Setelah semua pulang, termasuk Nancy, hanya tinggal ibu yang menginap di rumah. Aku menghampiri Aswin dan harus meluapkan segala tanya yang menggumpal di otakku dan ingin segera mendapat jawaban. Malam ini juga. Aku masuk ke dalam kamar dan mengganti dress ku dulu dengan kaos oblong dan jins hitam.
“Win, aku mau bicara,”
“Ya, aku tahu banyak pertanyaan di kepalamu,” ujarnya tenang. “Ada bangku panjang di depan rumah di bawah pohon cerry. Duduk disitu, yuk. Biar ada angin semilir,”
Aku setuju dengan idenya. Berharap oksigen yang mengalir dari angin bisa masuk dalam otakku yang beku. Aku mengikuti langkahnya menuju bangku kayu panjang. Aku duduk berdampingan sambil menatap jalan kampung yang lengang. Jam menunjukkan angka 21.05.
Kami berdua menata napas, “Takdir itu memang aneh ya. Perasaan kita tuh naik turun seperti roller coaster. Kadang happy, kadang pengen nangis dan teriak kayak orang gila,” ucap Aswin dengan pandangan menerawang.
“Iya, memang. Tapi aku nggak paham tentang ucapan ibu tadi katanya memberi kesempatan untuk saling mencintai. Maksudnya apa? Bukankah kita adalah kakak adik…?” jelasku menoleh ke arah mata Aswin. Dahiku berkerut menuntut penjelasan. Tapi kulihat matanya sangat tenang. Bagaimana mungkin sinar matanya setenang danau tanpa riak ombak?
“Semua ini tentang takdir, Sanny,” Dia mengenggam tanganku. Debar jantungku mulai tak karuan.
“Takdir apa?” Aku masih tak mengerti sebaris kalimatnya.
“Kita ternyata bukan kakak adik,”
“Maksudnya?”
“Kejadiannya kemarin malam setelah selamatan 40 harinya ibu. Budheku cerita banyak,” ujarnya menerawang.
Aku mendengarkan ceritanya dengan cermat.
“Aku duduk di ruang tamu dengan wajah kuyu kelelahan ditemani Budhe. Aku menyandarkan punggung dengan sedikit melorot lalu menarik napas panjang. Perempuan paruh baya berjilbab biru yang mirip ibu itu, duduk berhadapan denganku. Waktu itu jam sudah menunjukkan 20.35.”
“Win, ada satu hal yang ingin Budhe ceritakan ke kamu,” ujar perempuan itu dengan wajah serius. Aku langsung duduk tegak sebab penasaran dengan apa yang akan dikatakan budhe. “Ini penting,” tambahnya.
“Tentang apa, Budhe?”
“Ibu kamu,”
“Warisan ibu?” aku berusaha menebak.
“Kamu tahu apa pesan ibumu sebelum meninggal? Waktu di Rumah Sakit, kamu disuruh keluar kamar sebentar, kan. Nah, Budhe diberitahu bahwa…,” Perempuan itu menjeda kalimatnya.
“Kenapa?”
“Ibumu bilang, nanti setelah 40 hari meninggal, tolong sampaikan ke Aswin rahasia ini. Bahwa Aswin bukan anak Ahmad Arif,” jelas Budhe dengan terbata-bata mungkin takut aku langsung emosi mendengarnya.
“Hah? Kok bisa? Tapi Budhe sebenarnya sudah tahu sebelumnya?” tanyaku sambil memajukan badan. Dunia terasa langsung berhenti mendengar berita ini. Antara kaget dan tak percaya membuat otak dan badan membeku dan mulut terbuka. Perempuan itu pun juga tak bisa berkata-kata beberapa saat. Sebab sepanjang usiaku sampai sekarang 27 tahun, aku menganggap bahwa Ahmad Arif adalah ayahku. Bukan siapa-siapa. Dan bisa dibayangkan bagaimana perasaanku yang melayang saat mendapati kenyataan bahwa jati diriku tiba-tiba berubah dalam separuh jatah hidupku di dunia ini. Kejutan apa lagi ini ya, Tuhan?
Beberapa saat kebisuan melanda ruang tamu itu. Kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Budhe menebak-nebak apakah aku akan marah atau tidak. Sedangkan aku tak habis pikir mengapa ibu tak mau berterus terang atas jati diri yang sebenarnya? Mengapa harus ditutupi sampai akhir hayatnya?
“Lalu saya anak siapa, Budhe?” Akhirnya pertanyaan itu yang meluncur dari mulutku. Sebuah pertanyaan yang pasti sudah siap dijawab sama Budhe.
Perempuan itu menarik napas panjang, lalu mulai bercerita,”Sebenarnya ceritanya panjang, Win. Tapi Budhe singkat saja karena ini sudah malam, kamu pasti capek,” ujarnya.
Tidak ada yang capek kalau menyangkut soal jati diri.
“Waktu itu ibumu sudah punya pacar dan terlanjur hamil. Tapi, ternyata pacarnya pergi entah kemana tanpa ada tanggung jawab. Ibumu depresi dengan masalah itu dan datanglah Ahmad yang datang bagai malaikat penolong. Ibumu bilang, dia lelaki yang sangat baik. Dia berjanji segera menikahi ibumu sekaligus akan menutupi segala aib keluarga besar kita. Ibumu sangat bahagia dengan pernikahan itu. Kami keluarga besar pun senang dengan Ahmad yang mampu menunjukkan keseriusannya menjalin hubungan dengan ibumu. Dia juga berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab kepada istri dan anak yang dikandung.”
Budhe menarik napas panjang untuk mengumpulkan tenaga demi bercerita tentang fakta-fakta yang dulu pernah terjadi. Aku mendengarkan dengan penuh haru dan dada berdebar.
“Kemudian kamu pun tahu cerita selanjutnya, kan? Saat malapetaka itu terjadi, kamu masih kecil. Ahmad selingkuh dengan perempuan berbaju merah itu. Kamu tahu sebabnya mengapa ibumu sangat marah sama mereka. Yang kau anggap ayahmu itu telah ingkar janji. Katanya setia dan bertanggung jawab sampai mati, tapi kenyataannya dia tak puas dengan satu istri. Itulah yang membuat ibumu sakit hati dan depresi lagi. Dia sering berteriak tidak jelas sampai membuat tetangga terganggu dan akhirnya kita pindah ke Malang.” Cerita Budhe menjadi lebih utuh terdengar di telingaku.
Aku terpaku, masih belum bisa berkomentar. Kuambil air putih segelas dan langsung tandas. Tenggorokan yang kering kini terasa lebih nyaman. Fakta yang tidak mengenakkan di masa lalu ternyata beberapa menit kemudian terdengar lebih indah di telinga.
Aku menelan ludah. “Berarti aku dan Sanny bukan saudara kandung?” ucapku seperti bicara pada dirinya sendiri. Pandanganku menerawang mencoba mencari kesimpulan.