The Secret of You

Aulia Manaf
Chapter #28

Chapter 27: Ulang Tahun Tak Terlupa


Malam yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba, meskipun aku harus bertukar libur dengan salah satu teman di kafe Melodius. Rumah sudah dihias dengan semarak oleh Nancy dengan banyak bunga matahari di sana-sini. Tentu bunga artificial. Super assistant yang sangat baik itu selalu memberi suprprise ketika ultahku tiba. Rasanya terharu mendapatkan sahabat sebaik dia. Meskipun kadang kita tak selalu baik-baik saja, tapi justru itu yang membuat aku selalu rindu sama dia kalau sehari tak bertemu. Kangen celotehnya yang random dan keanehan tingkahnya yang selalu bernyanyi keras dengan gerakan-gerakan anehnya.

Catering sudah dipesan dan sudah datang sejak 15 menit yang lalu. Makanan dengan berbagai menu sudah tersedia di meja makan. Juga minuman es buah, kopi, es teh sudah siap menyambut tamu.

“Hei, kamu bawa kado apa?” tanyaku pada Nancy yang malam ini datang dengan penampilan spesial. Dress hitam dan kalung Mutiara yang cantik. Rambutnya sebahu digerai anggun. Padahal biasanya tampil gaya tomboy, perpaduan atasan hem kotak yang digulung sampai siku dan celana jins hitam atau krem juga tak lupa sepatu kets putih.

“Ada deh! Nanti kalau waktunya tiup lilin kamu harus tutup mata. Saat itu kadonya akan datang!” balas Nancy dengan tawa cekikikan. Aneh. Kado apa memangnya, pakai main rahasia-rahasiaan.

“Ah, sok misterius kamu. Awas lho jangan pakai nge-prank nyiram tepung, ya! Itu surprise jaman kerajaan Majapahit!” gertakku dengan nada bercanda.

“Idih, lawas amat jaman Kerajaan Majapahit? Emang dulu sudah ada acara ulang tahun?” ledek cewek itu sok pura-pura kaget. Tradisi seperti itu sudah tersebar luas di mana-mana, padahal tradisi menyiram tepung saat ulang tahun adalah tradisi orang Jamaika dari dulu sampai detik ini. Tapi aku tak setuju dengan prank itu kalau masih dilakukan disini. Apalagi kalau yang ulang tahun sudah dandan cantik atau ganteng pasti langsung bete dan geregetan kalau ditabur tepung.

Aku tersenyum melihat Nancy yang malam ini terlihat sangat bahagia. Aku pun mencoba untuk membuat malam ini menyenangkan buat teman-teman dan sahabat tercinta. Meskipun dalam hati kecil masih menyimpan sakit yang teramat dalam, sosok Aswin tak bisa aku lupakan begitu saja dalam waktu singkat. Sudah sekitar 9 hari aku tak bertemu dia sejak ibu cerita tentang foto lawas itu.

 Undangan makan malam ini tertera pukul 19.00. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan 19.30. Aku duduk santai di ruang tamu menunggu undangan yang datang. Sudah ada beberapa kursi yang tersedia di teras untuk tamu yang ingin bersantai di halaman depan.

Lagu-lagu dari aplikasi musik diputar dengan volume tidak terlalu keras hanya bertujuan untuk menyemarakkan suasana. Fix You dari Coldplay membahana di ruang tamu:

Light will guide you home, and ignite your bones

And I will try to fix you…

Ah, lagu ini membuat aku melamun sejenak. Lagi-lagi Nancy yang bertanggung jawab pada pemilihan musik, tentu dia sangat paham lagu apa saja yang aku sukai. Dan terbukti dia memang benar-benar paham apa yang aku mau. Selain lagu-lagunya Coldplay, OASIS, dan Maroon Five, juga lagu-lagunya DEWA, Sheila on 7, Raisa, GIGI, dan band lainnya sudah antri bersenandung.

Tiba-tiba ada sosok yang tidak kuundang tapi muncul di depan pintu. Mataku mengerjap-ngerjap untuk memastikan pandanganku. Dia berpenampilan kasual dengan rambut rapi dan aromanya yang segar. Aku terbelalak dengan kehadirannya. Benar Aswin! Aku tidak sedang berrhalusinasi! Terdengar ada suara-suara cieee…cieee. Aku tersenyum kaku melihatnya. Aku segera mempersilakan masuk.

“Tuh, ada pangeran datang! Disambut, dong!” goda Nancy dengan mengedipkan mata genitnya. Uh, menjengkelkan sekali tingkah anak ini. Pasti ini ulah Nancy yang mengundang dia.

“Sorry aku undangan gelap,” katanya tersenyum manis. “Beneran boleh masuk? Kalau enggak boleh aku pulang,”

Lihat selengkapnya