The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #27

Chapter 26 : Undangan

BAB 26: undangan 

 

 Setelah kejadian ibu datang ke rumah menjelaskan semua kebenaran yang sesungguhnya, aku menginap ke kosan Nancy. Rasanya aku butuh teman untuk berbagi kepiluan. Nancy tentu saja menerima ceritaku apa adanya.  

Kebetulan sore itu Nancy di kamar mandi dan aku segera mengirim pesan ke Aswin bahwa kita memang tidak akan bisa jalan bersama. Kita adalah kakak adik. Kuketik pesan di aplikasi WhatsApp,

 Kita memang ditakdirkan bertemu, Win. Tapi bukan untuk bersatu. Aku hanya salah satu penganut sebuah quotes dari Nicholas Sparks: You Know It When You Find It. Pada akhirnya kita akan menemukan jati diri kita kok, dengan berbagai cara. Dan aku telah menemukanmu, kakakku Aswin Si Mata Sendu dan Si Mahal Senyum. Aku nggak tahu kenapa nasib kita begini ya. Ya, kita bisa bertanya kepada Sang Pembuat Skenario Hidup.”   

Aku mengirim pesan panjang lebar kepada Aswin dan dia mengerti.

“Terima kasih kau telah berjuang sejauh ini untuk membuka sebuah rahasia besar tentang diri kita. Kau tahu San, aku ingin memelukmu sekarang sebagai kakak adik, tapi kamu memilih untuk hanya mengirim pesan di sini,”

Tulisannya membuat hatiku hancur. Justru itu aku tak mau, perasaan dalam hati kita masih diliputi rasa yang berbeda. Biarkan rasa ini melayang untuk sementara, tak usah kita bertemu dulu.  

“Aku menangis sendiri, San. Aku tak punya teman untuk bercerita,” balasnya. Kembali membuat hatiku tersentuh.

“Kita bersaudara, Win. Nggak ada yang bisa memisahkan kita. Jangan dulu ke rumah, ya. Seminggu ini aku menginap di kosan Nancy. Bye.” Aku menutup ponsel dengan hati gundah setengah mati. Pipiku masih lembab karena air mata yang masih belum reda.

Nancy keluar dari kamar mandi dengan aroma harum sabun mandi, “Aswin sudah kau beritahu?”

“Sudah,”

“Gimana reaksinya?” Tatapan Nancy penuh tanda tanya.

“Ya nangis. Mau gimana lagi?” Aku menarik napas panjang.  

“Sabar ya, San. Kamu harus kuat. Aku akan selalu ada buat kamu.” ucap Nancy sambil mengelus punggungku. Aku mengangguk dan bersiap pergi ke kafe Melodius.

                                                           *****

Lihat selengkapnya