matanya yang sendu, dan ingin sekali mengelus kelopak matanya. Kalau aku ditanya, bagian tubuh mana yang membuat aku jatuh cinta padanya, jelas kedua matanya yang selalu terkesan misterius. Anak sekarang bilang, dia tipe cowok green flag. Cowok baik-baik yang membuat semua orang respect. Setelah aku menyapanya, dia memesan Moccacino. Dan sebelum aku berbalik ke dapur, dia ingin ngobrol sebentar di teras depan. Aku pun bicara sebentar dengan Fanny-rekan kerjaku, ijin bicara penting sebentar. Dia mengangguk dan kemudian aku mengikuti Aswin ke depan.
“Kenapa pesanku nggak dibalas?” tanyanya to the point yang membuat aku kelabakan.
“Kupikir sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Win. Tak ada harapan.”
“Kenapa?” tanyanya lagi tidak terima.
“Kau pikir ibuku mengijinkan aku dekat sama kamu? Jelas nggak mungkin,” omelku beraroma jengkel, tapi tak sanggup menatap matanya. Karena kalau aku memaksakan diri, aku pasti bisa nangis kalau tak ingat aku sedang berada di kafe. Tak mungkin aku bekerja sambil mengeluarkan air mata. Aku menarik napas berat, “Dan kupikir kamu harus belajar melupakan aku dan mulai dekat sama Tiara,”
“Tiara? Ada apa sama Tiara?” Aswin langsung menoleh padaku karena tiba-tiba tanpa sadar aku menyebut nama gadis SMA itu.
“Nggak usah kaget. Santai saja. Aku tahu kok Tiara suka banget sama kamu. Tak ada salahnya kamu mencoba memberi kesempatan dia,”
“Ngomong apa sih kamu? Kesempatan apa? Kenapa kamu jadi aneh?”
“Nggak ada yang aneh kok, Hari gini nggak aneh ada cewek yang main ke rumah cowok dan menyatakan cintanya. Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, cewek dipingit menunggu jodoh datang. Sekarang zaman cewek bebas mengekspresikan diri. Aku salut sama dia,” Aku nyerocos di depan cowok itu dengan dada naik turun.
“Kamu tahu dari mana?” Dia mulai melunak dan sepertinya dia berharap aku menceritakan semua. Kujawab tak sengaja mencuri dengar obrolannya dengan Tiara beberapa waktu lalu. Dia tersenyum tipis.
Cup! Dia mencium pipi kiriku. Mataku melotot. Aku tersentak tak percaya. Kok bisa kamu seberani ini sama aku? Ini di depan kafe lho. Banyak orang!
“Tapi yang ada dalam hatiku cuma satu cewek. Cuma dia yang mampu mencuri hatiku. Bahkan sudah kuberikan dengan suka rela padanya. Aku nggak bisa kemana-mana lagi.”